Habis Manis Sepah Dibuang Habis Dinas Semua Ditendang

Hari ini saya memperoleh kesempatan untuk mengantarkan ayah ke Rumah Sakit. Minggu lalu ia disuspect kanker lidah. Dalam hati saya berkesempatan untuk mengikuti bagaimana sih pengobatan dengan menggunakan fasilitas kesehatan yang dimilikinya.

Tiba di rumah sakit pusat tersebut, saya pikir sudah termasuk kepagian rupanya salah besar. Di loket sudah begitu banyak yang mengantri. Pada saat saya mengambil nomor dengan menekan alat pengambil nomor, keluarlah tiket yang tertera angka 524. Waduh sudah banyak juga ya. Padahal biasanya abang saya berangkat lebih siang dari hari ini kira-kira dapat nomor berapa, tanyaku dalam hati.

Secara umum seperti biasa pelayanan dengan menggunakan fasilitas ini memang terkesan ribet. Dari satu loket ke loket lainnya. Dari satu antrian masuk ke antrian yang berbeda. Belum lagi menunggu masuk ke ruangan periksa. Semua memerlukan kesabaran tingkat tinggi. Padahal antara waktu mengantri dan menunggu jauh lebih lama dibandingkan waktu pemeriksaan dokter. Hampir saja saya memutuskan untuk mengambil pola pasien umum yang berbayar namun niat itu saya batalkan karena seorang ibu disebelah saya mengatakan, “Sama saja Mas, malah rugi.” Pikir saya kalau membayar mungkin jadi berbeda pelayanannya, padahal sama saja.

Satu hal yang saya peroleh dari kegiatan hari ini sesuai judulnya habis manis sepah dibuang habis dinas semua ditendang. Betapa tidak, pada saat mengambil nomor, mengantri diloket hampir semua pasien adalah para Purnawirawan. Usia mereka sudah tidak muda lagi. Bisa jadi ada yang sudah diatas 55 tahun, ada juga yang berusia diatas 60 seperti ayah saya saat ini 80 tahun. Saya hanya dapat menangis dalam hati “Begini ya negara memperlakukan para purnawirawan,”. Siang itu tidak lebih dari lima orang anak-anak muda yang sakit, semua orang tua. Mereka disuruh mengantri, kemudian berjalan ke loket lain untuk periksa ini dan itu. Disaat usia yang sudah uzur ini para Purnawirawan tersebut memperoleh perlakuan seperti itu. Seperti halnya dialami oleh ayah saya. Ingin konsul ke Bedah Tumor saja harus rumit dijalaninya. Setelah mengambil nomor, mengantri menunggu panggilan untuk memperoleh SJP (Surat Jaminan Pelayanan). Selesai diloket ini, pindah ke loket didepan supaya bisa mengambil nomor urut periksa. Ditempat ini nanti akan diberikan Berkas Medical Record. Dari sini berjalan kembali menuju ke kamar periksa, antri lagi. Menunggu kurang lebih dua jam, masuk kamar periksa. Di dalam kamar periksa, mending di periksa dipegang saja tidak. Selanjutnya perjuangan belum berakhir. Setelah mengetahui hasil laboratorium menyatakan sebaiknya tumornya dioperasi, saya dan ayah beranjak dari lantai 1 ruang Bedah Tumor kemudian mengarahi ke loket radiologi. Jaraknya mungkin bagi orang muda tidak masalah namun bagi orang tua seperti ayah saya hal ini merupakan persoalan tersendiri. Dengan tokat ditangan kanan, langkah tertatih berpindah dari ruang di timur ke barat utara ke selatan. Daftar di administrasi diarahkan oleh petugas supaya menunggu di kamar nomor 8. Maksud hati selesai di rontgen bisa ke Poli Paru ternyata malah disuruh besok. Melihat Poli Jantung berdekatan dengan Poli Paru, tiba di loket yang dituju ternyata waktu konsultasi sudah selesai, Tutup, tertera tulisan diatas meja. Apalagi Laboratorium bagian ini sudah tidak menerima layanan sejak pukul 10.00. Kecuali Rontgen akhirnya semua itu harus dilakoni kembali keesokan harinya.

Sungguh ironis sekali. Dulu waktu masih dinas, Baret Merah di kepala, loreng darah mengalir, pisau komando dipinggang, wah bangga sekali melihatnya. Belum lagi kalau sudah menyandang FNC di dada. Tugas kemana saja siap sedia demi nusa dan bangsa. Setiap ditanya oleh Komandan apapun itu jawabannya hanya satu “SIAP, DAN !” Mampu atau tidak. Sanggup atau Tidak Sanggup, jawaban yang kudu didengar hanya satu, “SIAP”. Tugas di daerah operasi atau melaksanakan tugas bagi negara adalah Kebanggaan bagi para prajurit terpilih dari prajurit pilihan ini.

Dalam benak para prajurit saat masih dinas hanya satu saja, mengemban tugas negara. Tidak ada pikiran lain selain hal tersebut. Hal ini dapat terjadi karena segala sesuatu diperhatikan oleh kesatuan. Apalagi masalah kesehatan. Saya saat masih tinggal di Cijantung dan Taman Serang tidak perlu repot keluar biaya sepeserpun. Tak usah mengantri lebih lama-lama. Sakit tinggal ke KSA, jalan sebentar sampai. Daftar di Loket Admin, tunggu sebentar masuk ruang periksa. Suntik, ambil obat, sembuh. Simpel. Pokoknya semua sudah tersedia.

Tapi apa yang saya lihat, amati hari ini di rumah sakit, sungguh bertolak belakang sekali. Sepertinya tidak ada penghargaan sama sekali buat mereka para Prajurit yang sudah mendarma baktikan tenaga dan pikirannya untuk bangsa dan negara. Mengapa mereka harus mondar mandir dari loket satu ke loket lain. Lantai satu kelantai lain. Justru dimasa tuanya mereka mengalami hal ini. Di saat tubuh sudah lemah, badan tidak lagi kekar seperti dahulu. Belum lagi jika mengingat Gaji mereka sudah dipotong untuk membayar iuran fasilitas kesehatan selama karirnya namun sayang sekali hanya seperti inilah pelayanan yang diberikan.

Habis Manis Sepah Dibuang, Habis Dinas Semua Ditendang. Itulah inti pelajaran yang saya peroleh hari ini. Mari persiapkan masa tua kita. Jika kita tidak ingin dibuang, persiapkanlah mulai hari ini. Buka mata dan telinga untuk melanjutkan hidup sampai asa ditanggung badan. Siapapun kita ; Prajurit, Karyawan, Pegawai. Apapun golongan kita, jangan pernah membanggakan apa yang sudah pernah kita berikan kepada Kesatuan, Instansi, Perusahaan. Semua itu tidak memiliki arti apapun. Masyarakat dan Bangsa ini belum sampai pada tahapan Bangsa yang menghargai para pensiunan, purnawirawan. Kebanggaan sewaktu masih dinas, aktif di Kesatuan, Instansi dan Perusahaan hanya akan menjadi sebuah catatan sejarah. Tidak lebih tidak kurang. Kebanggaan itu tidak hanya berlaku saat aktif dan takkan membawa perubahan apapun dimasa tua bagi kita.

Terima Kasih TUHAN, Engkau Sungguh Baik dan Teramat Baik. Engkau saja yang tak pernah meninggalkan aku.

Semoga Cepat Sembuh papa, Aku mengasihimu. Aku belum dapat menggantikan semua yang pernah kau beri saat membesarkan aku.

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok

Posted on 13/04/2010, in Tak Berkategori. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: