Tirakatan ditengah Gangguan Malaysia

16 Agustus 1990, saya memulai kehidupan baru di Semarang dengan pertama kalinya hidup sendiri di sebuah rumah Kost. Pemilik Kost yang saya tempati adalah Dosen Undip. Pada waktu itu saya mulai berusaha untuk mengerti bahasa pengantar sehari-hari di Semarang. Satu kata baru yakni “Tirakatan” saya peroleh ketika mengikuti malam sebelum perayaan hari Kemerdekaan. Kata itu saya dengar sewaktu di Jl. Mugas Dalam Kota Semarang akan diadakan syukuran hari Kemerdekaan. Pada saat itu persis disamping rumah atau pintu masuk samping rumah induk pemilik Kost adalah sebuah gang tempat diadakannya acara Tirakatan.

Sebuah gang yang lebarnya tak cukup buat satu kendaraan roda empat kemudian dipasangi dengan alas berupa tikar mulai dari mulut gang hingga ujungnya. Acara diadakan secara sederhana dengan pemotongan tumpeng secara simbolis oleh yang dituakan. Selanjutnya tirakatan ini diikuti dengan Nobar alias nonton bareng film. Saya lupa film apa yang diputar yang pasti malam itu seluruh warga RT mengikutinya baik kaum muda atau tua.

Ada juga sambutan dari kaum tua, kebetulan beliau ex Tentara Pelajar jadi dapat menceriterakan sedikit bagaimana perjuangan pada saat itu.

Meskipun saya tidak sampai selesai mengikutinya namun apa yang saya peroleh ketika itu adalah Kata TIRAKATAN, yang maknanya kira-kira, syukuran atas berkat yang telah diberikan oleh TUHAN Yang Maha Kuasa.

Menjelang HUT RI ke-65 ini, Malaysia malahan menahan 3 orang petugas Patroli Perairan Indonesia di Kepulauan Bintan. Hal ini tentunya menyulut kemarahan rakyat Indonesia. Sayangnya pemerintah selalu saja mengedepankan penyelesaian dengan cara diplomatik padahal Malaysia bukan baru kali ini saja “mengganggu”. Seharusnya tindakan tegas dapat diambil toh Malaysia adalah Bangsa yang tak pernah berjuang merebut kemerdekaan. Kemerdekaan mereka kan pemberian bukan hasil perjuangan para pahlawannya. Jangankan berjuang, pahlawan saja tak memilikinya. Meskipun negara masih dalam keadaan carut marut namun Kedaulatan Bangsa sedang diusik mengapa kita tak bereaksi. Terlalu diam Bapak Presiden kita. Coba kalau Bung Karno masih hidup, ceriteranya mungkin akan lain.

Dirgahayu RI Ke-65, Semoga Indonesia menjadi Bangsa yang Besar dan tak dilecehkan oleh Bangsa lain seperti halnya Malaysia yang sudah berkali-kali melakukan provakasi terhadap kedaulatan Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok

Posted on 16/08/2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: