Layar Tancap di Cijantung

Satu-satunya stasiun televisi yang mengudara pada tahun 1970an hanyalah Televisi Republik Indonesia atau TVRI. Program TVRI yang disajikan cukup menyedot perhatian. Acara unggulan televisi ketika itu diantaranya fragmen atau kini disebut sinetron. Tidak jarang para pemirsa televisi juga disuguhi tontonan film. Selain film seri ada pula film lepas dan musik. Tidak ketinggalan penampilan grup lawak domestik juga menambah semarak siaran TVRI. Program lain yang tak kalah menarik pada waktu itu adalah Siaran Niaga. Siaran ini menampilkan iklan dan promosi. Selama tiga puluh menit penonton Televisi menyaksikan berbagai penawaran produk yang beredar pada masa itu.

Untuk menyaksikan tontonan film kerap tidak melalui Bioskop seperti saat ini. Pertunjukkan film salah satunya tersedia melalui Layar Tancap. Layar tancap adalah layar yang dipergunakan untuk pemutaran film dengan menggunakan sebuah kain putih berukuran sekitar 8×5 meter. Biasanya ukuran layar disesuaikan dengan lokasi pertunjukkan. Layar dibentangkan diarea terbuka, ditopang oleh dua buah tiang. Dapat dari besi atau bisa juga kayu. Kedua tiang penyangga pada sebelah kiri dan kanan ini selanjutnya ditancap kedalam tanah.

Pertunjukkan film melalui layar tancap di kompleks Cijantung pernah mencapai masa keemasan. Layar tancap kerap menjadi tontonan favorit pada masa itu. Sebuah hiburan yang selalu dinantikan oleh penghuni perumahan. Salah satu ciri adanya pemutaran film dapat dikenali melalui munculnya para penjual Kacang Rebus. Menjelang magrib, para tukang kacang, sambil mendorong gerobak, beriringan menuju lokasi pemutaran film.

Film layar tancap di Kesatrian Ahmad Yani pada waktu itu tidak melulu karena adanya sebuah hajatan apakah sunatan atau pernikahan namun juga diperuntukkan bagi para prajurit. Tujuan nya untuk memberikan hiburan kepada mereka. Tontonan film ini ditujukan kepada para anggota pasukan elite terbaik nomor 3 di dunia yang sedang bertugas ; Jaga Kesatriaan, Piket Grup dan Siaga. Istilah di militer biasa disebut Konsinyir. Konsinyir adalah situasi dimana para prajurit dipersiapkan untuk menghadapi segala kemungkinan yang terburuk. Apabila keadaan ini sedang diberlakukan acap kali para prajurit sama sekali tidak diperkenankan keluar kesatriaan atau kompleks. Ketika itu konsinyir kerap diberlakukan semasa Danjen Kopassanda dijabat oleh Brigjen Yogie S Memet. Kegiatan diadakan dalam rangka kesiapan pasukan Baret Merah guna menghadapi tugas operasi di Timor Timur dan Irian Jaya (kini Papua).

Pemutaran film melalui layar tancap di Kompleks yang dilewati Sungai Ciliwung ini biasanya mengambil lokasi di beberapa tempat. Suatu kali, pertunjukkan di siapkan ditembok kantor Grup 4 dekat area parkir kantin Chandraca. Lain waktu di Lapangan Cijantung 1 dekat Barak bujangan para Prajurit Komando. Tidak sedikit pula layar tancap dipancang di Lapangan Merah. Sedikit ceritera mengenai lapangan ini. Dalam perkembangan selanjutnya, lapangan ini dinamakan Lapangan Atang Sutresna, diambil dari nama salah seorang Prajurit terbaik yang dimiliki Kopassandha (kini Kopassus) pada masa itu. Penghargaan diberikan untuk mengenang bagaimana jiwa kejuangan Mayor Atang Sutresna dalam perebutan Kota Dili 1976. Menurut ceritera dari ayah, ketika pertempuran sengit terjadi di kota Dilli, Pak Atang dan seorang prajurit pemegang radio berusaha menurunkan bendera Portugis. Kedua prajurit gagah berani itu bermaksud menggantikan bendera musuh dengan Bendera Merah Putih. Namun takdir tidak berpihak kepadanya. Ia tertembak dan gugur sebagai kusuma bangsa.

Sebuah tempat lain yang sesekali dipergunakan untuk menonton film layar tancap adalah Lapangan Gatot di Cijantung 3. Lapangan rumput ini sesungguhnya adalah Lapangan Tembak. Namun pada perkembangannya dalam pelbagai kesempatan sering dipergunakan juga sebagai lapangan sepak bola. Disini berdiri sebuah monumen, yang didalamnya terdapat sebuah patung setengah badan seorang pahlawan. Namanya Kolonel Gatot Subroto. Sebab itulah lapangan ini lebih populer dikalangan penghuni kompleks dengan sebutan Lapangan Gatot.

Film yang diputar melalui Layar Tancap tidak sedikit ragamnya. Namun mayoritas yang diangkat adalah film laga. Sesekali pernah pula film-film keluarga. Tontonan menarik itu terkadang merupakan produksi Barat, India dan tidak jarang mengambil film-film dari negeri tirai bambu. Selain kisah filmnya menarik juga banyak menampilkan aktor dan aktris ternama. Bintang film Mandarin yang masih nyata dalam ingatan saya hingga saat ini adalah Chen Kuan Tai. Saya suka sekali film-film yang dibintangi oleh aktor silat tersebut.

Layar Tancap di Kesatrian Ahmad Yani Cijantung, digelar tidak hanya pada hari libur. Beberapa kali juga pernah dipertontonkan pada hari kerja. Mengingat tujuan pemutaran film layar tancap utamanya adalah untuk memberikan hiburan bagi prajurit yang sedang konsinyir, maka jam tayangpun tentu saja dibatasi. Paling larut film diputar hingga pukul 02.00 dinihari. Itupun jika keesokan harinya adalah hari libur.

Penikmat layar tancap cukup menggunakan tikar atau kertas koran sebagai alas duduk. Karena lokasi pertunjukkan langsung beratapkan langit, maka tentu saja penonton tidak akan kepanasan. Tidak pula memerlukan alat pendingin udara. Meskipun demikian hembusan angin malam terkadang cukup menusuk hingga ketulang. Biar malam tambah seru, kudapanpun tak ketinggalan. Makanan favorit pada waktu menonton layar tancap adalah kacang rebus dan jagung rebus. Hari semakin indah manakala cakrawala menampilkan cahaya terang bintang yang bertaburan dilangit menemani para penikmat layar tancap sepanjang malam hingga dinihari.

Di balik itu semua, ada sebuah hal paling unik dari pergelaran Layar Tancap. Bukan karena banyak film menarik. Tidak juga disebabkan oleh aktor-aktris yang ganteng dan cantik. Hal unik itu datang ketika hujan mulai turun kebumi, membasahi tidak hanya penonton tetapi juga proyektor. Apabila hal tersebut terjadi, maka bubarlah pertunjukkan layar tancap malam itu. Namanya saja Misbar alias Gerimis Bubar.

Era layar tancap mulai tergerus dipergelarkan di Cijantung, seiring dengan tersedianya Kaset Video yang beredar disamping mulai gencarnya promosi yang dilakukan oleh pengelola gedung Bioskop Caprina di Cijantung 2 (kini Graha Cijantung). Selain kedua hal itu penurunan jumlah pertunjukkan layar tancap bisa jadi disebabkan oleh kepindahan unsur pasukan Parako (Para Komando) dibawah pimpinan Kolonel Wismoyo Arismunandar ke kompleks anyar di Taman Serang Banten dan relokasi pasukan Grup 3 ke markas Karianggo Makasar (kini menjadi Brigif Kostrad). Peristiwa relokasi besar-besaran Grup 1 dan Grup 3 terjadi pada periode pertengahan Agustus 1981 sedikit banyak menyebabkan Layar Tancap di Cijantung semakin menurun kuantitas perhelatannya. Namun satu hal yang pasti, Layar Tancap pernah mencapai masa kejayaan. Layar tancap merupakan media hiburan yang ditunggu-tunggu oleh penghuni markas pasukan RPKAD khususnya dan masyarakat sekitar pada umumnya.

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok

Posted on 22/05/2010, in Putra Cijantung. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: