Pengorbanan Tergerus

Sejak kemarin Selasa 16 Nopember 2010 umat keturunan Ismael merayakan hari Idul Adha. Hari raya yang dikenal juga dengan hari kurban ini ditandai dengan pemotongan hewan kurban. Bisa sapi dapat pula kambing. Jadi seantero jalan, kampung dan rumah ibadah banyak sekali pemandangan pemotongan kedua jenis binatang itu. Memang terdapat perbedaan prinsip disini. Umat Kristen mengimani yang dikorbankan Abraham adalah Ishak sementara umat Muslim mempercayai bahwa yang dikurbankan Ibrahim adalah Ismael. Tak usah memperuncing perbedaan. Ambil saja persamaannya meski dalam penyebutan namanya berbeda. Abraham dan Ibrahim. Satu yang pasti bahwa Abraham adalah Bapak orang beriman dan dia rela mengorbankan anak kandungnya sendiri untuk diberikan kepada Tuhan.
Adanya perbedaan secara iman bukan suatu hal yang akan diangkat disini. Namun bagaimana sebuah pengorbanan terus menerus mengalami kemunduran hal itulah yang mesti dijadikan sebuah pemikiran. Berabad lamanya pengorbanan sedikit demi sedikit mulai bergeser. Sewaktu jaman kolonial banyak sekali pengorbanan yang dilakukan oleh para pejuang Kemerdekaan. Mereka adalah pahlawan yang mempertaruhkan nyawanya untuk negara dan bangsanya. Pejuang yang rela memberikan apa yang satu satunya dimiliki patut diacungi jempol. Sebut saja Pangeran Diponegoro, Cut Nyak Dien, Jenderal Sudirman. Mereka semua tanpa pamrih memperjuangkan kemerdekaan rakyanya dari bangsa penjajah. Suatu hal yang takkan pernah dijumpai pada masa kini bagaimana mereka rela mengorbankan jiwa rawanya demi orang banyak. Untuk kemerdekaan bangsanya.
Setelah era perjuangan dalam rangka merebut kemerdekaan tak pernah lagi dirasakan, dilihat pengorbanan seseorang demi khalayak ramai. Apalagi berharap menemukan lagi arti pengorbanan seperti yang dicontohkan Abraham sudah sangat langka dan tidak akan pernah ditemui kembali. Malahan yang sering didapati ayah membuang anaknya. Seperti ceritera dari isteri seorang rekan driver kantor kami yang tadi siang kami jenguk, dimana ada seorang bayi penderita Hydrosefalus ditinggal kedua orang tuanya di sebuah rumah sakit Pemerintah. Dalam konteks lain pengorbanan juga tak lagi dilakoni oleh para pemimpin bangsa ini. Tak seperti Jenderal Sudirman yang melakukan perjuangan dan pengorbanan dengan mengedepankan kepetingan umum daripada kepentingan golongan atau pribadi. Mana ada lagi di masa kini hal seperti itu dijumpai.
Pengorbanan dari abad ke abad, tahun ke tahun, era ke era perlahan namun pasti mulai tergerus. Apalagi dalam dunia perpolitikan. Jangan ditanya lagi deh bagaimana carut marutnya. Untuk sesuatu hal kerap terjadi penuh dengan KKN. Siapa yang mempunyai posisi bargaining lebih tinggi atau besar maka kepentingannya yang akan dipenuhi. Satu yang pasti sama sekali tidak ada lagi pengorbanan. Pengorbanan tulus telah tergerus oleh kotornya politik kepentingan dan golongan.

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok

Posted on 18/11/2010, in Pelayanan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: