Contohlah Mbah Maridjan

Gunung Merapi beraksi. Senin 25 Oktober 2010 salah satu gunung paling aktif didunia ini meletus. Letusan terjadi pada sore hari itu memakan korban cukup banyak. Awan panas yang menyembur ke udara mematikan hampir setiap mahluk hidup yang dilaluinya. Kebanyakan dari mereka meninggal akibat wedhus gembel yang bersuhu 700 derajat celcius. Warga yang tewas tak sempat menghindari awan panas itu. Diantara warga yang meninggal terdapat seorang lelaki berpakaian batik ditemukan didalam reruntuhan rumahnya. Dia sudah tak bernyawa. Saat ditemukan tim penyelamat sosok pria itu sudah kaku. Tubuhnya yang kaku terekam sedang bersujud layaknya orang melakukan sembahyang. Kontroversi lantas sempat beredar. Apakah jenasah yang ditemukan di sebuah rumah itu benar tokoh yang disegani di Dusun Kinahrejo atau bukan. Pihak rumah sakit bekerja keras melakukan pemeriksaan hingga tes DNA. Selang dua hari sejak penemuan jelas sudah siapa lelaki yang bersujud itu. Dialah seorang abdi dalem juru kunci Redi Merapi Mas Panewu Surakso Hargo alias Mbah Maridjan dinyatakan tewas. Kakek berusia 83 tahun itu meninggal dengan posisi sujud. Posisi itu seolah ingin memperlihatkan kepada kita siapa junjunganNYA. Dia meninggal dirumah kediamannya. Sepertinya sama sekali tak ada niatan untuk meninggalkan rumah sesentipun. Kesetiaan akan tugas dan tanggung jawab yang diberikan kepada dia dipikulnya hingga asa dikandung badanya hilang. Pergi bersama awan panas yang menghanguskan tak hanya rumahnya tetapi juga seluruh dusun Kinahrejo di lereng Gunung Merapi itu. Kepergian beliau memperlihatkan betapa ia lebih memilih tinggal bahkan hingga meninggal. Rupanya ia sama sekali tidak ingin dicap sebagai seorang penghianat. Dia melakoni apa yang biasa disebut dalam bahasa Jawa “Mergo wis saguh yo kudu lungguh sing kukuh ora mingkuh“. Semua masyarakat mengakuinya. Kematian Mbah Marijan setidaknya menyadarkan masyarakat Indonesia bahwa ternyata masih ada orang Indonesia yang memiliki jiwa ksatria seperti sosok beliau. Ditengah carut marut negeri yang didiami manusia rakus hadir seorang tokoh seperti Mbah Maridjan. Setidaknya membawa kita kesebuah kenyataan adanya profil yang rela menyerahkan nyawanya hingga tetes darah penghabisan. Sosok yang langka hidup di negeri ini. Dia tak lari seperti para koruptor yang makan uang rakyat. Ia tak bersembunyi dibalik ketiak para penguasa untuk menutupi dan bermain dengan kebusukan. Malahan justru beliau memberikan satu satunya harta yang dimilikinya. Kala Merapi mulai mengeluarkan awan panas mungkin saja sebenarnya dia bisa mengungsi, turun kedaerah yang lebih aman timbang bertahan dirumahnya. Akan tetapi justru bukan mengungsi yang menjadi pilihannya. Mental yang dipunyai tak sama dengan lelaki berdasi yang tidak memiliki kepekaan terhadap perasaan rakyat dengan rencana plesiran mereka. Bukannya mengayomi malah memateni.
Dibalik kematian Mbah Marijan yang dalam pemakamannya tak hanya dihadiri wakil dari Keraton dan Akademisi, setidaknya membawa pesan buat kita agar senantiasa setia dan bertanggung jawab atas tugas pekerjaan masing masing. Tangan Tuhan sedang merenda bumi Indonesia. Bukan tak mungkin ada maksud DIA kepada para pencuri uang rakyat dan terhadap negara serta bangsa ini. IA menginginkan pertobatan nasional bagi seluruh lapisan penguasa negara. Inilah saatnya bagi kita mengoreksi diri. Alam sepertinya tak ingin lagi bersahabat dengan kita. Mereka murka terutama pada saat melihat permainan kotor direpublik ini. Hampir segala segi dipenuhi oleh sutradara pengarah rekayasa kasus penyelewengan. Bencana Wasior, Gempa Mentawai dan Letusan Merapi yang terjadi sangat berdekatan hendaknya dijadikan titik balik bagi semua manusia agar kembali kepada hakikatnya sebagai mahluk ciptaanNYA yang mulia. Bencana yang terjadi di tanah air seyogianya membuat semua mawas diri. Bersiaplah sebab TUHAN akan datang segera.
Ucap syukur pada Tuhan dan terima kasih buat Mbah Maridjan teladanmu setidaknya membuat kehausan kami atas sosok panutan yang tak kami jumpai dalam diri pemimpin kita ditemukan ada pada dirimu. Tuhan pasti mengantarkanmu kepada tempat terbaik disisiNYA. Kepribadianmu adalah contoh bagi kami. Inilah akhir perjalanan seorang Surakso Hargo atau orang yang memiliki kelebihan menjaga gunung. Teladan hidupnya menginspirasi kita semua.

Iklan

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok, Ambon

Posted on 29/10/2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: