Sedih

Sedih. Saya sedang sedih. Sepekan ini kesedihan tengah menyelimuti kehidupan pribadi saya. Kesedihan sepertinya enggan beranjak. Saya sedih karena menonton tayangan televisi bagaimana pasukan Komando Israel melabrak kapal kemanusiaan untuk Palestina. Mereka melakukan operasi “Mobud alias Mobilisasi Udara” yang biasa diterapkan dalam sebuah operasi militer khusus. Tidak semua pasukan mampu melaksanakan “RAID”. Setahu saya di Indonesia saja hanya Pasukan dengan kualifikasi “KOMANDO” atau dengan kompetensi “RAIDER” yang mampu melakukannya. Operasi ini tergolong sulit mengingat objek pendaratan tidak sedang dalam posisi terdiam alias bergerak. Tega benar Israel melakukan “Operasi Mobud” untuk menghentikan misi kemanusiaan. Padahal sejatinya operasi itu cukup digelar untuk merebut sasaran atau objek vital dalam kondisi perang. Bangsa Yahudi sepertinya sama sekali tak memiliki rasa mengasihi terhadap sesama manusia. Oleh sebab itu saya sedih.

Saya juga sedih setelah pada saat meeting di hari Rabu, 2 Juni 2010, mendengar sebuah “bahasa komunikasi”. Kata yang saya lihat dan baca di paparan Group Head adalah “Successfully Achieved”. Kelihatannya mengandung arti yang positif. Sayangnya saya menjadi sedih setelah mendengar pemaparan dari beliau. Ternyata makna yang terkandung di dalamnya tidak mencerminkan “Success” pada kenyataannya. Jadilah kesedihan saya yang kedua.

Kesedihan ketiga adalah sandek alias pesan pendek yang diterima pagi hari ini. Saat membaca koran di gerbong 1, telepon selular bergetar di saku kanan. Pesan pendek dari abang. Isinya mengenai keadaan ayah yang sedang dirawat di rumah sakit. Kabar yang ditulis dalam sms itu membuat saya harus bersiap atas kemungkinan terburuk terkait kondisi Opa Joe. Betapa tidak, dalam pesan yang ternyata tidak pendek itu, memberitahukan bahwa keadaan papa saya semakin kurang baik. Papa saya ini, di bangsal perawatannya, kadang memandang lurus ke tembok rumah sakit tanpa berkedip. Seolah ia ingin mengatakan, dia tidak tahan lagi akan penyakit kanker lidahnya. Tambah pula sebagai kakak kedua, ia menyarankan kepada kedua adiknya termasuk saya agar tidak bepergian jauh, keluar kota maksudnya. Ia yang selalu mendapat giliran jaga malam di rumah sakit ini khawatir jika terdapat sesuatu menimpa ayah kami. Saya sedih kalau hal itu benar menjadi kenyataan. Rasa kehilangan akan kembali mampir dalam kehidupan pribadi. Sebuah rasa yang takkan ingin saya alami dalam waktu dekat ini sejak dipanggilnya anak terkasih pada tahun 2005 lalu. Masakan nasib saya yang tak pernah merasakan rasa sayang dari kakek dan nenek juga akan dialami oleh anak saya Joe Obama. Oleh sebab itu saya sedih.

Ketiga kesedihan yang sedang dialami oleh saya pada minggu pertama di bulan Juni ini rasanya kok beruntun sekali. Sekali tempo sempat terlintas mengapa bisa terjadi. Apabila pikiran seperti itu muncul, buru-buru saya buang jauh-jauh hal itu. Saya tidak boleh larut dalam kepedihan itu. Saya bersyukur memiliki malaikat pelindung. Sebagai manusia yang percaya kepada TUHAN, saya mesti mempersiapkan diri menghadapi ketiga kesedihan itu.

Saya senantiasa mendoakan agar peristiwa penyerangan tentara Israel terhadap Misi Kemanusiaan tidak lagi terulang. Saya berdoa bagi para pemimpin bangsa Yahudi agar mereka boleh diketuk oleh TUHAN supaya tidak lagi melakukan hal yang sama sekali tidak mencerminkan KASIH. Bagi para korban dan konflik yang terjadi dengan tulus hati, saya mendoakan agar seluruh persoalan dapat terselesaikan dengan baik tanpa adanya lagi hal yang malah memperkeruh keadaan. Simpati saya untuk mereka para korban dan konflik yang sedang terjadi.

Sedangkan untuk perusahaan yang dicintai ini, saya pasti dan selalu mendoakan agar para pimpinan di perusahaan ini terus melakukan langkah-langkah cerdas di dalam menjalani persaingan yang semakin hari semakin ketat. Saya berdoa kepada TUHAN agar tidak lagi mengalami keadaan dimana perusahaan tempat saya bekerja hanya tinggal nama saja seperti yang pernah dialami tahun 2003 lalu.

Sementara bagi ayahanda terkasih, saya mendoakan kiranya TUHAN yang empunya hidup akan memberikan kesembuhan. Namun apabila DIA memiliki kehendak lain, sayapun mesti siap menghadapinya. Dalam hati kecil, selaku anak “ragil”, sejak beliau dirawat, pikiran saya sudah mengajak keluarga untuk mempersiapkan hal yang terburuk. Papa saya usianya sudah 80 tahun. Menurut pemazmur, usia manusia paling lama 60 tahun. Bisa sampai umur 70 tahun jika kuat. Apabila mencapai 80 tahun, katanya, kehidupannya hanya sakit-sakitan. Dua hari lalu saya sempat memberitahukan isteri rencana terburuk apabila waktu itu datang. Langkah terbaik akan saya pilih jika ternyata “Pintu Keselamatan” yang diberikan oleh TUHAN. Saya pasrah apabila melihat keadaan Opa pagi hari tadi melalui pesan pendek yang dikirim oleh abang. Biarlah yang terbaik diberikan TUHAN kepada kami anak-anak yang mengasihi beliau.

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok

Posted on 03/06/2010, in Umum. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: