Kerja Buat TUHAN Terlalu Manise

Jumat 3 September 2010. Sepulang dari kantor pukul 16.30 seperti biasa saya memanfaatkan Kereta Api sebagai alat transportasi pulang ke Depok. Dan layaknya hari-hari sebelumnya, moda transportasi jenis ini selalu mengalami keterlambatan terutama setelah jadwal keberangkatan kereta pukul 16.30.

Setibanya di stasiun tujuan, saya bergegas mengambil sepeda motor di tempat penitipan langganan. Sore itu kebetulan motor saya “dimandiin” alias dicuci sebab sehari sebelumnya terlihat kotor sehabis hujan.

Sesampainya dirumah, kulihat anakku sedang duduk dibalik pagar. Ia telah mengenakan sendal warna birunya. Di bagian lebih dalam, istriku sedang duduk dikursi plastik merah memegang jaket Joe, anakku. Sore itu kata istriku, anakku ingin jalan-jalan sore. Setelah kusimpan tas punggung ke dalam rumah, kami pun berangkat berkeliling kompleks perumahan sekaligus mencari makanan siapa tahu ada yang disukai.

Usai Jalan-jalan sore, aku langsung bermain sejenak dengan anakku di kamar tidur. Sesudah itu aku mandi dan persiapan untuk berangkat ke Wisma Indosat Bukit Pelangi. Menurut rencana saya bersama rekan majelis akan menjadi Team Advance dalam kegiatan Pembinaan & Pertemuan Presbiter.

Waktu menunjukkan pukul 19.00 WIB, sayapun berangkat disaksikan oleh Joe dari balik jendela kamar tidur depan. Saya menghampiri Korbajem Sinar Kasih. Saya sudah mengirimkan pesan singkat kepada 3 orang rekan majelis lain untuk sama-sama berangkat ke Wisma Indosat. Kami membuat janji bertemu di depan perumahan AURI Cilangkap. Setibanya disana, terlihat 2 orang rekan sudah standby di depan warung rokok. Tinggal seorang lagi teman majelis yang belum hadir. Setelah dihubungi rupanya ia baru saja pulang bekerja. Akhirnya kamipun menunggunya. Selagi menunggu sambil bercakap-cakap ditemani segelas air mineral, hujan turun dengan deras. Kami bergegas menuju rumah salah seorang warga jemaat yang dekat dengan lokasi kami menunggu. Disana malah disuguhi teh manis dan sukun goreng. Ya itung-itung ganjel perut sebab tadi berangkat belum sempat diisi.

Setelah hujan reda dan rekan yang ditunggu datang, dengan menggunakan 4 sepeda motor kami menuju Bukit Pelangi pukul 20.00 WIB.

Baru saja melewati sirkuit Sentul, hujan kembali turun. Deras sekali. Sayapun menepi di depan sebuah Sekolah Islam. Saya kehilangan jejak rekan lain yang tadi berangkat bersama-sama. Setelah saya hubungi mereka mengatakan sedang menepi juga di tempat yang ada pasirnya. Alih-alih saya berada dibelakang mereka, meskipun hujan deras, saya mencoba menyusul mereka. Tiba di sebuah Pom Bensin saya berkeinginan menambah bensin sekaligus berteduh seperti kebanyakan sepeda motor yang saya lihat dari pintu masuk. Sesudah mengisi tanki dengan bensin sepuluh ribu, karena takut ketinggalan saya memutuskan untuk langsung berkendaraan. Semakin kecepatan saya percepat semakin kosong jalanan dan tidak ada ciri-ciri kendaraan teman-teman saya. Dalam hati rasa takut mulai muncul manakala teringat ceritera-ceritera tempo dulu banyak motor dibegal di sepanjang jalanan sepi menanjak ini. Akhirnya setibanya di desa Cijayanti saya memutuskan untuk berhenti. Di depan rumah seorang penjual pulsa, saya menghubungi salah seorang rekan yang mengetahui daerah ini. Ia mengatakan masih meneduh dibawah kolong jembatan Sentul. Mendengar hal itu saya mengetahui bahwa rupanya saya berada dipaling depan. Teman-teman dengan 3 buah motor tersusul oleh saya tanpa disadari oleh masing-masing dari kami.

Setelah mereka tiba di lokasi perhentian saya, kami kali ini mulai berkonvoi tak terputus. Jarak Cijayanti menuju Wisma Indosat Bukit Pelangi meski tidak terlalu jauh namun daerah yang dilewati jarang dihuni perumahan terlebih 1-2 kilo meter setelah pintu Gerbang Bukit pelangi, sama sekali tidak ada penerangan umum.

Puji TUHAN sekitar pukul 21.30 WIB kami sampai dengan selamat meskipun dengan pakaian basah. Tangan dingin terasa ketika bersalaman oleh seorang ibu-ibu Persekutuan Wanita yang sudah tiba disana sejak sore hari.

Kami pun disuguhi teh, kopi hangat ditambah gorengan. Kami ngobrol di teras Wisma hingga pukul 23.30 WIB sebelum naik ke ruang tamu di lantai 2 yang lebih hangat sambil menikmati jagung rebus buatan Ibu-Ibu PW. Di hadapan kami sebuah televisi ukuran 29 menemani obrolan kami. Alih-alih menunggu pertandingan sepak bola Penyisihan Euro 2012 antara Belgia melawan Jerman.

Rasa kantuk yang tak tertahan memaksa saya bersama teman-teman masuk kamar tidur sambil tetap menyaksikan pertandingan tersebut. Maksud hati seperti itu, namun lepas babak pertama, kantuk sudah tak tertahan, saya pun tertidur.

Kehujanan, Rasa Takut Dibegal, seolah tidak ada apa-apanya melihat acara pembinaan keesokan harinya berlangsung dengan sukses. Terima kasih TUHAN, perjuangan menerobos hujan deras, rasa takut tak kuasa menghalangi niat melayani TUHAN. Apa yang dilakukan masih jauh tidak sebanding dengan apa yang TUHAN sudah lakukan buat saya dan umatNYA. Pengorbanannya tak kan pernah disamakan oleh perbuatan apapun dari kita.

Kerja buat TUHAN terlalu Manise.

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok

Posted on 06/09/2010, in Pelayanan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: