Kehormatan adalah Segala-galanya

Kenakalan anak-anak Sukatani, Putra Putri Purnawirawan Kopassus sepertinya mengalami puncaknya sekitar tahun 1990. Pada waktu itu seorang sopir mobil kuning (lama-lama diganti Biru), sebut saja Agus, ia sempat bersitegang dengan 3 orang yang bersepeda motor. Mereka berboncengan hendak menuju ke Bioskop Galaxy. Diantara pengendara sepeda motor ini sepertinya ada anggota Polri. Dari perdebatan yang terjadi salah satu diantara pengendara motor sempat berucap “Bapaknya udah pensiun aja masih blagu ?”. Mendengar hal ini, Agus tidak terima. Ia pun langsung pulang ke perumahan. Tujuannya hanya satu mengumpulkan anak-anak Sukatani. Istilah jaman sekarang provokasi. Ia pun menghubungi abang saya. Maka berkumpulah anak-anak Purnawirawan ini di Pangkalan, Gas Alam dan sekitar Bioskop Galaxy. Mereka menunggu para pengendara tersebut. Usai pertunjukan bioskop, terlihatlah pengendara itu. Abang saya langsung mencegat mereka di dekat jembatan. Putra-Putri Purnawirawan lain bergerombol dibelakangnya. Sewaktu masih mengkonfirmasi atas ucapan salah satu diantara pengendara sepeda motor, tanpa ada yang mengkomandoi, langsung saja karena kesal diledekin dengan ucapan tadi, para pengendara motor dikeroyok oleh segerombolan anak sukatani. Balok, Kayu, Batu, apapun yang dibawa dihantamnya ke arah 6 orang tersebut. Tanpa dinyana diantara kerumunan banyak anak-anak, seorang anggota Polisi, terkena tusukan. Sepeda Motor mereka, ketiganya di buang ke kali di depan Bioskop. Tidak ada seorangpun yang dapat menghentikan pengeroyokan ini. Kekesalan atas ucapan sang oknum Polisi yang mengatakan “Bokapnya udah pensiun aja masih blagu” akhirnya hampir berujung maut. Mereka semua babak belur dihajar oleh anak-anak. Itulah hasil dari kekesalan. Jangan pernah sekalipun yang pernah menyinggung perasaan anak-anak Purnawirawan. Hasilnya yang didengar saat itu, oknum Polisi yang terkena tusukan, paru-parunya kempes meski tidak sampai meninggal. Begini jadinya apabila kehormatan ditindas. Bagi anak-anak tentara ini, Kehormatan adalah segala-galanya.

Sejak saat itu Polisi berusaha untuk menyelidiki siapa saja yang terlibat pada peristiwa itu. Segala cara upaya dilakukan oleh mereka terutama dari Polres Depok. Kalau dari Polsek Cimanggis sepertinya sudah tidak mampu lagi menangani anak-anak. Nuansa balas dendam atas peristiwa itu terlihat sekali. Anak-anak Sukatani tahu persis bahwa mereka senantiasa diikuti oleh para anggota Serse. Hingga suatu hari pada saat sekelompok anak-anak Sukatani ingin pulang ke rumah, sebuah razia-razia-an dibuat oleh Polisi. Ketika kendaraan yang ditumpangi oleh abang saya dan rekan-rekannya memasuki area razia, kendaraannya diminta untuk dibelokkan ke Jl. Tole Iskandar agar masuk wilayah hukum Polres Depok. Disini barulah para penumpang diatas kendaraan yang berisi anak-anak Baret Merah diminta turun dan dilakukan pemeriksaan. Dari hasil penggeledahan, ditemukanlah sebuah granat tangan. Hasil tangkapan ini sebenarnya tidak mengejutkan karena sepertinya anggota serse sudah mengikuti rombongan abang saya sedari tempat karaoke. Selama di tempat karaoke, abang saya memang menimang-nimang granat nanas yang sudah tidak aktif lagi. Akhirnya semua digiring ke Polres Depok. Di kantor polisi, mereka diperlakukan sangat tidak manusiawi sekali. Ada shooting, ada bentakan, hinaan dan lain-lain. Untuk menangkap anak-anak rupanya diperlukan Kapolres turun tangan. Waktu itu dijabat oleh Letkol M, kumis tebal tetapi kalau sedang marang bibir dan kumisnya ikut gemetar. Ke-6 anak-anak Purnawirawan Kopassus ditahan mulai malam itu termasuk abang saya hingga persidangan di Pengadilan Negeri Bogor. Setelah ditahan di Polres dalam kurun waktu 90 hari, mereka dipindahkan ke LP Paledang hingga persidangan usai.

Dalam proses persidangan yang terkesan dibuat-buat, ke-6 anak-anak ini divonis bersalah 6 (enam) bulan potong masa tahanan. Pengacara sebenarnya minta dibebaskan murni namun seperti disampaikan oleh Kejaksaaan mereka mendapat tekanan dari pihak Polres agar tidak main-main dan menghukum ke-6nya seberat-beratnya. Niatan Polres yang busuk tidak dapat terealisasi. Pada hari itu ke-6 anak-anak sukatani langsung bebas.

Mengingat dalam proses persidangan, persinggungan dengan oknum-oknum Polisi yang tidak puas selama persidangan, keluarga dari ke-6 terdakwa meminta bantuan rekan-rekan yang saat itu menjadi anggota Kopassus untuk mengawal kepulangan ke-6nya dari Paledang ke Cimanggis. Ini guna mengantisipasi rasa ketidakpuasan Polisi atas vonis yang diberikan. Memang benar di sebuah daerah di dekat Cibinong, adegan pura-pura ada razia dibuat. Untungnya di kendaraan paling depan ada anggota Kopassus yang mengawal. Saat rombongan anak-anak Cimanggis telah melewati daerah itu, semua anggota Polisi juga bergegas pergi. Pokoknya terlihat banget jika oknum Polisi itu mencari -cari alasan untuk menangkap lagi.

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok

Posted on 20/06/2010, in Putra Cijantung. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. NOVIA SUCIANI

    wah klw seperti brarti anak sukatani dn segerombolnya telah melanggar HAM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: