Kambing


Bila ditanyakan kepada diri kita sebuah pertanyaan, binatang apakah yang kerap dipakai sebagai vocabulary bahasa sehari-hari. Tak perlu susah kan untuk menjawabnya. Ya, benar. Jawabannya adalah Kambing. Umumnya, kambing mempunyai jenggot, dahi cembung, ekor agak ke atas, dan kebanyakan berbulu lurus dan kasar. Panjang tubuh kambing liar, tidak termasuk ekor, adalah 1,3 meter – 1,4 meter, sedangkan ekornya 12 sentimeter – 15 sentimeter. Bobot yang betina 50 kilogram – 55 kilogram, sedangkan yang jantan bisa mencapai 120 kilogram. Habitat yang disukainya adalah daerah pegunungan yang berbatu-batu.

Kambing sudah dibudidayakan manusia kira-kira 8000 hingga 9000 tahun yang lalu. Di alam aslinya, kambing hidup berkelompok 5 sampai 20 ekor. Dalam pengembaraannnya mencari makanan, kelompok kambing ini dipimpin oleh kambing betina yang paling tua, sementara kambing-kambing jantan berperan menjaga keamanan kawanan. Mereka aktif mencari makannya siang maupun malam hari. Makanan utamanya adalah rumput-rumputan dan dedaunan.
Namun apa yang ingin diketik hari ini bukan perihal Kambing dalam hubungannya dengan fisiologisnya.

Yang akan ditulis adalah bagaimana binatang berkaki empat ini sering digunakan dalam kosa kata sehari hari. Hal itu dipicu oleh kebiasaan kita menggunakan Kambing dalam peristilahan komunikasi sehari-hari. Kebiasaan itu muncul sebab kita sering menyebutkannya. Bila terjadi sebuah kesalahan kemudian tidak ditemukan siapa dalangnya maka akan dicari dan direkayasa siapa orang yang mesti bertanggung jawab atas kesalahan itu oleh sebab itu manusia sering mencari Kambing Hitam. Itu dilakukan guna menunjuk atau mengalihkan orang yang bertanggung jawab. Pikirnya daripada sama sekali tidak ada yang bertanggung jawab akan lebih baik menyalahkan orang lain dengan menunjuk Kambing Hitam. Padahal tidak semua kambing berwarna hitam kan ya. Akan tetapi itulah yang terjadi. Di masyarakat banyak sekali ”Kambing Hitam” apalagi dalam dunia perpolitikan. Wuih sering kali mereka mencari Kambing ini.

Selanjutnya istilah binatang berkuku genap ini juga sering di dengar pada kawasan Gunung Merapi. Masyarakat lereng gunung terakktif ini juga menghadirkan Kambing terutama sekali sewaktu mereka melihat setiap letusan yang dikeluarkan gunung yang dikunceni almarhum Mbah Marijan. Meski menggunakan kata dari bahasa Jawa namun arti kata yang terkandung sama persis dengan Kambing. Saat Merapi meletus kerap penduduk sekitar menyebutkan awan yang keluar dari perut gunung itu dengan sebutan “Wedhus Gembel”. Wedhus dalam bahasa Jawa memiliki arti Kambing. Bisa jadi karena awan itu bentuknya menyerupai seekor Kambing berjenggot, pakai tanduk maka penduduk lereng merapi sering menyebutkan itu. Karena bentuk awannya tidak bagus maka dikatakan Gembel. Oleh sebab itu kloplah bila semburan awan panas itu disebut Wedhus Gembel sebab rupanya yang menyerupai Kambing akan tetapi tak enak dipandang.

Sampai ketikan disini kita sudah memiliki 2 kosa kata terkait Kambing. Pertama Kambing Hitam ini yang paling populer. Kata kedua yang sedang ngetrend saat sekarang adalah Wedhus Gembel.

Tinggal satu kosa kata lagi ya. Ini dia nih rasanya yang akan sering dan tak hanya ditemui namun kerap dibaui. Aroma Kambing. Dalam kehidupan masyarakat sering menggunakan Kambing untuk menggambarkan aroma yang kurang enak manakala dibaui. Terutama ketika berbicara mengenai Bau Badan. Kosa kata yang sering digunakan adalah Ambune Koyok Wedhus. Entah mengapa aroma Kambing ini juga digunakan dalam kehidupan manusia guna menggambarkan aroma tak sedap. Aroma Wedhus di bulan Nopember 2010 ini akan sering tercium tak hanya Jabodetabek namun juga seantero jagad. Hal itu terjadi karena sebentar lagi umat Muslim akan merayakan Idul Adha dimana Kambing merupakan salah satu hewan korban yang siap disembelih. Akhirnya klop sudah 3 kosa kata yang dimiliki terkait Kambing. Kambing Hitam, Wedhus Gembel dan terakhir Ambune Koyok Wedhus. Duh kasihan deh tuh kambing.

Tapi banggalah duhai Kambing karena Kambing adalah Hewan yang digunakan untuk kegiatan Sakral Keagamaan. Jadi tetap semangat ya Kambing. Setidaknya dirimu lebih baik daripada Kerbau. Banyak dari mereka bersenang-senang hidup dikubangan dosa alias Kumpul Kebo.

Untuk teman-teman yang akan mengingat rayakan Idul Korban diucapkan Selamat Idhul Adha.

Iklan

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok, Ambon

Posted on 11/11/2010, in Umum. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: