Satu Atap Beda Layanan

Saat sedang bercengkerama dengan anak, Selasa malam tanggal 29 Juni 2010, telepon rumah warna merah yang terletak di ruang tamu berbunyi. Rupanya dari seorang kakak di Cimanggis. Suara dari seberang terdengar terburu-buru. Ia ingin menyampaikan bahwa beberapa saat yang lalu, ayah saya yang sedang dalam perawatan di rumah mengalami sebuah kecelakaan kecil. Tanpa diduga karena terlalu sering ia menggerakan tangan kanannya, tanpa dinyana, jarum infusnya patah didalam peredaran darahnya. Oleh karena itu, lanjutnya, ayah saya mesti dibawa ke rumah sakit. Menurut kakak, ia telah menghubungi rumah sakit guna permintaan pelayanan mobil ambulans. Namun dengan alasan sopirnya tidak tahu alamat yang di tuju, petugas yang dihubungi mengatakan mesti ada keluarga yang datang kerumah sakit. Usai mendengarkan penjelasan dari kakak, saya bergegas meluncur menuju rumah sakit. Kendaraan Ambulan memang yang dibutuhkan sebab papa saya tidak dapat lagi duduk.

Setibanya di rumah sakit di Jalan Raya Bogor itu, saya menuju ke bagian pendaftaran. Disini saya dilayani oleh seorang ibu, petugas administrasi. Sesudah terjadi percakapan sebentar, ternyata dari bagian pendaftaran, saya diminta untuk ke kasir guna menyelesaikan biayanya terlebih dahulu. Saya pun melangkahkan kaki ke kasir. Di loket yang terletak di pojok sebelah kanan dari pintu masuk rumah sakit, saya memberikan penjelasan maksud kedatangan saya kepada seorang kasir. Dari balik kaca tembus pandang, seorang ibu muda dengan jilbab warna hijau mengatakan, “Bapak nanti kami cek dulu ya ke drivernya” katanya. Terpaksa saya menunggu di depan Apotik yang bersebelahan dengan loket kasir sambil duduk menonton pertandingan Paraguay versus Jepang dalam ajang World Cup 2010.

Belum lima menit berlalu, saya menerima sms dari abang. Dia mengatakan bahwa ia di rumah sakit. Saat itu ia sedang berada di salah satu ruang suster rawat inap. Ketika saya mendatanginya, rupanya untuk pengurusan pelayanan mobil ambulan lebih sakti melalui jalur ini daripada jalur yang saya pergunakan. Tidak seberapa lama, suster ruang rawat terlihat membawa sebuah kertas seukuran kertas resep. Suster muda ini lantas mengantar saya bersama abang menunggu sopir ambulans di depan ruang Instalasi Gawat Darurat. Ternyata melalui jalur ini tanpa bayar lebih dahulu dapat langsung menggunakan pelayanan ambulans meskipun tetap membutuhkan waktu yang tidak terlampau cepat.

Nah lho, mengapa pelayanan berbeda ya. Lewat jalur pendaftaran saya seolah dipersulit sebab mesti menunggu sesuatu yang tidak jelas. Sementara melalui jalur ruang rawat inap malahan lebih cepat. Para perawat memang telah cukup akrab. Mereka paham sekali keadaan ayah saya mengingat beliau sempat selama satu bulan di rawat. Apakah oleh sebab itu maka pengurusan berjalan dengan mudah, saya tak mengetahuinya. Bagi saya malam itu, ternyata dalam satu atap masih ada saja perbedaan dalam pelayanan.

Satu hal yang mesti dijadikan catatan penting adalah bagaimana jika pasien benar gawat darurat. Saya bersama abang membutuhkan waktu kurang lebih satu jam untuk memperoleh mobil ambulans. Saya hanya membatin, untung saja ayah hanya ingin mengambil patahan jarum infus bukan dalam keadaan gawat darurat. Bagaimana bila memang sedang dalam kondisi darurat. Tidak menutup kemungkinan hal terburuk dapat dijumpai saking lamanya menunggu proses administrasi pelayanan mobil ambulan.

Tidak selamanya sebuah rumah sakit, yang katanya mengedepankan jiwa sosial sudi melayani dengan hati yang sungguh-sungguh. Masih banyak sekali unsur pelayanan yang mesti menjadi bahan perhatian. Pasti manajemen rumah sakit memiliki standard pelayanan. Apakah ada sosialisasi atau pelatihan sebelumnya, ini yang mesti dipertanyakan. Atau mungkin saja karena keterbatasan para petugas dalam menterjemahkan ketentuan dan kebijakan yang berlaku. Sepertinya reputasi atau nama baik akan menjadi taruhannya jika salah satu diantara keduanya sama sekali tidak dijalankan.

Satu lagi instansi yang akan masuk dalam catatan buruk pengalaman saya. Meski satu atap tetap saja masih terdapat perbedaan dalam pelayanan. Satu atap Beda Layanan, sayang sekali.

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok

Posted on 30/06/2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: