Selamat Jalan Papa, Opa Terkasih

Telepon sellular bergetar satu kali, saya belum mengangkat. Getaran kedua kali baru saya angkat. Hubungan telepon dari salah satu abang saya. Pagi sekali ia menelepon, waktu menunjukkan 04.30 WIB. Kabar yang tidak ingin saya harapkan, akhirnya didengar juga. Papa, Opa kami tercinta telah pergi. Ia kembali ke pangkuan Bapa disurga. Rabu, 14 Juli 2010 pukul 04.30 WIB adalah waktu TUHAN buatnya. Kakak, abang dan seluruh isi rumah Opa sama sekali tiada yang mengetahui pasti, kapan malaikat TUHAN menjemputnya.

Perjuangannya dalam melawan penyakit kanker lidahnya berakhir di waktu subuh hari itu. Takkan ada lagi erangan menahan sakit di kamar belakang tempat Papa, Opa dirawat. Ia kini telah senang di surga sana bersama TUHAN. DIA pasti sudah menyediakan tempat khusus bagi hambanya yang setiawan.

Buat saya, yang tertinggal dari Papa adalah semangat juangnya dalam menghadapi segala sesuatu termasuk ketika ia menghadapi masa-masa sulit pada saat kuliah Teologi di Soe. Teringat oleh saya bagaimana ia bercerita hanya minum air kran saat akan mengikuti ujian karena ketiadaan biaya. Namun demikian hasil yang diperoleh sungguh mengesankan. Ia berhasil menjadi yang terbaik dari 5 orang diangkatannya. Belum lagi perjuangannya membangun Gereja Abraham di Kompleks Kopassus Serang Banten. Ia harus melawan orang-orang Banten yang melarang pembangunan gedung Gereja di daerah Kecamatan. Tanpa panitia, tanpa dana yang cukup, ia berhasil membangun Gedung Gereja Abraham. Melihat perjuangannya dalam pembangunan itu, sampai sampai Komandan Grup 1 Kopassus, saat itu, Kolonel Inf. Yusman Yutam berkelakar, gerejanya kasih nama Gereja Katipana saja. Belum lagi jika flash back ke tahun 1975an, persabungan nyawa di daerah Operasi Timor Timur harus pula ia lalui. Termasuk dalam Team Susi, ia mungkin satu-satunya Pendeta di bumi Indonesia yang mesti memikul AK 47 dan sempat pula menembakkan Rocket Launcher/RL. Puji TUHAN itu boleh ia lalui berkat pertolongan dan perlindungan kasih TUHAN saja.


80 tahun usianya mesti ia sudahi sampai disini. Perjuangannya membesarkan kami selesai. Ia telah mengahiri pula pertandingan imannya. Selamat Jalan Papa, Opa, Kami mengasihimu sepanjang masa. Jiwa Juang, Semangatmu dalam menghadapi perjuangan hidup menjadi teladan bagi kami. Pelayananmu yang telah kau rintis akan kami lanjutkan meskipun bukan melalui jalur Pendeta. Bisa saja bukan kami anak-anaknya, mungkin saja cucunya. Saya tidak mengetahuinya yang pasti TUHAN sudah bersamamu dialam surga sana.

Selamat Jalan Papa, Opa terkasih.

Iklan

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok, Ambon

Posted on 15/07/2010, in Keluarga. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: