Perang Nama

Teori perkembangan kepribadian yang dikemukakan Erik Erikson merupakan salah satu teori yang memiliki pengaruh kuat dalam psikologi. Menurut Erik H. Erikson, dinamika kepribadian selalu diwujudkan sebagai hasil interaksi antara kebutuhan dasar biologis dan pengungkapannya sebagai tindakan-tindakan sosial. Hal ini berarti bahwa tahap-tahap kehidupan seseorang dari lahir sampai dibentuk oleh pengaruh-pengaruh sosial yang berinteraksi dengan organisme yang menjadi matang secara fisik dan psikologis. Teori Erikson ini membawa aspek kehidupan sosial dan fungsi budaya yang dianggap lebih realistis.

Menilik apa yang dikatakan Erikson diatas, bagi saya, dengan pemikiran sederhana, pengaruh lingkungan militer sedikit banyak akan melekat pada siapapun yang lahir, tinggal dan besar di perumahan tentara. Salah satu contohnya apa yang saya alami sewaktu tinggal di Cijantung. Para orang tua kerap memberikan nama kepada salah seorang putra atau putrinya dengan istilah ketentaraan. Seorang teman saya, diberikan nama sesuai dengan daerah operasi sang ayah pada saat itu. Saya mempunyai teman yang namanya Yudha Supriyatna. Nama Yudha merupakan petikan kata terakhir dari kepanjangan Kopassandha “Komando Pasukan Sandi Yudha“.

Belum lagi dalam hal pakaian, baju tidur anak-anak, biasanya dibelikan di toko koperasi dengan motif Loreng darah mengalir. Loreng kebanggaan pasukan elite nomor 3 didunia. Dan masih banyak lagi. Seolah pengejawantahan darah militer yang mengalir dalam tubuh mereka.

Hal itu merasuki pula ke dalam jenis permainan anak-anak kolong, sebutan bagi anak-anak tentara. Saat saya tinggal di Jl. Sungai Luis H 64 Cijantung 3, permainan terkadang mengandung unsur-unsur kemiliteran. Ada “games” perang-perangan, pedang-pedangan, dan tembak-tembakan dengan menggunakan buah. Ada juga permainan lain seperti Kelereng, Gambaran, Ketepel, Galaksi, Patok Lele, Karambol dan masih banyak lagi. Sedangkan olah raga yang kerap dimainkan umumnya sepak bola, bola kasti dan bulu tangkis.

Salah satu permainan yang bisa jadi tidak ada ditempat lain selain di Kompleks Militer adalah, Perang Nama. Permainan ini dimainkan oleh dua kelompok. Masing-masing kelompok paling sedikit masing-masing beranggotakan 5-7 orang. Prinsip permainan ini hampir sama dengan perang-perangan atau Paint Ball. Namun tidak menggunakan alat bantu apapun. Setelah disepakati ketentuan permainan dan titik temu atau assembly area, selanjutnya kedua kelompok berpencar. Satu kelompok mengarah ke bagian utara, sementara kelompok kedua menuju arah selatan. Kedua grup akan bertemu disebuah titik lokasi yang telah disepakati sebelumnya. Cara bermain, peserta cukup “menembak” sambil menyebutkan nama peserta dari musuh atau anggota kelompok lain. Seorang peserta dinyatakan tertembak apabila namanya disebut oleh kelompok musuh terlebih dahulu diarea pertemuan. Setiap kelompok berusaha mencari cara agar tidak terlihat oleh kelompok musuh atau lawan mainnya. Disini pengetahuan mengenai seluk beluk medan tempat permainan mutlak dibutuhkan. Dan serunya permainan ini hanya dimainkan pada malam hari saja. Sebuah tim akan dinyatakan menang apabila tim yang menjadi lawan perang semua anggotanya telah tertembak oleh kelompok lain.

Dalam perjalanan menuju tempat pertemuan saya bersama teman-teman membicarakan strategi yang akan dipergunakan. Kami membicarakan bagaimana strategi yang akan dipakai supaya keluar menjadi pemenang. Strategi yang digunakan salah satunya ; saling bertukar pakaian anggota satu dengan yang lainnya. Istilah tentara penyamaran.

Perang Nama juga membutuhkan kedisiplinan pribadi dan kelompok. Kedua hal itu akan menambah kemungkinan kemenangan tim. Selain itu perlu dijaga tingkat kerahasiaan. Apabila salah satu diantara rekan sudah tertembak, anggota kelompok lain mesti tutup mulut. Tidak diperkenankan memberitahukan dimana teman lainnya. Meski jarang, satu kelompok dapat dinyatakan menang apabila kelompok lain menyerah.

Secara tidak sadar apa yang sudah dimainkan banyak mengandung hal positif. Perang Nama sarat dengan nilai pembelajaran. Nilai tersebut diantaranya ; kejujuran, kedisiplinan, strategi dan kepemimpinan

Kejujuran dibutuhkan manakala seseorang tertembak. Jika tidak meiliki kejujuran mungkin saja “musuh” yang tertembak mengelak seraya mengatakan bahwa ia belum tertembak. Dalam permainan ini sangat dibutuhkan Kedisiplinan. Disiplin pada saat menjalankan strategi “perang” yang telah diputuskan sebelumnya. Ketika melakoni games Perang Nama dibutuhkan strategi jitu mengenai bagaimana memenangkan “Perang”. Selain itu terjadi pula proses pemilihan akan seorang pemimpin. Kelompok harus jeli dalam memilih siapa yang akan menjadi “komandan” dalam tim.

Saya bersyukur apa yang dilakukan 33 tahun lalu rupanya “terpakai” dalam dunia kerja sekarang. Polaritas antara genetika dan lingkungan telah membentuk saya dalam memasuki tahapan developmental stage “Adulthood”.

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok

Posted on 25/05/2010, in Putra Cijantung. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: