Permen diganti Sumbangan

Saya sebenarnya tidak terlalu menyukai berbelanja. Namun pada hari Sabtu, 19 Juni 2010 lalu, saya diminta oleh kakak untuk membeli tissue basah dan botol penyemprot kosmetik buat alat semprot obat Herbal ayah. Siang hari itu dengan semangat 45, langsung saja menuju salah satu Super Market yang terletak di Jalan Raya Bogor. Jaraknya dengan rumah sakit tempat ayah saya dirawat tidak terlalu jauh. Hanya butuh waktu kurang lebih 10 menit saya telah tiba di parkiran supermarket yang dituju. Cuaca cukup panas meski demikian terlihat awan hitam mulai menyelimuti daerah udara di Cimanggis dan sekitarnya. Mungkin hari akan hujan, pikirku. Saya pun masuk ke supermarket. Langkah kaki saya arahkan menuju ke stand khusus Kosmetik seperti arahan kakak perempuan. Mulailah mencari dari ujung ke ujung lagi. Lebih dari 4 kali saya bolak-balik mencari botol penyemprot. Hasilnya nihil alias tidak dapat ditemukan. Penasaran saya coba sekali lagi mengamati semua alat kecantikan yang tersusun rapi di setiap rak. Dua orang SPG saya perhatikan melihat saya. Dalam hati SPG yang sedari tadi mengamati itu mungkin bertanya, ini bapak lagi cari apaan, sedari tadi mondar mandir tidak ada yang dipilih. Seolah putus asa, saya pun mengontak kakak yang sedang menunggu di rumah sakit. Saya menanyakan kembali bentuk, merek, atau lokasi membeli botol dimaksud. Rupanya ia salah memberikan informasi. Ia seharusnya mengatakan letak counter penjualan botol semprot kosong itu di dekat perlengkapan bayi bukan di conter kosmetik. Alhasil sayapun dapat menemukan botol semprot itu. Letak penjualan botol semprot berada dibagian ujung setelah konter penjualan perlengkapan bayi dan bersebelahan dengan rak pakaian dalam dewasa. Setelah pilih-pilih, tidak tanggung-tanggung saya membelinya sebanyak 5 buah sekaligus.

Saat di kasir, terjadilah suatu kejadian yang membuat saya berpikir. Sayangnya saya berpikir setelah beranjak dari Kasir. Sewaktu saya membayar, sang kasir mengatakan, “Bapak apakah kembalian tiga ratus rupiah ingin disumbangkan ?”. Tanpa berpikir panjang, saya pun mengiyakan. Pada waktu itu saya dalam kondisi terburu-buru harus membawa Botol Semprot. Botol semprot ini mesti tiba tepat waktu dirumah sakit guna pengobatan herbal ayahanda. Penyemprotan herbal mesti mengikuti pola waktu yang telah ditetapkan oleh Herbalis. Oleh sebab itu saya tidak memiliki hasrat untuk menanyakan lebih jauh, uangnya akan disumbangkan kemana, untuk siapa dan lain-lain. Pokoknya dalam pikiran saya yang muncul hanya bayar, langsung meluncur lagi ke rumah sakit.

Setelah tiba di rumah sakit dan memberikan botol-botol semprot dan tissue itu, barulah saya melihat lagi struk pembelian yang diberikan kasir di supermarket “G”. Memang tercetak tulisan “disumbangkan” Rp. 300,-. Lantas saya berpikir, sekarang mungkin modelnya seperti ini. Kalau selama ini kembalian uang diberikan permen, kini oleh supermarket “G” ditanyakan ke pelanggan apakah ingin disumbangkan atau tidak. Saya sebenarnya ingin mengetahui pihak manajemen super market akan menyumbangkan kemana atau untuk siapa. Dan yang terpenting apakah benar seperti itu. Bagaimana pertanggung jawaban mereka terhadap pelanggan yang diminta untuk menyumbang. Persoalannya bukan rela atau tidak rela namun kalau saya diminta memberikan sumbangan wajar dong jika ingin mengetahui lebih jelas seperti pertanyaan itu. Namun baiklah, dari pada bingung sendiri saya merelakan tiga ratus rupiah itu.

Dasar usil, untuk mengetahui apakah hal seperti di Super Market “G” berlaku juga di supermarket lain, keesokan hari pada hari Minggu saat membeli ikan salmon untuk anak, saya mengikuti isteri yang kali ini kebagian untuk membayar belanjaan. Rupanya perlakuannya berbeda sama sekali. Supermarket “C” tidak memberlakukan pelanggannya untuk menyumbang kembalian pembayaran. Tujuh ratus rupiah dikembalikan kepada isteri saya. Jadilah saya mengambil kesimpulan, kini kalau belanja di “G” ada kembalian ratusan maka akan diminta atau ditanyakan ke pelanggan untuk menyumbangkan uang kembalian itu, tidak lagi diganti dengan permen seperti selama ini. Entahlah hal ini dilakukan karena kehabisan uang logam ratusan atau memang sedang menjalankan program sumbangan. Sama sekali tidak ada penjelasan atau pengumuman dan brosur dari pengelola. Oleh karena itu bersiaplah untuk merelakan uang kembalian koin ratusan kita dari permen menjadi sumbangan. Atau mungkin hal seperti ini sudah biasa dijalankan di beberapa Super Market. Hanya saya saja yang tidak sering berbelanja sehingga tidak mengetahui hal sejenis ini biasa dilakukan. Programnya sebenarnya baik dan bagus namun alangkah baiknya apabila pihak Manajemen dapat memberikan penjelasan mengenai pemberlakuan hal itu. Maklum dewasa ini kan banyak sekali penipuan yang terjadi mengatasnamakan beberapa supermarket.

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok

Posted on 20/06/2010, in Umum. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: