Jadikan Disiplin Nafasku


Berbicara mengenai kedisiplinan, setuju atau tidak, hingga saat ini kiblatnya masih mengarah pada pihak Militer. Disiplin adalah nafas mereka. Lembaga apapun di Indonesia ini, negeri atau swasta, rasanya belum ada yang menyamai tingkat kedisiplinan di lingkungan ketentaraan. Hebatnya lagi pengaruh kedisiplinan ternyata juga nyata dalam kehidupan sehari-hari di perumahan militer. Artinya hal itu akan pula memiliki dampak bagi siapapun yang tinggal di dalam Kompleks tentara. Seperti yang saya sempat alami ketika puluhan tahun tinggal dan besar di Kompleks Kopassus, baik di Cijantung maupun Taman Serang Banten. Tersimpan kisah yang terjadi terkait kedisiplinan. Banyak ceritera tentang buah dari pelanggaran. Tidak sedikit pula berkisah mengenai betapa tinggi nilai kedisiplinan yang dianut di Markas Besar Pasukan Komando Indonesia ini.

Pada suatu waktu di sebuah kesempatan, ketika masih duduk di bangku SD. Ada seorang tukang becak membawa seorang tamu. Ketentuan bagi tukang becak, setiap kali mereka membawa tamu maka ia harus meminta penumpang itu melaporkan dirinya ke Pos Provoost terdekat. Entah karena lupa atau hal lain, siang hari itu ia tidak meminta tamu yang berkunjung ke Kompleks untuk lapor terlebih dahulu ke Pos Penjagaan di depan SMA 39 lama. Akibat dari hal itu sang tukang becak pun harus menerima resiko. Oleh Provoost yang dinas pada waktu itu, ia diberikan sanksi. Hukuman yang diterima adalah ia harus menaiki dan menuruni pohon rindang di dekat Pos Penjagaan. Setelah menaiki pohon hingga pada titik tertentu, ia mesti turun kebawah lagi. Kemudian tukang becak yang dihukum itu mesti menaiki pohon kembali sesudah ia tiba di bawah. Begitu seterusnya hingga beberapa kali, naik dan turun. Itu hanya contoh kecil saja apa yang pernah terjadi di Kompleks Cijantung.

Ceritera lain adalah mengenai penaikan dan penurunan bendera. Setiap pagi pukul 06.00 dan sore jam 18.00, prajurit yang sedang melaksanakan tugas Jaga Kesatrian di Kompleks Kopassus Taman Serang akan menaikkan dan menurunkan Bendera Merah Putih. Pada saat suara rekaman dari loud speaker mengeluarkan kalimat “Waktu Penaikan Bendera, supaya seluruh kegiatan dihentikan”. Maka tidak hanya Prajurit namun warga Kompleks yang waktu itu sedang berada di luar rumah harus menghentikan kegiatan mereka. Siapapun yang sedang melintas, berjalan, bersepeda, mengendarai mobil-motor, kudu berhenti. Prajurit atau penghuni mesti mengarah ke tiang bendera yang terletak di Mako Grup 1 Kopassus. Selanjutnya, bagi Prajurit dengan pakaian dinas mereka harus melakukan Penghormatan, sementara warga sipil cukup mengambil sikap sempurna. Begitupun pada saat sore hari manakala Bendera Merah Putih akan diturunkan. Rekaman melalui loud speaker akan mengeluarkan bunyi ” Waktu Penurunan Bendera, supaya seluruh kegiatan dihentikan.” Apabila hal tersebut dilanggar maka bersiaplah dengan hukuman atau sanksi yang akan diberikan. Oleh karena itu biasanya warga kompleks jika akan melakukan aktifitas di luar rumah atau bepergian, mereka akan mengambil waktu setelah penaikan dan penurunan bendera. Ini menunjukkan betapa disiplin merupakan harga mati di area militer.

Kejadian pelanggaran kedisiplinan pernah dialami ketika musim “ngadu” sepak bola. Sewaktu duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama, aktifitas mengadakan pertandingan sepak bola cukup tinggi. Terlebih lagi pada masa seperti saat berlangsung Piala Dunia layaknya di bulan Juni 2010 ini. Hampir setiap hari seusai sekolah, pertandingan bola antar kelas diadakan. Mengingat tanding bola dilaksanakan di Cijantung 3 sementara saya tinggal di Cijantung 1 maka saya meminta teman untuk menjemput dengan sepeda motor. Kebetulan sekali ada juga seorang rekan yang tinggal di Cijantung 1. Oleh karena itu jadilah kami berboncengan bertiga dengan sepeda motor. Padahal semestinya hal itu sama sekali tidak boleh dilakukan di dalam kompleks. Kesalahan yang kami lakukan, dobel, selain tanpa pelindung kepala, berboncengan bertiga lagi. Perjalanan dari Cijantung 1 ke Lapangan Gatot di Cijantung 3 biasanya ditempuh selama 15 menit saja dengan kendaraan. Terlihat oleh kami dari kejauhan sebuah mobil patroli milik Provoost. Hati kami bertiga ketar ketir. Khawatir bakal dihukum oleh petugas itu. Tidak lama mobil provoost tersebut berhenti di ujung barak. Seorang Prajurit dengan seragam loreng darah mengalir, baret merah dikepala, drag reem warna putih turun dari land rover yang dikendarainya. Kami sempat senang, sebab dengan demikian pastinya sang proovoost takkan menyulitkan kami bertiga. Rupanya dugaan tersebut salah, pada waktu motor kami melewati kendaraan piket itu, sang Provoost yang tadinya sudah turun dari kendaraan menuju pintu masuk barak, ternyata ia malah balik lagi ke mobilnya. Ia lantas menaiki lagi land rovernya dan mengejar kami. Dari kaca spion motor terlhat mobil itu berusaha menyusul kami. Tanpa bermaksud untuk melarikan diri, kami pun memperlambat laju kendaraan roda dua kami, menepi di samping kantin Chandrasa (dulu). Sang provoost dengan pakaian lengkap lantas memberhentikan kendaraannya persis didepan motor kami. Setelah turun, ia pun lalu menyapa kami dengan ucapan “Tahu apa kesalahan kalian ? ” Tanpa pikir panjang kami bertiga serentak menjawab, “Tahu oom”. Ia pun segera melanjutkan pertanyaannya sambil berkata, ” Tahu kalau orang salah harus menerima apa ?. Sekali lagi kami menjawab bersama, “Tahu oom,”. Oom Provoost ini pun lalu menyuruh melakukan Scout Jump. Tidak tanggung tanggung, ia meminta kami 100 kali scout jump. Katanya kesalahannya banyak. Meski sedikit mengeluh seraya meminta keringanan, prajurit ini tidak memberikan belas kasihannya. Sambil tolak pinggang, ia mengawasi kami menjalankan hukuman tersebut. Terang saja akibat sanksi ini, kami tidak jadi main bola. Kaki serasa lumpuh. Jangankan main bola, untuk berdiri saja membutuhkan waktu.

Itulah beberapa kisah mengenai bagaimana disiplin itu diterapkan di perumahan pasukan elite nomor 3 didunia. Atmosfer kedisiplinan terasa cukup tinggi. Tidak keliru apabila pada instansi Militer sering dijumpai tulisan “Disiplin adalah Nafasku, Kesetiaan adalah Kebanggaanku, Kehormatan adalah segala-galanya. Tulisan tersebut bukan hanya dijadikan slogan bagi prajurit saja namun memang dijalankan dalam kehidupan keseharian mereka. Pola kedisiplinan yang diterapkan di lingkungan militer seringkali dijadikan contoh teladan. Beberapa perusahaan besar masih menganggap pola seperti itu sebagai salah satu cara guna membentuk tingkat kedisiplinan bagi para karyawan baru termasuk di perusahaan ini. Meskipun tidak berarti bahwa pola seperti ini merupakan satu-satunya cara yang mesti dilakukan. Namun Disiplin itu hal yang perlu dipegang oleh setiap insan. Bagi prajurit Kopassus, Disiplin memiliki peran dalam rangka memenangkan pertempuran di medan laga. Untuk segenap karyawan, Disiplin merupakan salah satu pilar guna memenangkan peperangan dalam persaingan yang semakin ketat dewasa ini. Terlebih lagi manajemen telah mencanangkan tekad guna menjadikan Indosat sebagai World Class Company. Genderang perang sudah dideklarasikan dengan mengajak segenap karyawan untuk melakukan perubahan pola berpikir dan pola tingkah laku dalam kapasitas tanggung jawabnya selaku karyawan. Oleh sebab itu tanamkan tekad di hati, Jadikan Disiplin itu Nafasku. Bukan tidak mungkin Nomor 1 akan menjadi milik kita kembali. Mulai dari hal kecil, mulai dari diri sendiri dan mulai dari sekarang.

Iklan

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok, Ambon

Posted on 05/06/2010, in Putra Cijantung. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: