Aksi Balas Dendam Takkan surut

Aksi balas dendam sepertinya sudah merupakan pola yang digunakan oleh para teroris di seantero dunia. Tempo dulu usai operasi pembebasan pesawat Garuda Woyla dari tangan pembajak, komplotan pembajak yang masih hidup berusaha melakukan aksi balas dendamnya terhadap Kopassandha (kini Kopassus).

Ketika saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar di tahun 1981, seorang guru kami sempat mengutarakan di muka kelas. Bila ditengah jalan ada seseorang yang mencurigakan maka kami diminta untuk menyampaikannya kepada orang tua masing-masing. Pasalnya sehari sebelumnya ada seorang murid dari Sekolah lain sempat berjumpa dengan seseorang. Orang itu katanya menanyakan dimana rumah Pak Sintong Panjaitan, Komandan yang memimpin Operasi pembebasan pesawat. Namanya juga masih kanak-kanak, setibanya di rumah, dia lantas menceritakan hal perjumpaannya dengan seseorang ditengah jalan itu kepada ayahnya. Menindaklanjuti informasi dari anaknya itu, sang ayah langsung melaporkan kepada Komandannya. Akhirnya jadilah kami semua yang ketika itu masih duduk dibangku Sekolah Dasar diminta oleh guru kami untuk melaporkan peristiwa apapun yang dijumpai terkait hal sejenis. Seingat saya setelah itu kabar yang diterima adalah ditangkapnya beberapa orang yang diduga komplotan pembajak dikompleks. Dalam melakukan aksinya mereka menyamarkan dirinya. Ada yang menjadi Tukang Abu gosok, ada yang jualan bakso dan masih banyak lagi. Tujuan mereka hanya satu, mencari rumah pak Sintong, begitu info yang beredar di perumahan kami untuk balas dendam.

Selanjutnya saya hanya mengetahui penangkapan seorang komplotan yang menjadi Tukang Abu Gosok. Ia ditangkap karena kedapatan membawa pistol. Setelah itu pengamanan di kompleks Cijantung pun semakin diperketat. Di dekat aliran sungai Ciliwung yang mengelilingi kompleks dipasang pagar BRC. Pedagang yang akan masuk kompleks mesti melaporkan dirinya ke provoost untuk menukarkan Kartu pengenalnya dengan Kartu Identitas pedagang di dalam kompleks. Pokoknya pengamanan di perumahan Cijantung 3 semakin diperketat.

Pola balas dendam seperti yang terjadi usai operasi pembebasan sandera di Don Muang rupanya tak lekang oleh waktu. Aksi balas dendam yang dilakukan oleh pihak teroris dengan melakukan penyerangan Polsek Hamparan Perak setelah rekannya ditangkap sepertinya masih akan terus berlanjut. Sebuah peristiwa lain bisa jadi sedang direncanakan. Mereka tak akan berhenti hanya sampai disitu saja. Aparat keamanan harus lebih peka dan waspada lagi. Tak salah jika Kapolri dalam pemaparannya kepada pers beberapa hari sebelumnya, ia mengatakan akan bekerja sama dengan kesatuan penanggulangan teror TNI ketika melakukan penindakan terhadap kelompok teroris ini. Indonesia memiliki Satuan 81 Gultor Kopassus, Detasemen Jalamengkara, Detasemen Bravo. Saatnya Gultor keluar dari barak mereka masing-masing.

Seperti halnya himbauan Kapolri juga, kita sebagai anggota masyarakat memiliki tanggung jawab yang sama dengan aparat. Mari laporkan setiap aktifitas mencurigakan di sekeliling rumah dan lingkungan kita. Biarkan kita menjadi mata dan telinga untuk melawan aksi terorisme dibumi Indonesia. Namun dari semua itu tak boleh lupa minta perlindungan sama TUHAN agar Indonesia dibebaskan dari aksi biadab lagi.

Kiranya TUHAN melindungi anak-anakNYA.

Iklan

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok, Ambon

Posted on 25/09/2010, in Putra Cijantung. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: