Musibah datang kapan saja

Layaknya pasukan infantri, setibanya di Gondangdia dengan menumpang Depok Ekspress saya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Medan Merdeka Barat. Setiba di kantor, ada wingko babat oleh-oleh dari Diklat Pemprov Jateng yang sedang berkunjung ke ITCC.

Sekitar pukul 10.00 sesuai dengan jadwal yang sudah disusun langsung menuju Knowledge Center Lantai 23 menjumpai mahasiswa yang akan Kerja Praktek di ISAT.

Usai melaksanakan Briefing, lanjut ke RSIA Harapan Kita besuk salah seorang anak karyawan. Rupanya kali ini dia sakit dbd. Namun berangsur angsur sudah pulih. Anehnya kata dokter ada virus yang menyebabkan anak ini masih panas.

Setibanya kembali dari besuk, tidak ada hal istimewa yang dilakukan. Lihat lihat form SPT melalui myinfo. Pukul 16.30 jam bekerja sudah berakir. Turun dengan menggunakan Lift, buru-buru mengejar 640 untuk ke Dukuh Atas.

Tidak lama sesudah tiba di Dukuh Atas, “Pakuan Ekspres masuk jakur 2” demikian informasi dari petugas. Para penumpangpun bergegas berebut menaiki kereta. Awalnya tidak ada permasalahan berarti, namun menjelang masuk Stasiun Manggarai mulailah timbul kesulitan. Kereta berjalan seperti mobil yang rodanya kempis dipaksa jalan. Pada saat Kondektur memeriksa karcis, dengan ringannya kedua petugas menjawab pertanyaan salah seorang penumpang, “Ada kereta didepannya,”

Perasaan ada kereta didepan tidak kayak begini. Masa kayak orang kedut-kedut begitu jalannya kereta api. Dengan tertatih masuk juga kereta kami ke Manggarai. Semenit kemudian, keretapun berusaha berjalan kembali. Namun masih seperti sebelumnya tidak mulus berjalannya. Tiba-tiba ada teriakan “Kebakaran, keluar, keluar,” Para penumpang di gerbong 2,3 pun panik. Beberapa diantaranya berusaha memecahkan kaca. Lainnya sibuk mencari barang dan melipat kursi yang dibawanya. Pintupun keduanya terbuka, maka melompatlah semua penumpang. Bahkan ada yang terjatuh saking paniknya.

Hujan rintik tidak dipedulikan lagi. Terpenting dapat keluar dari gerbong yang terbakar. Bau menyengatpun tercium diiringi dengan asap. Petugas mengambil APAR dan memadamkan api yang menyembul dari bagian bawah salah satu rangkaian gerbong. Untung saja cepet keluar dan diatas musibah ini.

Sekitar sepuluh menit selanjutnya, Kereta Pakuan jam keberangkatan 17.21 pun berhenti. Kereta ini mengangkut kami dari rangkaian gerbong KA Pakuan Ekspres. Bisa dibayangkan, 2 kereta dijadikan satu. Belum lagi di Stasiun Cawang kembali menaikkan penumpang. Sampai-sampai ingin mengambil handphone dikantong celana bagian kiri pun tidak mampu. Bagaimana bisa mengambil wong depan belakang kiri kanan semua manusia. Mending wangi, semua bau apek. Ingin balik badan susah dibelakang sudah ada penumpang lain. Mau mengarahkan badan ke sebelah kiri ada orang juga. Waduh payah nih. Bisa bertahan tidak nih sampe Depok.

Akhirnya keretapun berhenti di Pocin, Depok Baru dan Depok Lama. Setibanya di Stasiun Depok Lama, langsung ngacir dari Gerbong No. 4.

Musibah kadang tidak kompromi ia hadir. Tapi satu hal yang pasti kami semua saat itu diselamatkan. Terima kasih TUHAN atas perlindunganMUA

Iklan

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok, Ambon

Posted on 23/03/2010, in ROKER, Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: