Bersusah Dahulu Bersenang Kemudian

Berita tentang Ujian Nasional sepertinya belum usai. Ada saja hal lain yang menarik untuk diperbincangkan. Salah satunya seperti yang saya dengar hari Minggu lalu.

Seorang kakak saya mengajar di salah satu Sekolah Menengah Atas di bilangan Jakarta Timur. Pada Minggu sore itu kami bercakap mengenai Ujian Nasional yang sudah berlangsung. Di meja makan, iapun semangat berceritera. Ia menangkap tangan seorang siswa yang sedang asik mencontek. Sedari awal ia sudah mulai curiga terhadap sekolah tempat dia ditugaskan untuk mengawasi. Sejak memasuki halaman sekolah, ia sudah menjumpai sebagian besar murid di Sekolah tersebut dengan riang sedang berkumpul sambil bernyanyi gembira. Melihat gelagat seperti itu kakak saya mencoba menghubungi Sekolah asalnya. Menanyakan kepada rekan seprofesinya bagaimana suasana di sekolahnya. Rekan gurunya menginformasikan bahwa murid-murid sedang berkumpul di depan tiang bendera. Dipimpin oleh salah seorang dari para murid, mereka semua berdoa sebelum memasuki ruang ujian. “Lho, kok bertolak belakang sekali ya, kenapa disini malah pada nyanyi-nyanyi, gumamnya dalam hati dengan penuh tanda tanya.

Rasa curiga inipun berlanjut hingga keruang ujian. Kakak saya ini mulai memperhatikan salah seorang peserta ujian. Ia heran mengapa ada murid yang sedang ujian sedari tadi memangku kaki terus menerus. Normalnya seseorang kalau memangku kaki pastinya tidak akan terlalu lama namun yang satu ini kok berbeda. Iapun akhirnya memergoki murid itu. Sang muridpun kaget ketika disebelahnya sudah berdiri pengawas ujian. Kakak saya lantas mengambil selembar kertas yang berisi kunci jawaban yang disimpan pada kaki murid tersebut. Diapun mengatakan kepada anak murid ini, “Nanti kamu ambil di Kepala Sekolah ya,”. Kakak saya berencana menyerahkan kertas tersebut secara diam-diam. Ia mendesak Kepala Sekolah agar mau ke ruangannya. Pasalnya pada saat itu Kepala Sekolah sedang berbincang dengan seseorang dari tim independen. Kertas Kunci Jawaban itupun diberikan kepada Kepala Sekolah diruangannya tanpa diketahui tim independen.

Selanjutnya ketika pengumuman keluar. Angka kelulusan sekolah tempat kakak mengawasi tidak sampai 100%. Sementara itu kelulusan di Sekolah asal kakak dinyatakan lulus 100 %. Untuk wilayah DKI Jakarta, hanya ada empat Sekolah yang berhasil meraih angka kelulusan sempurna. Sekolah-sekolah tersebut adalah SMAN 14, SMAN 62, SMAN 48 dan SMAN 71 (kalo tidak salah). Semua SMAN berdomisili di Jakarta Timur. Kalau menurut kakak, mereka yang tidak lulus mungkin terlampau percaya kepada kunci jawaban yang sudah mereka terima. Padahal jika mau saja belajar, tidak mustahil mereka akan lulus juga. Pasalnya hanya untuk soal Biologi dan Bahasa Indonesia yang agak sulit.

Dalam hati saya, berlaku juga bersusah-susah dahulu bersenang-senang kemudian di Sekolah. Mereka yang tidak lulus rupanya yang menyanyi riang gembira sebelum ujian berlangsung. Sedangkan murid-murid yang lulus sebelum mengikuti Ujian mereka berdoa secara khusuk. Pancen doa itu nomor wahid ya.

Iklan

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok, Ambon

Posted on 03/05/2010, in Umum. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: