Ketika TUHAN mengambil anak saya

Betapa sulit buat kita menghadapi suatu peristiwa kehilangan orang yang kita kasihi. Ketika Tuhan memanggil salah satu anggota keluarga berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk melewati masa perkabungan tersebut ? Satu hari, satu minggu, satu bulan atau bahkan mungkin membutuhkan waktu lebih dari setahun ? Semua tergantung bagaimana kita menyikapi peristiwa itu.

Tahun 2005 lalu, Tuhan yang maha baik memberikanku seorang anak laki-laki. Bayi yang lucu, rambut tipis dengan bibir manis menghias wajahnya. Sayangnya sejak anak lahir, ia harus berpisah dari ibunya. Dokter yang merawat menyarankan agar anak saya dirawat di kamar intensif. Ia terlanjur meminum air ketuban yang telah berubah warna menjadi hijau. Tanpa pikir panjang saya pun menyetujui saran dokter. Setelah satu minggu dirawat, rupanya Tuhan memiliki rencana lain. DIA lebih sayang padanya. Putra pertama saya harus berpisah denganku pada saat saya mengharapkan kehadirannya, .

Sehari sebelum kepulangannya menjumpai Bapa di Surga, saya mengajak isteri untuk melakukan ibadah di dalam kamar perawatan. Saya dan istri membaca firman Tuhan yang terambil dari Matius 7 : 7-11. Lewat bacaan ini, saya mengajak isteri agar ia mau berserah kepada Tuhan. Apakah Tuhan akan memberikan Pintu Kesembuhan ataukah Tuhan justru memberikan Pintu Keselamatan. Sepanjang anak saya mengalami sakit entah berapa banyak orang yang turut mendoakan guna kesembuhannya. Saya meminta, mencari namun belum juga mendapatkan. Saya juga telah mengetuk namun pintu belum lagi dibukakan. Itu semua karena saya meminta, mencari serta mengetuk menurut kehendak saya sendiri. Permohonan yang disampaikan melalui doa selama ini belum dilakukan atas dasar kehendak Tuhan. Usai merenungkan firman pada hari Minggu siang itu, saya memutuskan melakukan penyerahan anakku secara total kepada Tuhan. Sambil berserah, saya mengetuk pintu hati Tuhan agar IA membuka Pintu Kesembuhan jikalau itu memang kehendakNYA. Dan saya juga dengan tegar menyerahkan anak saya agar Tuhan membuka Pintu Keselamatan baginya. Saya sudah tak tahan melihat anak pertama saya menderita diusianya yang masih belia. Hampir sepekan ia harus bergelut dengan jarum suntik, selang-selang yang melilit tubuh dan hidung mungilnya.

Sungguh luar biasa ! pada saat saya sudah tak tahu harus bagaimana lagi menghadapinya. Akhirnya pintu doa saya pun terjawab. Saya merasa bersyukur meskipun sesuatu yang menyedihkan harus diperoleh. Menjelang istirahat malam telepon selular saya mengeluarkan nada getarnya. Terlihat dari layar telepon, nama ruangan pada salah satu sebuah rumah sakit bersalin tempat dimana bayi saya dirawat. Anak saya masuk dalam masa kritis. Suster meminta saya datang ke ruang NICU. Satu hal yang sangat mengharukan adalah ketika dalam kondisi seperti itu anak saya masih bertahan. Ia menunggu papanya hadir membelai tangannya terlebih dahulu baru kemudian ia pergi untuk selamanya. Tuhan Yesus sudah mengajaknya bermain di Taman Firdaus persis sehari setelah saya berserah kepadaNya. Meski ia tidak pernah mengatakan namun kelihatannya ia ingin berpamitan kepada saya yang telah merawatnya. Lemas rasanya mengetahui anak terkasih harus meninggalkan saya sebelum kami menggendongnya.

Rasa sedih, kecewa bahkan marah sempat melingkupi hati. Mengapa Tuhan melakukan hal ini buat saya ? Apakah dosa saya begitu besar sehingga harus mengalami kesedihan yang dalam ? Sempat beberapa pertanyaan seperti itu terlintas dalam benak saya. Hal ini terus berlanjut hingga beberapa minggu. Saya masih belum mampu menerima peristiwa duka ini. Dukungan dari teman-teman yang memberikan kekuatan penghiburan melalui panggilan telepon, pesan pendek, surat elektronik rasanya belum cukup. Namun bagaimanapun juga saya harus kuat dan tabah dalam menghadapi pencobaan ini. Acap kali dari sebuah peristiwa yang tiada diharapkan seperti ini justru TUHAN ingin menyampaikan sebuah hikmat.

Usai beberapa minggu, akhirnya mulai dapat menerima kenyataan ini. Saya mulai memahami maksud TUHAN atas kejadian yang menimpa. Dan mengapa juga TUHAN memberikan kepada saya bacaan dari Matius 7 :7 – 11. Apabila direnungkan lebih dalam rupanya inilah jawaban Tuhan Yesus buat saya. Sebuah pelajaran iman ingin DIA sampaikan. Tuhan ingin agar saya senantiasa menyerahkan segala persoalan kepadaNya. IA ingin saya datang kepadaNya ketika berbeban berat sebab IA akan memberikan kelegaan. Jawaban pasti akan diperoleh manakala saya ingin menyerahkan setiap beban hidu. Inilah hikmat pertama yang di dapatkan ketika Tuhan memanggil anak saya.

Hikmat kedua adalah saya semakin mengerti bagaimana hubungan kasih antara ayah dan anaknya. Saya semakin paham mengapa sewaktu kecil dulu orang tua, Bapak dan Ibu saya begitu mengasihi. Hubungan Cinta Kasih seperti ini berlaku pula antara Tuhan dan Manusia. Betapa sayang dan kasihNya DIA kepada umat pilihanNYA. Layaknya Bapak dan Ibu serta saya mengasihi anak demikian pulalah Kasih Bapa terhadap anak-anakNya. Kasih Bapa disurga bahkan sangat melebihi orang tua dan kasih terhadap anak saya. Rasa Cinta Kasih saya kepada anak saya yang besar semakin menumbuhkan imanku karena kini saya semakin dimampukan untuk memahami mengapa sebagai orang percaya saya memanggil Tuhan yang hidup dengan sebutan Bapa. Hubungan dengan Tuhan sungguh dekat sekali karena DIAlah Bapa yang mengasihi sejak dahulu, kini dan selama-lamanya. Kasih yang DIA berikan tak menuntut balas dan IA takkan pernah melupakan KasihNya kepada saya.

”Tuhan menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepadaNYA. Apabila ia jatuh tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya”
(Maz 37 : 23-24)

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok

Posted on 04/06/2010, in Pelayanan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: