Papa Kapan Pulang rumah

Hari ini sudah hari ke 26. Minggu 20 Juni 2010, papa masih tergolek lemas sambil menahan rasa sakit di dalam mulutnya. Sesekali ia mengerang menahan sakit. Dengan kaos polo warna merah, berselimutkan sarung warna biru putih kotak-kotak, ia sedang mencoba tidur. Hingga sore hari ini beliau tidak menikmati sedikit pun makanan yang disajikan oleh pihak rumah sakit. Tadi sore saya semprot mulutnya dengan herbal. Ia meminta saya untuk menghentikan semprotan obat sebab rasa sakit menyerangnya. Tidak seberapa lama, darah terlihat di mulutnya. Saya mengambil kapas yang tersedia di meja kecil samping tempat tidurnya. Ambil pinset, pakai sarung tangan dan dengan mulut tertutup saya memasukkan kapas itu. Darah, lendir campur jadi satu terangkut oleh kapas. Lebih dari 10 kali saya memasukkan kapas ke rongga mulutnya. Ia pun sedikit merasa nyaman meski harus menahan sakit.

Cairan inpus baru saja diganti sekitar pukul 17.00 sore. Air liur bercampur darah mengalir dari mulut bagian kiri papa. Tadi sempat melihat dalam mulutnya. Lidah sudah terkoyak seper empat. Sisi lain masih ada daging warna putih. Entah apakah itu kankernya atau bukan. Jika yang menjaga beliau orangnya gelian, mungkin tidak ingin memasukkan kapas, melihat lidahnya. Bisa-bisa tidak makan nanti.

Menurut kakak Fani tadi sebelum gantian jaga, dokter sudah memperbolehkan pulang. Sekarang yang sedang menjadi bahan pertimbangan, siapa yang akan merawat beliau. Katanya dokter dapat mengijinkan untuk pemasangan inpus dirumah, atau home care namun siapa perawatnya hingga hari ini masih belum dijumpai.

Sementara itu abang Herman mengatakan hari Senin besok akan dicoba dengan pengobatan dari Ambon. Obatnya sudah dikirim Kamis lalu dan direncanakan tiba pada hari Senin 21 Juni 2010. Obat ini untuk membersihkan daging, kotoran yang ada di pangkal lidah, permukaaan lidah papa Cimanggis. Harapannya sih obat ini nantinya dapat manjur, ampuh melawan kanker lidah yang sepertinya sudah merangsek, menjalar ke bagian tubuh lain.

Tuhan Kiranya mendengar doa-doa kami.Kalau memang TUHAN berkenan memberikan Pintu Kesembuhan, maka tolong berikanlah TUHAN. Namun apabila TUHAN malahan berkehendak bahwa Pintu Keselamatan yang akan diberikan, saya sudah siap. Hanya Abang Herman sepertinya yang masih belum menerima jika terjadi sesuatu terhadap diri papa. Mama, Kak Fani, Bang Polly, semua telah siap. Jadi biarkahnlah kehendak TUHAN nanti yang akan menjawab semua. Yang pasti Papa belum dapat dipastikan kapan akan pulang. Pengobatan tradisional akan terus dilanjutkan di rumah sakit, supaya masih ada yang memantau. Minimal Suster bisa memeriksa tekanan darahnya.

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok

Posted on 20/06/2010, in Keluarga. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: