Jika Waktu Buka Berbeda

Jalur 12 Depok Ekspress selesai naik penumpang siap di berangkatkan. Begitu ucap petugas pengatur perjalanan kereta di Stasiun Jakarta kota. Pintu kereta pun mulai tertutup. Tak lama setelah itu kereta bergerak perlahan meninggalkan stasiun.

Suasana gerbong 3 yang saya tumpangi cukup padat. Meskipun masih ada celah dibeberapa sisi namun kesan padat tetap terlihat. Di hadapan saya berdiri 3 orang lelaki dewasa. Bila dilihat dari wajah mereka, saya tidak asing mengenalnya. Ketiganya tak berpuasa.

Pada waktu kereta akan memasuki stasiun Juanda, tiba-tiba di dalam gerbang yang saya naiki terdengarlah suara azan magrib. Entah suara azan dari mana saya tak mengetahui secara pasti. Suara itu nyaring sekali memecah bunyi alat pendingin udara dan kipas angin di dalam gerbong. Saya pikir tadinya dari pengeras suara di gerbong. Sempat memuji dalam hati kepada PT. KAI Commuter Jabotabek. Petugas menyapa para penumpang dengan memberitahukan waktu buka puasa. Sayang sekali dugaan itu ternyata tidak benar. Suara azan bisa jadi keluar dari telepon selular seorang penumpang. Mungkin juga dari Black Berry penumpang yang duduk berhadapan dengan saya. Para penumpang lantas mengambil bekal masing-masing. Satu demi satu saya lihat mereka mengeluarkan minuman dan makanan. Ada yang mengambil dari kantong plastik kresek warna hitam. Beberapa diantaranya ada pula mengambil bekal dari tas pribadinya. Ucapan syukur meluncur dari mulut para penumpang. Rasa lega tercermin dari tampang mereka yang akan berbuka puasa itu. Mereka menikmati waktu buka puasa diatas kereta. Sementara itu, kereta melewati Stasiun Sawah Besar. Sampai disini segala sesuatu berjalan seperti apa adanya.

Setibanya di Stasiun Gambir, kereta berhenti. Depok Ekspress tertahan menunggu antrean. Maklum lepas jam 16.30 WIB lalu lintas kereta sangat padat. Petugas kereta membuka pintu agak lama meski penumpang dari Gambir sudah naik.

Selagi menunggu keberangkatan, terdengar dengan sangat jelas dari dalam kereta suara orang sedang mengaji di Mesjid. Tak lama sesudah itu, suara azan Magrib dari Mesjid Istiqlal pun berkumandang. Ini lah waktu buka puasa yang sesungguhnya.

Penumpang yang sudah telanjur berbuka sedari tadi saling bertatapan. Raut mereka seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengar. Air muka penyesalan para penumpang terlihat sore itu. Nasi sudah jadi bubur. Mereka telah berbuka lebih awal 5-10 menit sebelum waktu buka puasa. Semua terjadi karena sebuah telepon selular atau Black Berry milik seorang penumpang yang menyetel waktu buka puasa pada ponselnya tidak sesuai dengan jadwal buka puasa kota Jakarta.

Sambil bercanda, 3 orang yang berdiri dihadapan saya mengatakan, pasti penumpang yang sudah terburu buka puasa itu aliran Muhammadiyah. Sementara salah seorang diantara mereka menimpali, biasanya Muhammadiyah senantiasa mendahului NU. Oleh karena itu sah-sah saja apabila sudah ada yang berbuka sebelum azan magrib berkumandang. Ketiganya tersenyum geli. Kereta pun beranjak dari Stasiun Gambir membawa kami langsung menuju Stasiun Depok.

Semoga TUHAN menerima amalan ibadah mereka hari itu.

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok

Posted on 20/08/2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: