Topeng Monyet


Bunyi suara gendang terdengar bising memecah keheningan suasana pagi hari pada 17 Agustus 2010 di perumahan saya. 3 orang laki-laki dengan membawa peralatan musik tradisional untuk Topeng Monyet terlihat dari teras rumah. Anak-anak pun lantas keluar untuk menyaksikan atraksi Topeng Monyet.

Setelah beberapa waktu lamanya saya tak pernah lagi melihat pertunjukan itu, pada hari Selasa tepat di hari Kemerdekaan RI ke-65, saya kembali menonton aksi Monyet dari spesies Macaca Fascicularis atau biasa disebut juga “crab eating monkey”.

Bunyi gendang dan sejenis gamelan terus mengumandang. Dalam aksi pertamanya pagi itu, Monyet yang biasa disebut juga long tailed monkey ini dengan iringan musik diminta membawa payung dan sebuah ember. Seolah-olah dia sedang berbelanja di pasar.

Pertunjukkan kedua dari binatang yang katanya memiliki hubungan kekerabatan dengan manusia, menaiki sepeda kayu yang telah disiapkan.

Aksi ketiga yang dipertontonkan oleh Tim Topeng Monyet pagi hari itu adalah Sang Monyet diberikan kain semotif dengan sajadah, kemudian monyet itu melakukan gerakan layaknya orang sholat. Dia mengangkat dua tangannya didekatkan dengan kedua telingannya. Lantas monyet itu sujud syukur di kain bermotif seperti sajadah ukuran kecil.

Anak anak semua suka. Meskipun ada juga yang takut, salah satunya anak ku sendiri. Joe terlihat ketakutan saat monyet mengendari sepeda kayu. Saking takutnya iapun meminta digendong oleh saya. Kesenian seperti ini sudah agak jarang sekali dijumpai. Oleh karena itu mesti ada langkah konkrit menyelamatkannya. Kalau bukan kita siapa lagi.

Saya merasa perlu mengacungi “like this”. Betapa tidak 3 orang pria muda sekitar 25-30 tahun masih mau menjalankan usaha seperti ini. Padahal berapa rupiah sih yang akan mereka peroleh. Namun perjuangan mereka mengais rejeki dengan melakukan seperti inilah yang patut diacungi jempol. Meskipun dari beberapa penelitian ada juga bahaya dari atraksi Topeng Monyet ini.

Meski Topeng Monyet tidak hanya dijumpai di Indonesia namun mari lestarikan kesenian tradisional ini supaya tak diklaim negara jahanam macam Malaysia.

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok

Posted on 17/08/2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: