Sulitnya sebuah Pengakuan

Sulitnya sebuah pengakuan. Apakah kita masih ingat tempo dulu saat orang tua mengajarkan kita untuk mengakui kesalahan atas apa yang telah kita perbuat. Bila kita berbuat salah pasti mereka meminta kita untuk mengakuinya. Tentu masih ingat ya apalagi yang sudah memiliki anak, biasanya suka meniru juga ajaran orang tua kita dan diturunkan kepada anak-anak kita dengan beberapa pembaharuan. Ini ceritera dari sisi keluarga.

Tempo dulu ada Petrus alias Penembak Misterius. Banyak sekali orang yang ditembak kemudian digantung dalam keadaan sudah meninggal. Tak ada satupun pihak yang mengakui merekalah yang bertanggung jawab. Pun demikian dengan pihak kepolisian saat itu. Mereka cenderung membiarkan.Siapa pelaku apalagi dalangnya hingga saat ini hanya samar-samar. Ada yang mengatakan itu idenya alm Pak Benny Moerdanilah. Ini suruhan pak Harto lah. Macam-macam dugaan tetapi jauh dari sebuah kepastian. Tak ada yang persis mengetahuinya.

Lain lagi dari sudut pandang agama. Simon Petrus adalah salah seorang murid Tuhan Yesus. Sewaktu melihat DIA dibawa oleh prajurit romawi kemudian dikenali oleh masyarakat Yahudi, diapun mengelak bahwa dia mengenal TUHAN YESUS. Ia menyangkal sebanyak 3 kali. Meskipun akhirnya dia menyesal takkala mengingat lagi kalimat TuHAN kepadanya. Sebelum ayam berkokok engkau sudah menyangkal AKU 3 kali.

Ada lagi yang terbaru mengenai sulitnya sebuah pengakuan. Adalah ceritera dari seorang figur berinisial A. Dia mentah-mentah tak mengakui bahwa yang terlihat di video porno yang beredar adalah dirinya, terutama ketika peranya dikonfrontir dengan CT.

Dari ceritera-ceritera singkat diatas nampak sekali bahwa manusia itu cenderung untuk menghindari sebuah pengakuan. Entah karena malu atau menutupi hal lainnya. Mereka yang telah membuat sebuah kesalahan, pikirnya berat sekali untuk mengakui apa yang telah dilakukannya. Mereka seolah lebih baik menyimpannya untuk diri sendiri meskipun terkadang hal tersebut mesti mengorbankan orang lain.

Mengakui kesalahan yang telah dibuat memang sangat memerlukan energi lebih. Mestinya dipikirkan oleh para pelaku apakah mereka tega apabila atas apa yang telah dilakukannya itu membuat orang lain dan orang terdekat turut pula menanggungnya. Sudahkah mereka yang melakukan kesalahan itu memikirkan mengenai hal ini lebih dalam lagi. Perlu diingat bahwa yang akan terkena dampak juga keluarga. Atas aksi yang dilakukannya banyak orang akan menerima tulah atas apa yang diperbuat para pengecut itu. Sama seperti sewaktu dulu Firaun tetap berkeras hatinya untuk tak melepaskan Bangsa Israel keluar dari tanah perbudakan di Mesir. Hanya gara-gara tingkah Firaun seperti itu, masyarakat Mesir pun terkena akibatnya pula.

Tak mengakui sebuah kesalahan yang dilakukan, persis seperti seorang yang sama sekali tak memiliki hati nurani. Jadilah seorang pria atau wanita yang berani bertanggung jawab atas perilakunya selama ini.

Semoga saja angin akan membawa berkah bagi orang-orang yang hingga saat ini masih melakukan tindakan pengecut itu. Mari kita mendoakan dengan khusuk aksi tutup mulut yang tak memberikan pengakuan atas perbuatan dirinya itu.

Apakah pelaku akan merubah sikapnya seperti waktu dulu dia diajarkan oleh orang tuanya. Ataukah ia tetap bungkam seperti para pihak yang telah menjalankan Operasi Petrus. Bisa juga pilihan pelaku seperti sang publik figur berinisial “A”. Diam dan tak mengakui. Terakhir mungkin saja ia lebih memilih membawanya hingga menghadap Yang Maha Kuasa.

Harapan terbaik dia boleh meniru Petrus yang menyesali apa yang telah diperbuatnya. Dan ia berkiprah kembali.

Itu sebuah bukti betapa sulitnya sebuah pengakuan.

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok

Posted on 29/08/2010, in Office. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: