Cacah Jiwa alias Sensus

Pastikan Anda di Hitung, begitu slogan BPS menyambut Sensus 2010. Menurut wikipedia sensus penduduk atau cacah jiwa adalah sebuah proses mendapatkan informasi deskriptif tentang anggota sebuah populasi. Terdapat tiga macam sensus yang dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik. Sensus tersebut adalah: Sensus Penduduk, Sensus Pertanian dan Sensus Ekonomi. Sensus Penduduk pada umumnya dilaksanakan pada tahun yang berakhiran “0” atau dalam jangka waktu sepuluh tahun. Ketikan dibawah ini hanya ceritera ringan dengan latar belakang sensus.

Saya sedang memberi makan anak. Ia baru saja mengunyah 3-4 kali suapan dari papanya. Sebuah suara ketokan besi diluar terdengar. Hingga ketokan ketiga kalinya saya baru keluar mengintip siapa yang datang. Sebelumnya saya berpikir suara ketokan itu bukan bersumber dari rumah saya, mengingat tetangga depan rumah memang sedang membangun. Dari dalam rumah terlihat seorang wanita berdiri dibalik pagar. Perempuan ini mengenakan jilbab warna putih dengan baju warna putih dilapisi rompi. Roknya panjang dengan sepatu warna hitam. Sambil membawa tempat makan bayi, saya menghampirinya. “Ada apa ya bu ?” tanya saya kepadanya. Iapun menjawab, “Saya petugas sensus“, jawabnya. Mendengar jawaban wanita dengan topi dan rompi biru ini sayapun mempersilahkan masuk. Pintu pagar besi digeser olehnya. Sambil membawa sebuah dokumen ia meminta ijin ke ruang tamu. Duduk dikursi dekat pintu masuk.

Cuaca diluar panas sekali pada hari Sabtu 15 Mei 2010 itu. Saya lantas memanggil isteri keluar dari kamar untuk turut menjumpai petugas pencacah tersebut. Saya tidak dapat menemaninya duduk diruang tamu karena saya masih mendulangi anak.

Dia kemudian mengeluarkan tumpukan formulir. Saya melihat ia memisahkan sebuah formulir dari tumpukan itu. Iapun memulai menulis sesuatu dengan menggunakan pensil. Ketika sampai pada pertanyaan tempat tanggal lahir, saya lantas mengambil saja fotokopi KTP yang memang saat itu tersedia diatas meja dekat telepon rumah. Sepertinya data yang akan ditanyakan sama persis dengan KTP. Yakin dengan hal, saya memberi juga foto kopi KTP milik isteri. “Sekalian aja, daripada dia nanya lagi mendingkan melihat jadi gak salah,” begitu pikir saya dalam hati sambil menyuapi anak. Ia menanyakan mengenai keterangan anggota rumahtangga termasuk jenis kelamin, umur, pendidikan dan ketenagakerjaan. Wanita petugas pencacah ini juga ingin mengetahui keterangan sosial-budaya diantaranya agama, suku dan bahasa sehari-hari. Karakteristik bangunan tempat tinggal baik kondisi maupun fasilitasnya juga sempat ditanyakan kepada isteri.

Saya tersenyum geli manakala terjadi percakapan kecil antara isteri dengan petugas sensus tersebut. Saat itu ia sedang menunduk untuk menulis kota kelahiran isteri. “Padangsidempuan propinsi Sumatera Barat ya bu ” katanya. “Bukan Sumatera Barat tapi Sumatera Utara bu,” sahut isteri. “Ooh, Sumatera Utara ya kirain Sumatera Barat,”. Sang petugas mengira karena ada kata Padang maka kota Padangsidempuan dianggap masuk propinsi Sumatera Barat. Dalam hati saya, mengapa ada petugas pencacah yang tidak mengetahui hal seperti itu. Bagaimana jika diberikan keterangan yang tidak benar oleh masyarakat. Apakah dia juga akan tetap menulis kedalam formulir pendataan sesuai dengan penjelasan dari warga yang ditanya.

Namun demikian saya appreciate atas apa yang telah dilakukan. Betapa tidak, ditengah panas terik, dia ketuk rumah satu kerumah lainnya. Kadang menerima sambutan hangat kadang juga mungkin dilecehkan. Untungnya di blok perumahan saya hal seperti yang terjadi di sebuah perumahan di Serpong minggu lalu tidak terjadi. Di Serpong warga menolak kehadiran petugas sensus di clusternya. Berita yang terdengar oleh media saat itu alasan penolakan salah satunya karena di cluster tersebut tinggal seorang konglomerat. Meskipun keesokan harinya hal itu disanggah oleh Ketua RT setempat.

Setelah menngisi jawaban saya kedalam formulir atas pertanyaan mengenai apa pekerjaan saat ini, petugas pencacah lapangan ini pun pamit. Saya melihat isteri berjalan mengiringi ia keluar dari ruang tamu. Saya mendengar mereka mempercakapkan sesuatu. Wanita pencacah ini katanya baru mendapatkan empat rumah saja sedari pagi. “Kebanyakan malah tidak dirumah ya bu ” ucapnya kepada isteri sambil melangkahkan kaki menuju pintu pagar rumah. Wanita dengan rompi biru yang bertuliskan Petugas SP 2010 pada bagian belakang itupun bergegas mengarah kesebelah rumah.

Nilai kejujuran dari warga ternyata berperan juga dalam pendataan ini. Apakah ingin memberikan jawaban yang benar atau tidak semua diserahkan kepada anda dan saya.

Selamat Bertugas bu, pakai topinya biar tidak kepanasan.

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok

Posted on 16/05/2010, in Umum. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: