Ceritera Tentang Mutasi Roh


Sebut saja Luna, seorang petugas cleaning service. Ia pada pagi hari sekitar tahun 1997an menjalani tugas di toilet wanita di Gedung D Lantai 1. Ketika ia sedang membersihkan toilet entah disebabkan oleh apa, perempuan muda ini kemasukan roh halus. Iapun meronta. Sontak meramaikan suasana pagi hari. Kekuatannya melebihi berat aslinya. Selanjutnya ia dibawa ke ruang Divisi Management Service yang letaknya bersebelahan dengan toilet. Petugas cleaning service yang sedang kerasukan roh ini diletakkan didepan pintu masuk ruang Kepala Divisi. Kami yang menggotong tak kuat lagi. Beberapa orang karyawan sibuk “menyadarkan” Luna dari kerasukan roh jahat ini. Berbagai ‘jurus” mereka gunakan. Ada yang memencet jempol kaki. Luna langsung teriak. Ada yang membaca-baca ayat-ayat suci. Perempuan ini meronta. Semua jurus dipakai untuk menyadarkannya. Hasilnya memang ada. Luna pun sadar. Semua senang, Luna sudah bisa berbicara lagi. Ia haus. Lantas diberinya minum segelas air putih yang tersedia di salah satu partisi rekan kerja. Selanjutnya kami membawa Luna ke ruang kantor Cleaning Service di ujung bagian luar gedung D.

Ceritera tidak berakhir sampai disini. Roh halus memang sudah keluar dari tubuh Luna namun bukannya dia pergi ke alamnya malah justru roh jahat itu tetap beredar di Gedung D. Roh ini merasuki salah seorang rekan satu Divisi. Sebut saja Maya namanya. Maya adalah salah seorang yang ikut mencoba untuk “menenangkan” Luna. Ia memijat-mijat kaki Luna saat itu di ruangan Cleaning Service. Roh Halus itupun pindah ketubuhnya. Kini giliran Maya yang meronta, tertawa geli seorang diri. Saya bersama beberapa rekan langsung membaringkannya di ruang meeting Divisi Management Service. Di ruangan ini beberapa karyawan kembali mencoba kemampuan mereka. Ada yang memencet jempol kaki lagi. Ada yang komat-kamit, awalnya pelan lama kelamaan semakin cepat. Hingga ada salah seorang rekan yang saat ini di lantai 10 KPPTI, ia mencipratkan air putih dari gelas seraya mengatakan “Keluar lu, Keluar lu,”. Sempat juga seorang karyawan menelepon “orang pintar”. Ketika telah tersambung, telepon genggam merek Siemens S4 Power sang Ibu ditempelkan ke telinga Maya. Percuma saja, tak ada hasil. Roh jahat tetap bersemayam dalam tubuh Maya. Bahkan ia semakin meronta. Maya terus berteriak. Sesekali ia menyebut nama salah seorang nama karyawati di Gedung D. “Ngapain ibu anu (sensor) di toilet tadi pagi ?”. Kali ini kami semua kewalahan. Yang dapat dilakukan hanya mengawasi agar dia tidak sampai keluar ruangan.

Seorang karyawati menghubungi “orang pintar”. Orang pintar ini adalah seorang pegawai di salah satu Departemen. Ia masih menggunakan seragam warna biru muda dengan celana panjang biru tua. Setibanya diruangan, ia menegur kami yang hadir. Roh halus yang berdiam di tubuh Maya rupanya sekeluarga. Ada Kakek, Nenek dan seorang cucunya. “Memperlakukan mereka tidak boleh dengan kekerasan,” katanya. Mereka sedang mengantar cucunya bermain, lanjut Bapak paruh baya sambil menggepit koran ditangannya. Ia berdiri di depan pintu ruang meeting.

Sang Paranormal mencoba merajuk roh halus agar pulang keasalnya. Roh jahat dalam tubuh Maya masih ogah. Ia malah meminta sesuatu. Roh jahat yang ada didalam raga Maya merajuk minta mobil-mobilan. Sebuah payung warna biru diberikan oleh sang paranormal. Roh halus itu menolak “Mobil-mobilannya maunya yang merah”, katanya. Kemudian staf Divisi Management Service mencarikan payung warna merah. Setelah permintaannya terpenuhi, saya dan beberapa teman memapah Maya menuju kendaraan operasional yang telah disiapkan di area parkir Gedung D.

Perlahan mobil kijang putih polos membawa Maya ke sebuah warung rokok kecil yang sudah tidak terpakai di dekat Pos Satpam bagian tengah tempat memberikan kartu parkir kendaraan (kini SMK Sandy Putra). Tiba di lokasi, Mayapun dibawa turun didampingi oleh sang paranormal. Bapak Paranormal ini berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia dengan roh halus ditubuh Maya.

Jarak antara mobil dengan warung sekitar tiga puluh langkah. Baru sepuluh melangkahkan kaki dari mobil, Maya bereaksi, “Aduh sakit,”. Maya berteriak kesakitan. Telapak kakinya rupanya menginjak duri. Di satu sisi Maya tersadar. Pada sisi lain, roh Halus telah kembali kerumahnya. Saya mendengar, Bapak Paranormal itu mengatakan, kalau main tidak perlu jauh-jauh. Diseputar sini saja, katanya kepada Roh itu. Selanjutnya kami pun kembali ke Gedung D.

Sang Paranormal memberikan nasehat kepada Maya. Selama ini dia memang jarang sekali menjalankan kewajiban agamanya untuk sembahyang. Soalnya dari sekian orang yang turut memijat, menggotong Luna, mengapa hanya Maya yang kerasukan. Agar kejadian tidak terulang, orang pintar dari sebuah Departemen ini meminta Maya agar ia memakai Sumbu Kompor yang dililitkan dipinggangnya, seperti ikat pinggang, selama satu minggu.

Sejak peristiwa itu, di Daan Mogot terpasang sebuah alat pengusir Energi Negatif. Alat seperti baling-baling itu diletakkan diatas koridor yang menghubungi Gedung D dengan Gedung A. Percaya atau tidak, pada beberapa waktu memang tidak ada lagi peristiwa sejenis meskipun ceritera lain tentang Mahluk Halus tetap saja muncul.

Saat ini Luna masih bekerja. Sementara Maya telah meninggal dunia, menghadap sang khalik beberapa tahun kemudian karena sakit.

Iklan

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok, Ambon

Posted on 20/05/2010, in Office. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: