Pangkalan

Mulai 1989, para prajurit yang telah malang melintang “berperang” untuk mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia kembali harus meninggalkan rumah idaman mereka di Cijantung. Sebagian besar purnawirawan yang sudah membangun rumah mereka dengan permanen di Perumahan Bermis Cijantung 3, terpaksa harus pindah lagi. Kali ini Kopassus sudah menyiapkan Perumahan Purnawirawan khusus Baret Merah di Cimanggis. Seluruh pensiunan mesti meninggalkan perumahan di atas kali Ciliwung dan tinggal di Perumahan Kopassus Pelita 1, Pelita 2 dan Kedayu. Ke-3 perumahan itu dibiayai dari dana ASABRI. Hasil iuran para prajurit selama mereka berdinas.

Awal kepindahan, akses perjalanan agak sulit untuk menuju ke-3 perumahan itu. Rute di Pangkalan-Gas Alam-Pelita dan Pangkalan-Pekapuran-Lw. Nanggung hanya dilayani oleh Angkutan Pedesaan berwarna kuning. Kendaraan-kendaraan itu baru akan berangkat apabila tempat duduknya sudah terisi. Angkutan Desa ini parkir di sebuah tempat persis di depan sebuah Bioskop, namanya Bioskop Galaxy. Lokasi pangkalan tidak jauh dari Pasar Cisalak. Disini seluruh kendaraan angkutan pedesaan akan parkir untuk menunggu dan mengangkat penumpang ke arah perumahan Kopassus baik Pelita ataupun Kedayu. Pilhan lain bagi para penumpang jika ingin berkunjung ke Pelita atau Kedayu cukup menggunakan ojek dari Pekapuran atau Gas Alam. Biayanya pastinya lebih mahal dibandingkan jika kita mengambil angkutan pedesaan itu.

Pangkalan Mobil Kuning itu selama kurun waktu beberapa tahun juga sempat menjadi “markas” anak-anak Kopassus yang sudah purnawirawan. Mulai dari Palsigunung di Jalan Raya Bogor hingga Cimanggis semua sepertinya berada dalam kekuasaan anak-anak Kolong ini. Sebagai contoh, 3 bioskop di daerah Cisalak-Cimanggis semua masuk dalam “jajahan” anak-anak kolong. Bioskop Galaxy setiap bulan mengeluarkan sekitar 25-30 free pass bagi anak-anak purnawirawan. Sedangkan Bioskop Garuda di Cisalak setiap Sabtu membebaskan anak-anak Sukatani, sebutan lain buat kami, untuk menonton film. Film yang diputar meski tidak terbaru namun masih baru. Saya bersama teman paling senang film yang dibintangi Chou Youn Fa, Lee Tek Hua, Samo Hung. Sementara dari film barat aktor yang disegani seperti Steven Seagal, Van Damme, Arnold S. Pemutaran film biasanya mulai sekitar pukul 14.00. Terkadang jika belum puas, saya menonton hingga berkali-kali.

Pangkalan Mobil Kuning ini juga menjadi saksi kenakalan anak-anak Sukatani. Siapapun mereka apabila pernah nongkrong disini, pastinya kalau tidak main judi, minum-minuman keras atau berkelahi. Seolah pangkalan ini pusatnya kebejatan. Di pangkalan ini pula sekitar tahun 1990 pernah terjadi peristiwa tembak menembak antara anak-anak Sukatani dengan petugas. Kisahnya berawal dari seorang teman yang baru pertama kali nongkrong. Sebut saja, Wahyu, entah kenapa ia membawa Pistol orang tuanya. Di Warung Tegal satu-satunya yang ada di Pangkalan, abang saya bersama rekan-rekan putra purnawirawan mengokang Pistol. Ia mencoba menembakkan. Ternyata memang ” DOOR”. Bunyi suara tembakan dimalam hari membuat anggota serse Polisi datang mendekat mencari sumber suara. Mengetahui bunyi suara berasal dari Warteg tempat anak-anak Sukatani berkumpul, ia pun menangkap salah seorang dari anak-anak purnawirawan baret merah itu. Polisi rupanya berusaha menangkap mereka khususnya yang membawa pistol. Sayang sekali Polisi salah tangkap. Meski pistol itu milip rekan yang ditangkap polisi itu namun Pistolnya sendiri tidak ada padanya. Pistol ada pada abang saya. Karena rekan saya itu meronta sambil teriak, abang saya bersama rekan-rekannya berusaha mengejar oknum polisi yang membekuk seorang rekan kami. Tembak-menembak pun terjadi. Setelah dimasukkan ke mobil, polisi lantas kabur kearah Palsigunung. Abang saya bersama rekan-rekannya mengejar mobil yang berisi rekan kami. Alhasil kami memang tidak dapat mengejar lagi. Setelah proses pencarian keesokan hari barulah diketahui bahwa rekan itu dibawa masuk ke Kompleks Brimob Kelapa Dua sementara anak-anak Idjon Jambi ini mengejar ke arah Kramat Jati. Meski tidak ada korban, luka tembak diperoleh abang. Untungnya hanya dibawah kakinya. Meskipun begitu tetap harus dirawat dan saat itu dirujuk ke RS UKI.

Itu adalah sekian dari beberapa peristiwa yang pernah terjadi. Angin malam sepertinya memang merusak. Anak-anak Purnawirawan Kopassus setelah keluar dari tekanan di Kompleks seolah bebas sekali saat pindah ke Sukatani. Tidak ada provoost yang mengawasi. Maaf saja, Polisi tidak direken untuk mengatasi kami. Betapa tidak, oknum polisi sering menerima “upeti” kala itu dari beberapa warung, toko seputar Cisalak hingga Cimanggis.

Kini Pangkalan Mobil Kuning sudah tidak berfungsi. Lahannya sudah dipergunakan untuk bangunan Ruko. Sisi sebelah kiri terkena proyek jalan tol Cinere-Jagorawi. Bioskop Garuda, Cimanggis Theather, Galaxy Theater ketiganya telah tutup. Kenangan atas keberadaan mereka masih tersimpan dalam memori.

Iklan

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok, Ambon

Posted on 18/06/2010, in Putra Cijantung. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Kalau pasar Palsigunung daerah kekuasaan anak-anak kolong Brimob.
    Tapi sekarang udah gak ada tuh namanya anak kolong gak dimana-mana adanya FBR, Forkabi, dll.
    Jaman dah ganti bro..

    • Rani yg diketik itu kan peristiwa lama semua sdh berubah. Ngapain jg kalo mash kayak dulu. Kalo skarang Ada ormas silahkan sj apapun namanya. Jd sy sangat Sadar jaman sdh berubah btw setahu saya istilah anak kolong dulu itu hanya utk anak Tentara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: