Penumpang Tak Berkarcis

Saya bangun pagi sekali. Jam dinding mentari menunjukkan pukul 04.00 WIB. Isteri dan anakku masih tertidur. Kalau kata The Beatles, mereka sleeping like a log. Saya mengambil kunci rumah yang terletak diatas motor untuk membuka pintu depan. Suara kokok ayam yang panjang menyambut saya ketika menghampiri pagar rumah. Jalanan terlihat basah. Hujan semalam rupanya masih menyisakan bekasnya. Bergegas saya mengambil handuk ingin mandi. Hari ini Senin, 10 Mei 2010, saya ingin berangkat lebih pagi. Saya mau menumpang kereta ac ekonomi jurusan Tanah Abang yang berangkat pukul 05.30 WIB. Apabila naik kereta ini, saya dapat pulang kantor lebih awal mengambil paket A. Kalau pulang dengan paket A, pastinya bisa main dengan Joe, anakku. Saya sudah lama tidak mengajak Johannes keliling kompleks perumahan rumah.

Suara orang mengaji di Mesjid masih terdengar. Saya segera menembus dinginnya pagi dengan menggunakan sepeda motor warna biru bergaris kuning milik sendiri. Jaket dengan motif bendera negara Jerman membungkus tubuh saya setidaknya mengurangi rasa dingin yang menusuk tubuh.

Jalan raya sepi. Belum banyak aktifitas terjadi. Lampu penerangan jalanpun masih menyala. Warung, toko, rumah, semua tutup. Keramaian hanya terdapat dipersimpangan jalan dekat Polsek Sukma Jaya. Lebih dari empat orang berdiri dipinggir jalan menunggu kedatangan kendaraan umum yang akan mengantar mereka ke kantor atau sekolah. Terlihat juga sebuah bus departemen “ngetem” persis di depan sebuah bengkel tambal ban motor.

Saya membutuhkan waktu 18 menit untuk sampai di Stasiun Depok lama. Seorang petugas ditempat penitipan motor menyambut. Ia berujar ” Mandiin gak ?” (maksudnya dicuci). Saya menjawab tidak perlu. Ia pun langsung menempatkan motor saya disebelah kiri dari pintu masuk.

Loket di stasiun tidak semua buka. Hanya 2 saja yang melayani. Sedangkan 4 orang lainnya terlihat belum membuka loketnya disebabkan mereka sedang menghitung uang kembalian. Tidak lama saya sudah mengantongi karcis disaku dada kiri. Informasi kedatangan kereta menyambut saya pada saat membeli sebuah koran langganan. Saya segera mempercepat langkah menuju arah depan. Para penumpang mengambil ancang-ancang untuk memasuki kereta di tepi jalur dua. Kereta api berhenti, pintu terbuka. Saya dan para penumpang pun menyerbu masuk. Saling berebut tempat duduk.

Saya memperoleh tempat duduk persis di dekat pintu. Suara penumpang memecah kesunyian gerbong. Pedagang makanan, koran menambah ramai suasana di dalam gerbong satu. Tidak lama kemudian, kereta pun segera meluncur membelah udara pagi.

Setibanya di Stasiun Pondok Cina, seorang pria turut menaiki kereta di gerbong satu bersama penumpang lain. Lelaki paruh baya dengan baju warna putih dengan celana biru dibungkus dengan jaket warna hitam berdiri didepan saya. Tas kerja dia simpan persis diatas tempat duduk saya. Sampai disini semua berjalan apa adanya. Saya duduk, lelaki itu berdiri bersebelahan dengan penumpang lain.

Sebuah teriakan ” Karcis”, memecah udara dingin dalam gerbong. Dua orang petugas melewati sambungan gerbong. Mereka menuju gerbong satu, tempat saya bersama penumpang lain berada. Seorang melayani penumpang pada sisi kiri sedangkan seorang lain memeriksa karcis penumpang yang duduk disisi kanan.

Mendengar teriakan dari kondektur, lelaki paruh baya yang sedang berdiri didepan saya beranjak perlahan mendekati pintu keluar. Saya berpikir dia akan turun distasiun terdekat. Tetapi kenapa pria itu tidak membawa tas kerjanya. Itu pertanyaan saya dalam hati sambil mengamati gerak Bapak ini. Ternyata dia tidak turun. Seiring dengan berlalunya dua orang petugas tiket dari barisan tempat duduk kami, lelaki perlente tadi kembali bergeser berdiri di hadapan saya. Kami saling berhadapan penuh arti. Saya yakin Bapak ini juga mengerti apa arti tatapan mata saya. Saya juga tak melihat pria necis ini mengeluarkan dan memberikan karcis kepada petugas. Disamping itu petugas memang tidak memeriksa tiket penumpang yang akan turun.

Di Stasiun Manggarai lelaki ini turun tanpa lupa membawa tas miliknya. Sayapun merasa geli. Rupanya masih ada penumpang yang tidak membayar ongkos kereta. Saya yakin ia tak memiliki tiket. Pandangan mata saya terus mengikuti kemana dia beranjak. Diapun menatap saya dengan penuh arti. Pakaian necis, perlente, tapi sayang tidak membeli tiket. Kasihan sekali.

Pemberitahuan oleh petugas dari pengeras suara memaksa saya menyiapkan diri untuk turun di Stasiun Sudirman. Tentunya sambil tersenyum geli.

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok

Posted on 11/05/2010, in ROKER. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: