Dari Pra Pra Latsar-Pra Latsar menuju LATSAR di Gombong

Ganda mayi tempat menempa kami
Selalu siap memegang sumpah dan janji
Percayalah Ganda Mayi
Tempat menempa kami namamu akan tetap di hati

Sekali maju tak akan mundur
Walau di depan pluru berhambur
Jangan kembali sebelum sasaran diduduki
Walau harus gugur di bumi pertiwi

Penggalan dua bait lagu diatas seolah membawa kembali saya kepada masa ketika mengikuti Pelatihan Dasar Resimen Mahasiswa alias MENWA.
Saya ikutan bergabung dengan MENWA di Batalyon 915 di Semarang. Pendidikan Dasar MENWA saya tempuh mulai 28 Januari 1992 hingga 12 Februari 1992 di Sekolah Calon Tamtama Resimen Induk KODAM IV Diponegoro Gombong Jawa Tengah. Sertifikat kelulusan saat itu di tanda tangani oleh Kolonel Inf. HA. Rivai, entah sudah dimana beliau. Apakah masih dinas atau sudah pensiun tak ada informasi mengenai hal itu.

Sebelum saya diberangkatkan ke Latihan Dasar Menwa, kami terlebih dahulu di didik oleh para senior kami di Mako Batalyon 915. Tempo hari karena kampus kami sempat pindah dari Seteran Dalam ke Jalan Imam Bonjol maka lokasi latihan di basis juga sempat berpindah-pindah. Yang pasti apel pemberangkatan angkatan saya menuju Gombong dilakukan di Kampus Fakultas Ekonomi Jalan Imam Bonjol Semarang. Saat itu ke-7 orang CAMEN (Calon Anggota Resimen) dilepas oleh Ibu Ishari Moores selaku Direktur. Ke-7 CAMEN yang diberangkatkan adalah Woro Setiawati, Fitri, Nurhidayati, Nanik, Hasta,Tri Sakti Joko Lelono dan saya sendiri. Saya mengikuti MENWA pada saat memasuki semester 3, jadi oleh para senior saya dituakan diangkatan ini. Dari ke-7 angkatan saya ini nantinya yang aktif hanya beberapa saja. Komandan Batalyon 915 saat itu dijabat oleh mas Sena Purwata dengan Wakil Komandan adalah mas Skimina.

Sebelum kami diberangkatkan ke Latsar, sudah menjadi kewajiban bagi para Camen mesti mengikuti beberapa tahapan latihan. Sejak tahun ajaran baru, setiap calon anggota resimen kudu mengikuti Tes Seleksi. Usai mendaftarkan diri, masing-masing calon akan mengikuti apa yang biasa disebut Tes Mental Idiologi. Disini para calon akan dites keseriusan, kecepatan, kehandalannya dalam menjawab pertanyaan, tantangan dari para senior di setiap posnya. Tidak mudah melalui tes ini karena mental mesti kuat. Tidak boleh lengah, penuh konsentrasi karena kelelahan pasti akan menimpa mengingat banyaknya tantangan fisik yang dijumpai. Setelah melampaui Tes Mental Idiologi, para calon yang lulus akan dilantik menjadi CAMEN. Selama kurang lebih 2-3 bulan kami ditempa berbagai latihan mulai dari PBB, PPM, Survival, PUDD, pokoknya P5 deh. Masa latihan ini biasa disebut PRA PRA LATSAR. Sehabis menjalani tahapan ini semua CAMEN diharuskan mengikuti PRA LATSAR atau Pra Latihan Dasar. Pada periode ini biasanya latihan semakin berat karena memang benar-benar latihan dilakukan di luar. Tempat yang biasanya menjadi lokasi latihan Batalyon 915 adalah Hutan Penggaron di Ungaran. Kabarnya kini sudah terbelah untuk keperluan Jalan Tol Semarang-Solo. Disanalah kami ketujuh orang satu angkatan ditempa fisik dan mental selama lima hari. Latihan Stealing alias Pendadakan dengan menggunakan “Bom” Karbit, balon yang diisi karbit. Suaranya cukup memekikkan telinga. Ada juga latihan Caraka Malam, HTF dan Meluncur atau bahasa outbound sekarang Flying Fox. Bedanya Meluncur dengan Flying Fox, kalau Meluncur cukup menggunakan Tali Jiwa, meluncur dititian tali yang terbuat dari jerami. Tanpa peralatan seperti outbound saat ini. Kami juga dilatih merayap satu tali, turun hesti. Pokoknya lengkap sekali ditambah bumbu bumbu merayap, jungkir serta push up yang tak terhitung lagi. Para CAMEN juga diperkenalkan pada Senjata Garrand, Pistol FN 46. Prinsip 5 langkah lari betul-betul dipraktekkan disana. Sama sekali tidak ada aktifitas jalan. Yang paling seru diantara semua adalah, kami bertujuh dibawa oleh para senior ke sebuah pekuburan di Penggaron. Disini kami diminta untuk menghabiskan satu malam tidur berteman dengan batu nisan dan kuburan lainnya. Masing-masing ditempatkan disebuah kuburan. Untungnya semua berjalan baik dan aman.

Pada akhir Pra Latihan Dasar, kami masih harus menjalani apa yang biasa disebut “Long March”. Ini merupakan kegiatan terakhir. Rutenya start dari Hutan Penggaron menuju Kampus di Seteran Dalam. Bawaan kami sepanjang longmarch adalah sebuah ransel dan sebuah replika senjata M16. Membutuhkan mental yang kuat dalam menjalani aktifitas ini.

Latihan PRA LATSAR dinyatakan selesai ketika kami tiba di kampus seusai melaksanakan Long March. Tak lama kemudian, kira-kira sebulan kemudian barulah ke-7 orang CAMEN angkatan 1991/1992 dikirimkan ke LATSAR yang sesungguhnya di SECATA Gombong. Tidak seperti biasanya kala itu LATSAR angkatan saya diadakan di sana. Padahal tahun-tahun sebelumnya dilaksanakan di PUSLTAPUR-Pusat Latihan Pertempuran Klaten Jawa Tengah. Apa yang diajarkan senior mengenai kebiasaan-kebiasaan di Puslatpur akan berbeda sama sekali karena lokasinya juga tidak sama. Saya pribadi merasa terbebani sebab angkatan sebelum-sebelumnya selalu meraih prestasi menjadi MENWA terbaik. Mulai dari rangking 1, 3,7, pokoknya sepuluh besar. Namun untungnya ketika itu tidak ada lagi perangkingan pada setiap angkatan. Sepertinya hal itu dihapus karena penuh dengan nuansa persaingan yang dapat memicu ketidak kompakan sesama MENWA. Meski demikian karena dari awal para senior sudah menanamkan untuk meraih yang terbaik maka saya bersama enam rekan lainnya bertekad mempertahankan tradisi para senior. Hal itu mulai dilakukan ketika saya mengambil alih satu regu pasukan MENWA lain. Saya langsung mengambil sesudah turun dari truk kampus yang membawa kami. Mereka saya pimpin berlari menuju ke lokasi Secata. Selanjutnya saya berusaha yang terbaik ketika mengikuti latsar disana. Dengan tekad menjadi yang terbaik, maka pada saat penutupan, ada dua orang angkatan kami yakni saya dan Nurhidayati yang mengikuti atraksi dalam rangka penutupan. Saya mengikuti atraksi PUNGDAHMAH, sedangkan Nur ikutan dalam atraksi Bongkar Pasang Senjata. Itulah karya terbaik kami di Latsar Menwa Tahun Ajaran 1991/1992 di Secata Gombong. Pada saat penutupan setidaknya, Pudek kami yang hadir bersama Komandan Batalyon dan senior lain dengan para undangan dapat melihat ada anggota yuniornya yang sedang mengikuti Atraksi.

Menjadi anggota Resimen Mahasiswa bagi saya saat itu cukup membanggakan. Selain itu saya semakin lebih mengerti lagi akan pentingnya Pendidikan Bela Negara. Hingga kini di dalam melaksanakan pekerjaan, apa yang saya peroleh selama menjadi anggota MENWA setidaknya sempat dipakai. Berorganisasi di MENWA sarat sekali dengan pengalaman suka dukanya. Seperti lagu diawal ketikan ini, Batalyon 915, namamu akan selalu dihati. Meskipun cita-cita melanjutkan menjadi Prajurit tak kesampaian, cukuplah pengetahuan yang diperoleh manakala masih aktif di kemenwaan. Jabatan Komandan Peleton hingga Kasi Operasional pernah disandang. Ditambah lagi mengikuti Pelatihan Dasar “Search and Rescue” yang diselenggarakan di Brimob Polda Jateng 22 Agustus 1992 hingga 31 Agustus 1992. Cukuplah sudah semuanya, sekali lagi menjadi bagian dari MENWA adalah kebanggaan dan kebahagiaan tersendiri.

Long march adalah jalan jauh
Yang harus kita tempuh dengan semangat satria
Naik gunung turun gunung
Tiada mengenal lelah, kaki bengkak sepatu dipundak
Kerongkogan haus dahaga, siap tunggu perintah

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok

Posted on 13/07/2010, in MENWA. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Berikan data2 yang lain Wil kl ada spy kita tidak lupa akan 915 AKABA yang tinggal kenangan karena AKABA sekarang sudah menjadi bagian dari FBS UNTAS Semarang sehingga 915 for our memories only

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: