Papa “kembali” ke Tugu Ibu

Dering telepon berbunyi. Terkaget sejenak, lihat jam dinding, waktu menunjukkan pukul 01.00 dinihari. Dengan mata masih mengantuk, saya langsung menuju ke meja telepon. Ketika diangkat, suara seorang wanita menyapa. Rupanya kakak perempuanku yang menelepon. Ia mengatakan akan membawa papa ke rumah sakit. Papa mengeluarkan darah kental dari mulutnya. Akhirnya Abang Polly mengantarkannya ke rumah sakit. Ia ditemani oleh seorang anggota Satpam di Perumahan Purnawirawan Kopassus Kedayu.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Pagi itu, Kamis, 26 Mei 2010, papa Cimanggis mulai menginap di ruang Melati 11 Rumah Sakit Tugu Ibu. Ruang Melati ini berisi dua buah bangsal. Kebetulan sekali kamar melati 11 hanya diisi oleh papa sendiri dan tidak ada pasien lain. Disini, seperti biasa, papa dirawat oleh seorang Dokter Spesialis Penyakit Dalam. Namanya dr. Edy Harun. Ia adalah dokter yang selama ini merawat papa dalam hal menjaga stabilitas gula darah. Sedikit mengenai dokter Edy, ia dulu pernah berdinas juga di Kopassandha. Papa dan dr. Edy, keduanya satu team dalam tugas operasi di Timor Timur sekitar tahun 1975-1976.

Sebab utama ia dibawa ke rumah sakit bukan karena sakit diabetes yang diidapnya. Namun lebih dikarenakan obat herbal yang sedang diberikan kepadanya. Pada malam Kamis itu, papa mengeluarkan darah dari dalam mulutnya. Bentuknya seperti darah ayam yang telah beku. Masalahnya bukan sedikit tetapi cukup banyak gumpalan yang dikeluarkannya itu. Menurut Herbalis, ini adalah pertanda baik.

Kanker Lidah yang diderita papa ini memang sudah cukup parah. Menurut Herbalis, Stadium IV. Namun dengan obat herbal yang diberikan, sepertinya cocok. Hal ini terbukti dengan keluarnya darah beku tersebut. Ini adalah kali yang kedua. Melihat hal itu terjadi, kami sekeluarga sepakat untuk meneruskan pengobatan dengan metode alternatif ini. Apalagi Dokter Edy pun memperbolehkan hal itu. Selagi dirawat, ia tetap mengijinkan kami memberikan obat kumur herbal. Menurutnya, ia hanya akan berkonsentrasi pada keadaan gula darah, penghentian pendarahan, menghilangkan rasa sakit dan pengechekan flek yang terlihat di paru-paru.

Malam ini kak Fani dan bang Herman baru saja kembali mengambil obat Herbal dari Herbalis di Serpong. Tepat pukul 22.00 WIB papa Cimanggis diberikan lagi obat itu. Kali ini selain dikumur, ada juga dalam bentuk spray. Disemprotkan kedalam lidah papa.

Waktu sebentar lagi memasuki hari Sabtu 29 Mei 2010. Saya masih menunggu kehadiran Abang Herman yang akan menjagai papa hingga esok hari. Suara AC diatas jendela kamar melati 11 masih jelas terdengar. Dinginnya ruangan menambah rasa kantuk yang mulai terasa. meskipun bagian kaki terus diserang oleh nyamuk-nyamuk rumah sakit yang nakal.

Papa Cimanggis sempat terbangun dari tidurnya. Saya menghampiri. Ketika ditanya kenapa dia bangkit dari bangsalnya, papa mengatakan ia ingin minum. Di meja kecil dekat dengan jendela, segelas susu diabetasol telah tersedia. Tadi susu ini dibuat oleh Kak Fani. Sayapun mengambil dan memberikannya kepada papa CImanggis. Segelas penuh habis ditelannya.

Tepat pukul 00.00 WIB, suster mengganti infus papa cimanggis. Mereka bertigas memasuki kamar melati 11.

Terima kasih TUHAN atas waktumu. Sembuhkanlah ayah dan opa kami. Hanya kepadaMUlah kami berserah. Segala hormat pujian kuberikan padaMU

Kiranya TUHAN YESUS yang adalah sumber hidup akan memberikan kekuatan kepada kami semua.

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok

Posted on 28/05/2010, in Keluarga. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: