Pakailah Waktu Anugerahmu

Ketika sedang duduk menantikan acara perayaan Natal Sekolah Minggu GPIB Pancaran Kasih Bajem 1 Sinar Kasih di Gereja Mahanaim Cilodong pada hari Minggu 12 Desember 2010 salah seorang Pendeta jemaat mengajak saya untuk pergi membesuk. Ibu Pendeta itu mengajak saya membesuk isteri dari seorang rekan sepelayanan yang sedari kemarin dirawat di sebuah rumah sakit di bilangan Kampung Melayu. Sayapun langsung mencari isteri yang sedang bersama dengan anak Joe untuk memberitahukan ajakan ibu pendeta tersebut sembari menyerahkan tas istri. Selain saya bersama dengan ibu pendeta dan suami seorang anggota majelis lain turut pula dalam satu kendaraan dengan kami. Perjalanan relatif lancar tanpa kemacetan sama sekali. Sepertinya Tuhan mengijinkan rencana kami hari itu. Tepat tengah hari kami tiba di rumah sakit yang dituju. Pada waktu akan memasuki lift terlihat 3 orang petugas berseragam safari warna biru donker menanyakan siapa nama pasien yang akan dikunjungi. Oleh karena tidak mengetahui persis nama kecil dia sayapun menghubungi suaminya yang kebetulan sedang kembali kerumah. Usai menyebut nama pasien petugas keamanan wanita mencari nama isteri rekan majelis dalam list pasien yang dipegangnya. Setelah ditemukan kami pun diperbolehkan masuk dengan arahan menunggu di ruang tunggu lantai 5. Sesampainya diruang tunggu saya menghubungi salah seorang anak dari rekan majelis itu sebab dia tak berada dilantai 5. Sambil menunggu saya mengajak ibu pendeta dan suami bersama seorang rekan majelis yang ikut dengan kami turun ke lantai 4. Sebenarnya ruang ICCU itu memang berada di lantai ini. Kami mencoba menghubungi perawat diruangan. Namun dikarenakan salah dalam penggunaan airphone maka tak tersambung. Saya lantas mengulang lagi dan Puji Tuhan tersambung dan dapat berbicara dengan perawat ruangan. Akan tetapi dalam percakapan tersebut suster yang menerima panggilan meminta kepada saya untuk menunggu sekitar 10 hingga 15 menit. Itu mesti dilakukan sebab pasien yang akan kami kunjungi sedang diberikan terapi dan pergantian posisi tidur. Sayapun menyetujui menunggu terpenting bagi saya alasan kami untuk meminta masuk karena akan mendoakan pasien bersama seorang pendeta. Saat menunggu di depan lift lantai 4 saya menghubungi anak perempuan rekan majelis yang ibunya sedang dirawat. Iapun menginformasikan akan segera menjumpai kami. Selang 10 menit berlalu rekan majelis yang ikut besuk menghubungi lagi perawat ruang ICCU. Tak berapa lama suster itu membuka pintu kaca. Kami berempat bersama dua orang saudara dari Manado dan 2 orang rekan pasien berjalan mengikuti suster dari belakang menuju ruang tempat dimana isteri majelis ini dirawat. Dari sekian pembesuk hanya saya yang mematuhi anjuran suster untuk mencuci tangan terlebih dahulu sebelum masuk kesebuah ruangan berkaca polos. Dari pintu kaca terlihat disebelah kanan pasien sebuah monitor. Pada ujung jari kanan ibu asal Manado ini sebuah alat seperti jepitan jemuran pakaian menjepit jempolnya. Sedangkan pada mulutnya sebuah selang terpasang. Ibu paruh baya ini terdengar sedang mendengkur. ”Baru hari ini ia ngorok” kata putri sulungnya menginformasikan kepada kami diruangan. Setelah memeluk dan menciumi ibu pendeta lantas mengajak kami menyanyikan lagu Slamat Ditangan Yesus sebelum berdoa. Doa permohonan pun tak lama diucapkan. Usai kata amin diucapkan, putri pertama yang menemani kami mengambil tisu didekatnya seraya berucap ”Mama menangis” sambil menyeka mata ibunya yang terbaring tak sadarkan diri. Melihat adegan seperti itu dalam hati saya merasakan kesedihan. Meskipun ia tak sadarkan diri namun masih mendengarkan suara doa kami. Saat itu yang ada dalam pikiran saya hanya merasakan betapa kecil manusia dihadapanNYA. Ketidakberdayaan manusia pada saat seperti itu membuktikan bahwa kita ini bukan apa dan siapa. Bersyukurlah kita kepada Tuhan kalau hingga saat membaca tulisan ini masih diberikan nafas kehidupan. Pakailah waktu anugerah kita untuk sesuatu yang bermanfaat tak hanya bagi sesama diri sendiri dan terutama sekali untuk Tuhan. Selagi nafas kita masih dalam raga mari memuji memuliakan Tuhan senantiasa.

Iklan

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok, Ambon

Posted on 13/12/2010, in Pelayanan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: