Bilakah Kurasakan Kebahagiaan Itu Nanti ?

Sabtu 30 Oktober 2010 ada 2 pernikahan kudus berlangsung hari ini. Keduanya di lingkungan Bagian Jemaat Sinar Kasih. Satu pasangan yang menikah antara Pria Batak dengan Gadis Jawa sedangkan satu lagi Poso dengan Poso. Kebetulan untuk pasangan Batak dengan Jawa berada dalam Sektor saya. Tentu saja sebagai Majelis mesti melayani mereka. Sedari pukul sembilan pagi saya bersama dengan tiga orang rekan Majelis Sektor sudah siap dirumah pengantin wanita Jawa. Acara pagi itu biasa disebut Ketuk Pintu dimana mempelai pria menjemput mempelai wanita dirumah kediamannya. Pokok acara bila tak ada adat maka hanya doa penghantar pengantin berangkat ke gereja.
Setibanya di gedung gereja sebelum menerima pemberkatan nikah kudus kedua mempelai mencatatkan pernikahan mereka terlebih dahulu sehingga sah secara hukum negara. Waktu yang dibutuhkan tidak lebih dari setengah jam dilakukan oleh petugas Catatan Sipil kota Depok. Ruang konsistori menjadi saksi bagi mempelai berdua bersama keluarga dan majelis bertugas. Kekhidmatan acara singkat itu tak terganggu sama sekali meskipun pendingin udara diruangan tidak berfungsi sempurna. Mungkin pula akibat orang banyak dalam ruangan membuat rasa dingin berkurang. Ibadah berlangsung tepat pukul 11.00 WIB.

Saat ibadah memasuki tahapan Pemberkatan bagi kedua mempelai saya merasakan jantung berdetak kencang. Boleh jadi itu karena saya bersama tiga orang Majelis mendampingi Ibu Pendeta untuk menumpangkan tangan. Bagi saya prosesi penumpangan tangan bukan hal biasa. Ada rasa tanggung jawab juga muncul dalam diri. Apakah saya mampu menjadi berkat buat keduanya seraya memberikan contoh teladan kepada mempelai. Pertanyaan itu yang timbul dalam hati manakala tangan sedang ditumpangkan keatas kepala pasangan yang berbahagia hari ini. Tanggung jawab moral kuat saya rasakan pada saat itu. Itu cerita tentang Penumpangan Tangan. Hal kedua yang membuat hati ini terharu adalah ketika selesai ibadah diadakan session bakti mempelai kepada orang tua masing-masing. Pada sesi ini sepasang anak manusia berlainan jenis yang baru saja diteguhkan, memohon restu dari kedua orang tua mereka. Momen mengharukan terekam saat pengantin wanita sungkem di kaki sang ayah. Pembacaan syair oleh pelayan firman siang itu membawa suasana ruang ibadah hening. Nyanyian dari paduan suara dengan setengah suara menambah keharuan siang itu. Belum lagi cuaca mendung yang terlihat diluar melalui kaca ruang ibadah seolah melengkapi drama satu babak ini. Keharuanpun dimulai. Pengantin wanita menghampiri ayahnya. Peluk cium keduanya membuat tak disadari oleh mereka, dari kedua pipi tumpahlah air mata. Sang ayah terlihat membisikkan sesuatu ketelinga anaknya yang dikasihi. 27 tahun ia hidup bersamanya. Dan hari ini ia mesti melepas kepergian putrinya diboyong oleh pasangan hidupnya. Air mata terus mengalir dari kedua bola mata keduanya diiringi sayup alunan syair paduan suara pemuda. Setangkai bunga mawar warna putih terbungkus plastik transparan diserahkan mempelai seolah tak mampu menghalau keharuan. Mulai hari ini para orang tua melepas anak anaknya mengarungi bahtera rumah tangga. Hampir semua jemaat yang hadir merasakan keharuan siang itu tak terkecuali pendeta diatas mimbarpun terlihat menyeka air mata yang tumpah mengalir diwajahnya. Air mata kebahagiaan.

Hari ini saya memperoleh sedikitnya 3 pembelajaran. Tanggung jawab untuk menjadi contoh teladan dalam kehidupan rumah tangga itu hal yang pertama. Kedua, saya menyaksikan kebahagiaan orang tua ketika mereka melepas anak-anaknya mengarungi samudera rumah tangga. Dan terakhir saya menyaksikan sebuah bukti lagi bahwa kesukuan tidak lagi halangan. Kini bukan jamanya menghalang halangi anak manusia berlainan jenis untuk menyatukan cinta mereka. Semoga semakin banyak pernikahan antar suku. Akhirnya hanya ucapan terima kasih kepada Tuhan terucap dalam hati sebab memang Engkau sungguh baik dan sangat baik saya boleh memberikan penumpangan tangan dan menyaksikan momen kebahagiaan hari ini. Dalam hati terlintas pikiran bagaimana nanti saya dan isteri akan merasakan hal itu, bilakah TUHAN?

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok

Posted on 30/10/2010, in Pelayanan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: