Saatnya GULTOR unjuk gigi

Peristiwa penyerangan yang dilakukan oleh sekelompok orang terhadap Polsek Hamparan Perak di Deli Serdang seolah mengingatkan kita kepada sebuah peristiwa yang pernah terjadi di Bandung 29 tahun yang lalu. Dalam catatan sejarah peristiwa penting itu dikenal dengan sebutan Peristiwa Cicendo. Kejadiannya kurang lebih hampir sama dengan motif pun tidak jauh berbeda.

Peristiwa Cicendo adalah peristiwa yang terjadi di Cicendo Bandung tanggal 11 Maret 1981. Tepat pada pukul 00.30 WIB, kantor Kosekta 65 Bandung (kini disebut Polsek) diserbu oleh 14 anggota Jamaah Imran. Empat orang anggota Polri yang sedang bertugas di kantor tersebut terbunuh dalam peristiwa tersebut. Para penyerbu dari Jemaah Imran tersebut menyerbu kantor polisi bertujuan untuk membebaskan anggota Jamaah yang ditangkap Polsek tersebut. Selain makan korban, 2 senjata polri kaliber 38 dicuri dari kantor polisi tersebut. Kedua pistol itu kemudian ditengarai digunakan oleh kelompok ini dalam pembajakan pesawat Garuda Indonesia atau dikenal dengan peristiwa Woyla tanggal 28 Maret 1981. Keterkaitan antara peristiwa penyerangan dengan pembajakan Woyla sangat erat sekali. Hukum sebab akibat berlaku disini.


Melihat pola yang dipergunakan oleh para penyerang di Polsek Hamparan Perak seharusnya sudah menjadi lampu kuning bagi para punggawa keamanan ditanah air. Aparat keamanan sedari kini ada baiknya mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap aksi lanjutan dari kelompok ini. Semoga saja peristiwa yang lebih besar dari sekedar penyerangan Polsek itu tak muncul kepermukaan. Antisipasi terhadap rencana teroris seperti pembajakan alat transportasi, hotel, obyek vital dan lokasi lain sudah semestinya masuk dalam program cegah tangkal pihak keamanan. Rencana aksi tersebut mesti diantisipasi sebab itu merupakan pola perjuangan para teroris. Setelah aliran dana diblokir, mereka merampok. Rampok ditangkap, lantas balas dendam. menyerang aparat. Masih juga ditekan mereka akan melakukan aksi yang lebih besar lagi. Itu semua seolah pola baku kelompok yang menamakan diri teroris.

Pihak Polri yang bertanggung jawab terhadap masalah keamanan sudah selayaknya bekerja sama dengan TNI terutama kesatuan GULTOR alias PenangGULangan TerOR. Bukannya tidak mempercayai Densus 88 atau Satuan Gegana sebagai kesatuan Anti Teror namun lebih kepada kewaspadaan saja agar tidak terkesan keamanan kita kecolongan dengan timbulnya peristiwa lanjutan dari teror ini. Pihak kepolisian tidak perlu gengsi.

Indonesia memiliki Sat 81 Kopassus yang merupakan Satuan Anti Teror dan Gultor pertama di nusantara mewakili TNI AD, Detasemen Bravo milik TNI AU dan Detasemen Jalamengkara kepunyaan TNI AL. Kesatuan-kesatuan tersebut pastinya mumpuni dalam menanggulangi ancaman gangguan teror lanjutan dari kelompok yang melakukan perampokan di salah satu Bank. Apalagi beberapa waktu silam latihan bersama kesatuan Gultor pernah dilakukan di beberapa lokasi dan kota. Kini saatnya kesatuan Anti Teror bekerja sama dengan kesatuan Gultor milik TNI sesuai dengan eskalasi yang berkembang saat ini.

Mari kita mendoakan agar peristiwa yang lebih besar tak terjadi sehingga menambah rentetan panjang ancaman teror di bumi Indonesia. Kita dapat menjadi mata dan telinga bagi aparat bagi keselamatan umat manusia. Jangan sampai Teror Mumbai terjadi di bumi Indonesia hanya gara-gara aparat lengah. Bukan sebuah kebetulan bila para pelaku teror di Indonesia meniru peristiwa Mumbai itu.

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok

Posted on 23/09/2010, in Putra Cijantung. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: