Kliping Tiket-Karcis-Tanda Masuk Jadul

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Ketika melihat untuk pertama kali sebuah buku gambar milik salah satu abang, saya langsung tertarik. Isi buku itu adalah potongan-potongan berita bergambar dari koran yang ditempel di buku tersebut. Kala itu yang saya lihat adalah peristiwa Piala Dunia 1978 di Argentina.

Entah karena ikut-ikutan atau bagaimana saya juga tidak mengetahuinya, namun saya akhirnya jatuh cinta dengan aktifitas yang kemudian saya kenal dengan istilah Kliping atau bahasa kerennya Media Monitoring jika berkecimpung di Public Relation. Empat tahun kemudian sayapun mulai menggunting setiap potongan berita dari koran khususnya mengenai Piala Dunia 1982 di Italia. Hingga kini kebiasaan tersebut masih saya lakukan dan terakhir Piala Dunia di Afrika Selatan bulan Juni-Juli lalu.

Aktifitas kliping berita olah raga terbawa juga ketika saya memutuskan untuk menyimpan setiap Tiket, Karcis, atau Tanda Masuk ke sebuah lokasi yang saya kunjungi. Saya masih menyimpan Tiket Tanda Masuk ketika pertama kali berkunjung ke Candi Borobudur dan Candi Prambanan termasuk Toiletnya. Satu saja komentar saya saat melihat dari dekat kedua candi ini. “LUAR BIASA”.

Sewaktu saya kuliah, seperti kebanyakan anak kos, pastilah suatu saat akan mengadakan sebuah kegiatan dalam kelompoknya. Begitupun saya, tempo dulu bersama kelompok “Geng Kemuning” karena lokasi kos di Jalan Kemuning Semarang. Kami ketika itu bertamasya ke Pangandaran melalui Cilacap pada tanggal 30 Juli 1991 dengan menumpang Angkutan Sungai Danau dari Kali Pucang menuju Sleko dengan harga karcis Rp. 950/orang. Perjalanan yang menyenangkan dan takkan terlupakan. Di perjalanan itu juga saya menyaksikan bagaimana dua orang turis sudi memakan nasi mangut diatas kapal. Sampai di Pangandaran , rombongan menginap di salah satu Hotel. Saya masih suka tersenyum geli manakala mengingat sebuah kejadian di penginapan itu. Ketika tiba waktu mandi, ada seorang teman yang berteriak dari dalam kamar mandi. Dia menanyakan kepada rekan-rekannya, katanya, mengapa kalian menghabiskan air mandi dan tak menyisakannya buat dia. Tentu kami semua tertawa saat itu seraya memberitahukan bahwa kalau ingin mandi tinggal diputar saja showernya bukan menggunakan ember kosong yang diletakkan dibawah shower.

Saya juga masih memiliki Karcis Tanda Masuk Wana Wisata Cemoro Sewu. Pada waktu itu 16 Agustus 1991 saya bersama 2 orang teman yakni Yuli dan Teguh berencana memperingati HUT Kemerdekaan RI di Puncak Gunung Lawu. Ongkos yang dikutip bagi para pendaki malam itu hanya Rp. 100,- saja. Tanda masuk dikeluarkan oleh Perum Perhutani Unit II Jawa Timur. Tak dinyana tak diduga saya juga memasukkan karcis Bus PO Duta Kartika yang mengantarkan saya bersama 2 orang teman tadi dari Surakarta menuju Semarang. Saya bersama teman saya yang kini sudah bekerja di ANTV sempat dibuat pusing oleh rekan yang satunya alias Yuli. Rekan saya itu sempat kami cari dan tunggu sebab hingga menjelang sore belum muncul juga di Base Camp. Saya sudah berencana akan melaporkan ke Pos Perhutani jika hingga pukul 17.00 dia belum juga kelihatan. Rupanya dia turun dari Lawu tidak melewati Cemoro Sewu tetapi Cemoro Kandang yang terletak di Jawa Tengah. Meskipun tak berjauhan namun sempat membuat saya dan teman khawatir.

Untuk perjalanan Jakarta-Semarang-Jakarta, moda transportasi yang biasa saya gunakan adalah Bus Malam dan Kereta Api. Maklum anak kos mesti pandai mengatur budget. Saya memiliki karcis Bus Antar Kota Antar Propinsi kalau meminjam istilah sekarang. Ada tiket Mulyo Indah, Limas Expres, Dwijaya dan Raya. Diantara bus yang pernah saya gunakan Bus Mulyo Indah merupakan yang paling sering karena berhenti persis di dekat rumah. Sementara tiket bus PO Ramayana, Sumber Larees, PO Trisakti, PO Safari adalah Bus yang biasa saya tumpangi manakala akan mendaki gunung atau bepergian diseputar kota Jawa Tengah. Sebuah pengalaman yang masih terekam, pada waktu saya sehabis latihan SAR, saya berencana pulang ke Jakarta namun karena tak memiliki uang cukup, dengan modal keberanian kelas satu, saya tetap berangkat dengan pikiran akan menghadap kepada Petugas Brimob yang biasa mengawal kereta. Tujuannya untuk meminta bantuan agar boleh menumpang kereta tanpa membayar. Seperti sudah diatur tak ada kesulitan berarti, anggota Brimob yang saya jumpai bahkan merasa senang melihat saya dengan pakaian Menwa lengkap dengan Baret Ungu plus Brevet SAR keluaran kesatuannya. Jadi lah saya pulang ke Jakarta tanpa membayar ongkos kereta.

Satu hal yang menarik dari tiket kereta yang saya punyai adalah model tiket kereta yang keluaran lama. Ukuran kecil dan sedikit tebal masih tersimpan dengan baik Senja Utama SMT tertanggal 23 Maret 1991. Model tiket seperti ini tak lagi digunakan ketika era komputerisasi telah digunakan di PT. KAI.

Mencari pengalaman baru di sebuah kota merupakan kesukaan tersendiri. Salah satu kota yang pernah saya kunjungi adalah Kota Kudus. Saat itu saya sengaja bolos kuliah lantas jalan-jalan ke Kudus sendirian. Tiba di sana, saya heran melihat sebuah Tugu berdiri ditengah-tengah kota. Saya pun mendekatinya dan masuk kedalam. Namanya Tugu Identitas. Harga Karcis masuk Rp. 100 saja. Saya pikir dapat melihat diorama yang bagus seperti Monas rupanya saya kecele, tak ada apa-apa disana hanya naik keatas saja. Di kota ini juga saya menyadari bahwa pembangunan di Indonesia itu sungguh tak merata. Betapa tidak, ketika bermain ke satu-satunya Mal di Kota Kudus, saya melihat ada sekumpulan anak-anak kecil yang sedari tadi saya perhatikan mereka bermain eskalator. Setelah tiba diatas, mereka turun lagi kemudian naik kembali begitu terus selama lebih dari 30 menit. Saya terharu melihat mereka.

Selain mengisi waktu dengan mendaki gunung, Kemenwaan dan kegiatan pecinta alam, saya selama tinggal di kota Semarang juga sering sekali menyaksikan film di Bioskop terutama ketika Jet Lee yang main. Hingga hari ini salah satu Tanda Masuk Bioskop Palace 1,2 dan 3 serta Bioskop Gris masih terlihat dalam buku kliping saya. Tertanda dalam tanda masuk itu 28 May 1991 dan 16 Juni 1991. Selain menonton film-film Jet Lee, saya sepertinya jarang mengikuti. Pada waktu itu asli, saya adalah penggemar film mandarin.

Sewaktu saya menjadi anggota Menwa dan mendapat perintah dari Komandan Batalyon 915, Resimen Mahasiswa untuk mengikuti Latihan Search & Rescue, saya bersama seorang teman satu angkatan Menwa lantas berlatih renang di Kolam Renang Jatidiri Karang Rejo Semarang Selatan. Dengan menyewa seorang pelatih renang setempat, saya diajarkan berenang dengan gaya katak. Susahnya minta ampun, tulang sudah kaku rasanya namun karena harus bisa maka tetap terus berlatih. Belum lagi menuju lokasi kolam renang, saya dan rekan seangkatan melakukan pemanasan dengan lari. Jadilah mulai hari itu 10 Agustus 1992, saya berlatih renang menghadapi Latihan SAR yang diadakan di Brimob Srondol. Karena pertama kali, yang membuat merinding ketika latihan SAR adalah sewaktu setiap siswa diminta untuk melakukan meluncur atau FLYING FOX dengan kepala kebawah dengan jarak kurang lebih 110 meter. Pengalaman lain, hati ini merasa senang karena memperoleh ilmu pengetahuan bahwa celana bahan yang kita gunakan dapat dijadikan alat penyelamat ketika ada bencana di air. Latihan SAR ini terasa berat sekali. Alhasil dengan susah payah saya berhasil lulus dan memperoleh Brevet SAR seusai mengikuti pendidikan selama 2 minggu. Pokoknya jadi elek tenan.

Perjalanan berlanjut terus, 31 Agustus 2002, saya memperoleh tugas dari teman-teman Divisi PSDM Satelindo untuk menghadiri pernikahan salah satu rekan kami di ruangan. Retribusi tiket masuk Terminal Terboyo, karcis Bus Raya Indah, PO AKAS, PO Eka Mojokerto ketika akan menuju ke Ngawi Jawa Timur masih tersimpan rapi. Disini pengalaman yang saya peroleh adalah masih melihat ada Kerbau yang digembalakan oleh rakyat. Rumah-rumah yang sederhana. Tugas membawa amplop buat pengantin diterima dalam keadaan aman. Oh ya rumah rekan saya ini terletak dekat dengan sebuah jembatan yang diwarnai kuning, karena daerah itu milik Golkar katanya. Pemandangan yang indah adalah ketika naik becak menuju Terminal dikiri kanan masih terhampar luas Sawah dan pepohonan hijau, indah banget dan alami sekali.

Masih banyak Tiket, Karcis, Tanda Masuk yang saya simpan. Semuanya memiliki kenangan tersendiri termasuk Tiket menonton sepak bola pada saat Tiger Cup tahun 2002 dan 2004. Pengalaman yang diperoleh manakala saya dan penonton lain dilempari kantong plastik yang berisi air seni penonton yang berada diatas tribun kami. Meski demikian sepertinya saya takkan kapok menonton langsung bagaimana pesepak bola kita beraksi. Dari sekian kali menyaksikan Tim Nas, Tim Piala Asia yang paling mengesankan. Suasana stadion juga membuat semua bulu ditubuh berdiri.

Ah, seandainya waktu ini dapat diputar kembali kemasa-masa itu. Saya ingin memperbaiki beberapa hal yang telah dilalui itu. Selain itu ingin pula rasanya memberlakukan keadaan dulu kepada situasi masa kini. Seperti Kaos Bola yang pernah saya pakai sewaktu kecil dulu ditahun 1978. Kaos itu kini masih dapat dipakai oleh anak saya terlebih saat Piala Dunia lalu sebab kaos warna hijau yang masih layak pakai ini juga bertema Piala Dunia, Argentina 1978.

Terima kasih TUHAN atas semua yang telah Engkau berikan. Syukur ku kepadaMU senantiasa dalam setiap tarikan nafas ini.

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok

Posted on 14/08/2010, in Umum. Bookmark the permalink. 5 Komentar.

  1. Marina Van Koesveld

    Had een bonnetje gevonden in een 2e hans boek , Bandung Bandoeng van Springer , met daarin van C.V.ALAM SIBAYAKi
    Pemandian Air panas desa Semangat Gunung,
    Karcis tanda masuk no 6306,dewas Rp 1.500 , zocht dat op en kreeg de vertaling van deze beschrijving ,,die niet helemaal te volgen is .
    Vroeg me af wat nu de symboliek is en hoe degene dit boek heeft achtergelaten,,?met een bedoeling?, weet u waar het bonnetjevan is ?groeten Marina

  2. Yuldhastiya R

    Mas, punya tiket dwi jaya yang lama???sy pengen liat tiket yang lama…trima kasih..maaf merepotkan..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: