Bahagia Adalah Nostalgia Sambil Latihan Menembak

image

Minggu 26 April 2015, saya berkesempatan untuk mengikuti kegiatan Indosat Shooting Club yang menyelenggarakan latihan bulanan bagi anggotanya. Ada setidaknya dua alasan saya sangat tertarik mengikuti kegiatan ini meski jatuh di hari Minggu. Pertama saya rindu untuk kembali masuk ke tempat dimana puluhan tahun lalu saya biasa bermain. Saya rindu melihat rumah kami tempo dulu , tempat dimana saya dibesarkan sampai SMP. Kedua tentu saja saya ingin juga merasakan bagaimana memegang bedil lagi. Kepingin untuk mencoba dar der dor. Ketika ikut Pendidikan Dasar Menwa di Secata Gombong Jawa Tengah semasa kuliah sudah pernah menembak dengan Senapan M16 A1 namun hanya 10 peluru saja. Belum terasa nendang. Itupun kayaknya sudah lupa dengan yang namanya Pisir dan Pejera. Apa beda dan kegunaannya diungkapkan lagi oleh Pelatih yang mendampingi. Kini kesempatan itu datang maka ajakan seorang rekan rasanya tak boleh saya sia-siakan. Jadilah sejak pukul tujuh sudah berada di lokasi padahal kegiatan baru akan dimulai satu jam setelah kedatangan saya.

image

Memang rasanya beda ketika masuk kembali ke Kompleks yang terkenal sebagai Pasukan Nomor Tiga didunia. Tata ruang yang rapi, kebersihan yang terjaga terlihat sekali saat memasuki perumahan Baret Merah ini. Apalagi ketika melewati rumah yang sekitar 10 tahun kami huni. Dulunya nama jalan rumah kami Jalan Sungai Luis namun kini sudah berganti menjadi jalan Chandrassa 7 jika tidak salah melihat. Jalan yang dulu berbatu kini sudah beraspal, rapih dan bersih. Tiang Rambu Lalu Lintas jelas terlihat seolah mengarahkan pengendara kemana harus meluncur. Setelah belok kiri tepat di samping Lapangan Atang Sutresna (d/h Lapangan Merah), saya melintasi Sekolah Taman Kanak-Kanak yang dulu saya masuki. Namanya kini sudah berganti. Dan terlihat juga Gereja dimana saya tempo lalu bersekolah Minggu. Nama Gereja tetap sama POUK Immanuel tidak berubah, entah kalau gereja katolik disebelahnya, kemarin kok saya melihat nama Valentino. Sepanjang jalan yang dahulu dinamakan Jalan Dili untuk mengingat gugurnya Mayor Atang Sutresna dalam Operasi Seroja, perebutan Kota Dili 7 Desember 1975 di Timor Timur terawat bersih dan Rapih. Nama Atang Sutresna ini sudah dipakai sejak gugurnya almarhum sebagai pengganti nama Lapangan Merah. Persis diujung Jalan Dili ini, saya mulai menurunkan kecepatan motor kemudian mencari petunjuk dimana Lapangan Tembak Rama Sinta ini berada. Setahu saya lapangan tembak yang dekat gereja adalah Lapangan Tembak tempat saya dan teman-teman mencari bekas selongsong peluru. Lapangan tembak itu kini diberi nama B. Sudaryanto diambil dari nama seorang perwira, ayahanda teman saya Budi dan Iwan, tetangga kami, yang meninggal dalam tugas di Operasi Seroja tahun 1975an. Beliau gugur di Sungai Luis Timor Timur, oleh karenanya untuk mengenang perjuanganya nama jalan di rumah kami Sungai Luis. Lepasnya Timor Timor membuat semua nama yang berbau Timor Timur kini sudah dihapus diganti salah satunya dengan nama Chandrasa.

Saya pun mencoba bertanya kepada seorang prajurit yang sedang naik motor menuju ke Posko Ekspedisi NKRI. Dengan ramah prajurit ganteng itu membuka kaca helm kemudian memberikan penjelasan kepada saya dimana lokasi lapangan Rama dan Sinta tersebut. Rasanya moto Danjen Kopassus NO 3M, yakni Jangan Melotot, Marah dan Memukul benar benar dipraktekkan oleh para Prajurit termasuk prajurit yang saya tanyai. Si Prajurit malah menjalankan juga 3S nya Danjen, yakni Senyum Sapa dan Salaman. Berbekal informasi dari keramahan prajurit tersebut saya meluncur menyusuri jalan samping lapangan B. Sudaryanto hingga akhirnya sampai di mulut terowongan yang hanya muat satu kendaraan saja. Dalam hati saya bergumam, luar biasa ini baru Pasukan Khusus namanya. Kita ingin ke lokasi saja sudah dibangkitkan adrenalinnya. Rasanya jika malam hari masuk terowongan ini saya takkan berani.

Setibanya dilokasi, belum terlihat rekan Indosat Shooting Club, yang kelihatan hanya beberapa Prajurit yang sedang membersihkan lokasi dan dua orang provoost yang mengatur parkir. Katanya Danjen akan berkunjung setelah olah raga pagi untuk menembak namun sampai saya pulang beliau tak jadi datang, mungkin pindah ke lapangan lainnya.

image

Saat semua team berkumpul, seorang pelatih yang tadi meyapa kami semua dengan Salam Komando, mulai memberikan instruksi bagaimana mengikuti ketentuan Menembak yang baik. Hal pertama dan utama yang diperkenalkan adalah Faktor Keamanan. Selanjutnya beliau menjelaskan bagaimana memegang Pistol dengan benar. Usai pemberian penjelasan dilanjutkan dengan pembagian peluru. Kami masing-masing dipanggil namanya kemudian diberikan 1 Box Peluru 19mm berisi 50 butir. Wow ! Saya pikir cuma sepuluh ternyata sebanyak itu makin semangat dong jadinya.

Satu per satu kami mencoba menembak Pistol diarahkan oleh 3 orang pelatih. 1 kali sortie, meminjam istilah Terjun Payung, ada 3 orang anggota Indosat Shooting Club yang dibimbing. Ada 6 orang pemula termasuk saya yang baru bergabung jadi pertama diperkenalkan dengan Pistol dahulu. Paling tidak supaya paham betul cara memegang, bernafas dan menembak. Baru sesudahnya saya termasuk yang mencoba menembak dengan MP5 untuk 15 peluru terakhir. Betapa senangnya hati pada hari ini karena bisa belajar menembak Pistol. Dengan belajar menembak, saya jadi mencoba belajar lebih sabar lagi. Saya tidak boleh terburu-buru dalam mengambil keputusan. Saya juga belajar untuk fokus pada target yang harus dicapai. Ketiga hal tersebut jadi insight learning yang boleh saya petik sepanjang 3 jam kegiatan menembak ini. Pelatih membantu mengungkapkan keberdayaan yang saya miliki untuk kemudian dilatih, dilatih dan dilatih supaya paling tidak muncul kesabaran yang lebih tinggi lagi. Konsentrasi dan fokus pada apa yang akan dicapai perlu  diperbaiki selalu. Alhasil yang tadinya tembakan diluar lingkaran hitam akhirnya pada sesi kedua paling tidak 4 peluru masuk lingkaran hitam di angka 8 dan 9. Cukuplah Buat Pemula !

Terima Kasih Indosat Shooting Club, saya sudah dapat bernostalgia dan berlatih menembak. Semoga bulan depan dapat mengikutinya lagi dan memperoleh nilai kesabaran yang meningkat. Bahagia rasanya bisa bernostalgia sambil mendapat ilmu menembak dari pasukan Komando terbaik di Indonesia.

Terima kasih Pak Pelatih yang menemukan keberdayaan saya yang harus ditingkatkan. Juga terima kasih saya ucapkan karena ternyata setelah puluhan tahun sang Pelatih masih mengenal almarhum papa, “Kalo tidak salah, Bapak itu dulu Pa Roh kan ya” begitu ucapnya saat saya hendak pamitan dengannya. Saya pun mengangguk tanda setuju sambil salam komando dengannya.

Selamat Hari Minggu dan Happy Shooting ! Jayalah Selalu Kopassus ! KOMANDO !

Perayaan PASKAH 2015 GPIB Pancaran Kasih Sektor BETEL

image

Meskipun sehari sebelumnya hujan seharian membasahi bumi Depok Bogor termasuk tanah di daerah Sentul, namun semangat mengingat rayakan Kebangkitan Yesus Kristus sepertinya tiada sedikitpun luntur dihati dan pikiran jemaat yang akan turut serta dalam Ibadah Paskah Sektor BETEL Minggu 5 April 2015. Walaupun kendaraan yang akan mengantar jemaat terlambat hadir di depan Pos Polisi Perumahan akan tetapi sekali lagi semangat Paskah tetap menggebu-gebu dihati sanubari sekalian jemaat yang sedari malam sudah mempersiapkan diri dengan membawa perlengkapan dan pakaian yang pas serta cocok untuk ibadah padang.

4 kendaraan bus serta lebih dari 7 buah kendaraan kecil menyusuri jalan raya bogor di waktu subuh menuju Kampung Wisata Sentul lokasi dimana Perayaan Paskah GPIB Pancaran Kasih – Sektor BETEL Depok diselenggarakan. Pujian syukur dan hormat disampaikan kepada Tuhan oleh karena anugerahNya cuaca pada minggu pagi tadi dalam keadaan cerah. Doa semua umat terkabulkan mengingat satu malam sebelumnya hujan mengguyur lokasi cukup besar dan lama.

image

Saat MENTARI mulai menunjukkan wajah cerianya di lokasi, Ibadah Paskah yang dipimpin oleh Pdt. Domidoyo itu berlangsung khidmat dengan khotbah yang sangat mengena bagi seluruh jemaat yang hadir dilapangan beralaskan terpal warna biru dibawah pepohonan rindang nan hijau

Usai ibadah Paskah acara dilanjutkan dengan kegiatan bagi Sekolah Minggu yang mengadakan lomba mencari telur dipandu oleh Kakak Pelayan Anak. Acara tradisi khas Paskah ini berlangsung di area tanaman buah organik disebelah pendopo. Beberapa tanaman buah terlihat sudah mengeluarkan buahnya menambah indah suasana pagi itu. Satu lagi kegiatan anak yang sangat ditunggu oleh anak anak Sekolah Minggu adalah acara Menangkap Ikan. Ikan Mas disebar di kolam percontohan kemudian setelah aba-aba mulai diberikan dengan bunyi pluit mulailah puluhan anak masuk kolam dan segera mengejar ikan mas yang sudah bertebaran di seantero kolam. Anak-anak mengejar ikan-ikan di kolam yang dalamnya hanya diatas mata kaki orang dewasa. Satu per satu sorak gembira terdengar karena mereka mendapatkan ikan mas. Penyelenggara menyediakan kantong plastik untuk menyimpan ikan yang sudah tertangkap. Tak berapa lama kemudian pluit berbunyi kembali tanda waktu menangkap ikan telah selesai. Anak Layan mesti keluar dari kolam. Dibawa oleh orang tua masing masing, anak anak Sekolah Minggu terlihat berjalan menuju Sungai Cikeas yang letaknya bersebelahan dengan kebun pepaya. Disini para orang tua membasuh anak mereka sebelum kembali menuju ke lapangan utama untuk makan pagi dan dilanjutkan acara pembagian doorprize. 

image

Gemericik air sungai Cikeas yang mengalir turun menuju daerah yang rendah terdengar cukup kencang seolah ingin turut menyapa Selamat Paskah bagi seluruh jemaat ditengah hari itu. Ucap syukur terima kasih kepada Tuhan, Engkau sudah memberikan cuaca yang tidak panas apalagi hujan sehingga Ibadah Minggu Perayaan Paskah di Kampung Wisata Sentul bagi Jemaat GPIB Pancaran Kasih Sektor BETEL boleh berlangsung  penuh khidmat, lancar, aman dengan sukacita kebangkitan Tuhan Yesus Juruslamat Dunia.

image

Sampai Jumpa di Perayaan Paskah Tahun Depan dan

Selamat PASKAH !

Catatan Khotbah Opa : Sesal Kemudian Tak Berguna

image

Khotbah Minggu 19 Oktober 1980
Hakim-Hakim 11 : 29 – 40

“Jika tidak ingin menyesal, keputusan kita harus lahir dari pertimbangan yang matang dalam penyerahan pada pimpinan Tuhan”

Riwayat hidup Yefta luar biasa. Yefta anak Gilead dari seorang perempuan sundal. Ia diusir saudara tirinya yang menghendaki harta warisan mereka jatuh penuh ke tangan mereka. Yefta meninggalkan rumahnya dan di Tob bekerja sebagai pemimpin perampok. Dalam keadaan terdesak bangsa Israel mengutus para tua-tua untuk mengundang Yefta menjadi pemimpin Israel menghadapi bangsa Amon. Yefta menerima undangan tersebut sesudah terjadi perjanjian bahwa ia diakui tua-tua untuk memimpin bangsa Israel. Yefta tidak mendendam tidak juga membalas kejahatan dengan kejahatan. Yefta tahu dengan pasti bahwa Tuhanlah hakim yang berdaulat penuh. Yefta yang menurut penilaian manusia tersisih justru dipilih Allah. Tetapi pilihan Allah itu besar kuasa nya. Perubahan tajam terjadi pada diri Yefta. Jalan hidupnya berubah, sikap hidupnya berubah. Tujuan hidupnya pun berubah. Ditangan Tuhan dia menjadi alat pembebasan Tuhan yang ampuh.

Pertentangan Israel dengan Amon adalah tentang tanah yang diduduki Israel. Mereka menuduh Israel merampok tanah mereka. Tetapi menunjuk pada fakta sejarah, Yefta menyalahkan tuduhan tadi. Sebab bangsa- bangsa itu yang mudah menyerang Israel. Tuhan yang berkuasa menyerahkan ini ke bawah tangan Israel. Yefta berpegang pada kedaulatan dan kehendak Allah pemilik dunia ini. Serangan Israel sebenarnya adalah serangan terhadap rencana Tuhan yang memilih Israel untuk menyelamatkan dunia ini. Maka tindakan Tuhan memilih dan membela Israel sama sekali bukan pilih asih. Pertimbangan iman tentang kenyataan hidup ini jauh berbeda dengan pertimbangan yang dibuat dari posisi tidak beriman. Itu sebabnya logika yang bertitik tolak dari iman, tidak pernah bisa bertemu dengan logika ya menilai tanpa iman. Orang KRISTEN pun tidak luput dari kemungkinan salah menilai. Karena itu, penting selalu mulai berpikir dan melangkah dari Tuhan dan rencanaNya. Pertempuran Israel dengan Amon tak terhindarkan lagi. Tuhan mengirim Rohnya kepada Yefta. Sebelum maju berperang Yefta bernazar akan mempersembahkan sebagai korban bakaran apa saja yang keluar dari pintu rumahnya saat ia tiba kembali dari peperangan.

image

Yefta menang gemilang. Tetapi yang menyambutnya pertama adalah anak perempuan tunggalnya yang belum menikah. Walau kaget dan terpukau ia tidak dapat mundur dari nazar yang sudah terlontar. Anaknya menerima nasibnya dengan berani. Ia meratapi kegadisannya sebelum dipersembahkan kepada Tuhan.

Bukankah sering keputusan dan tindakan kita, kita sesali kemudian hari. Semuanya terjadi karena kita tidak mempertimbangkan masak-masak. Apa yang melandasi niat, ucapan, janji dan tindakan kita ? Pikiran, Perasaan. Penilaian, Kemauan dan Keputusan kita harus dilandasi oleh kebenaran. Jika tidak ingin menyesal, keputusan kita harus lahir dari pertimbangan yang matang. Dalam penyerahan pada pimpinan Tuhan Yang Maha Kuasa sumber dari kehidupan kita pribadi lepas pribadi.

Catatan Akhir :
1. Yefta menurut penilaian manusia tersisih, tapi justru dipilih Allah
2. Pertimbangan Iman
3. Bukankah sering keputusan kita, kita sesali dikemudian hari

Sumber :
Catatan Khotbah Pdt. F.S Katipana
Diketik ulang oleh Dkn W.Katipana
Jumat 27 Maret 2015

70 : 20 : 10

702010

Salah satu prinsipil dari NLP atau biasa disebut The Presuppositions of NLP mengatakan “Learning is Living, we can not not learn”. Asumsi yang dianggap benar ini ingin mengatakan bahwa banyak jutaan informasi masuk kedalam pikiran setiap detik setiap saat. Kita senantiasa belajar dan belajar selalu sepanjang kehidupan ini. Proses belajar takkan pernah terhindarkan oleh kita selama nafas masih dikandung badan.

Melalui ketikan ini mari mengingat kembali selama ini aktivitas yang menurut pengalaman diri kita selama ini apa yang memberikan suatu “perubahan” paling besar dari sisi peningkatan kemampuan dan kompetensi Pribadi ? Sebagian besar kita mungkin mengatakan ketika ia diberi penugasan baru. Sebagian lagi ketika terlibat dalam projek yang melibatkan orang-orang yang expert dalam bidangnya. Beberapa orang lain justru mengatakan mereka merasa dirinya berkembang setelah ia membaca buku yang inspiratif atau setelah mendapatkan “coaching” dari atasan bagaimana melaksanakan sebuah tugas agar lebih efektif. Fakta –fakta yang diangkat dari realitas tersebut membuktikan bahwa mengikuti training, baik di dalam maupun di luar negeri bukan merupakan satu-satunya cara untuk pengembangan diri.

Asumsi di atas memang tidaklah terlalu salah, mengapa demikian ? Hal ini sejalan dengan pemikiran Michael Lombardo dan Robert W. Eichinger dari Center for Creative Leadership. Keduanya menyatakan bahwa pengembangan diri seseorang untuk karir dan performansi yang lebih baik adalah mengikuti metode 70:20:10.

Apa yang dimaksud dengan metode 70 : 20 : 10?

Riset yang dilakukan menunjukan bahwa 70% peningkatan kompetensi diperoleh melalaui praktek mengerjakan secara langsung baik melalui on the job training seperti masa percobaan untuk jabatan/posisi lebih tinggi atau penyelesaian assignment setelah mengikuti sebuah training. Kesempatan melakukan sebuah pekerjaan secara langsung ternyata membuat seseorang mencoba dan merasakan langsung dimana hal tersebut akan menggiring pada proses pemecahan masalah terkait pekerjaan yang telah terbukti sebagai metode yang paling efektif dalam meningkatkan kemampuan dan kapabilitas seseorang.

Selanjutnya 20% efektivitas dalam proses pembelajaran diperoleh langsung dari proses coaching dari line manager. Melalui proses mentoring dengan role model yang dipilih, Benchmarking atau berinteraksi secara langsung dengan orang-orang yang ahli dalam bidangnya juga merupakan sebuah cara meningkatkan kemampuan seseorang. Sedangkan 10% lagi pembelajaran diperoleh melalui pelatihan atau training apakah in house atau public training, e-learning, seminar atau sharing knowledge.

Berdasarkan studi Lombardo di atas, sudah saatnya kita untuk memulai mengalokasikan strategi dan metode belajar kita. Belajar ternyata dapat menggunakan banyak cara dan metode yang bisa dipilih oleh masing-masing dari kita.

It is your Choice ! Ya, Pilihan tersebut tentu ada di tangan kita. Untuk mencapai peningkatan kompetensi yang kita inginkan ada baiknya kita dapat memilih proses belajar sesuai pilihan kita. Pilihan yang harus kita lakukan dengan sebaik-baiknya.

Salam Berdaya !
Diketik dari pelbagai sumber

Debangors Family Gathering 2015

image

Sabtu 7 Maret 2015, sehabis mengantarkan anak terkasih Obama mengikuti tes masuk penerimaan Sekolah Dasar, kami sekeluarga langsung menuju Sentul. Hari ini saya dan teman-teman yang menamakan diri Grup Debangors memiliki acara Family Gathering. Acara yang digagas oleh sekelompok karyawan yang memiliki frekuensi yang sama diadakan di sebuah lokasi yang tak jauh dari Jakarta,  Namanya Kampung Wisata Sentul. Lokasi Wisata Edukasi yang belum banyak dikenal ini sepertinya cocok buat hiburan keluarga. Acara Gathering ini juga merupakan kelanjutan dari kegiatan silaturahmi yang selama ini dilaksanakan. Tujuan kumpul-kumpul tiada lain hanya untuk mempererat silaturahmi yang selama ini telah dibina. Dalam pekerjaan sudah dibebani tugas masing-masing, diluar jam kerja saatnya melakukan  relaxation dengan kumpul-kumpul bersana. Jika selama ini hanya karyawannya saja, kini acara diikuti oleh isteri, suami dan anak-anak. Tidak tanggung tanggung, rekan dari Bandung juga hadir di acara ini padahal ia sedang cuti.

Perihal lokasi, kekhawatiran saya sebelumnya teman-teman kurang menyukai lokasinya namun ternyata dugaan saya salah. Semua anggota Debangors dan keluarganya justru merasa senang luar biasa. Mereka tidak hanya mengagumi lokasi dan acaranya bahkan semua sepakat melanjutkan apa yang sudah dilakukan hari ini pada kesempatan mendatang.

image

image

image

Semoga saja di kesempatan mendatang Debangors dapat berjumpa lagi bersama seluruh keluarga. Pertemuan di Kawasan Sentul yang penuh rasa bahagia ini paling tidak akan menjadi awal dari sebuah aktifitas yang bermanfaat bagi seluruh Debangors.

image

Terima kasih sudah makan bareng nasi liwet atau Cucurak, anak-anak mancing dan menangkap ikan dilokasi yang luar biasa asik punya. Tidak bosen bertandang ke sini jika ingin kesenangan bersama keluarga karena lahan wisata seharian seolah menjadi milik sendiri karena tidak ada kelompok lain yang menggunakan sebab memang begitulah kebijakannya. Kampung Wisata Sentul merupakan tempat yang luar biasa buat outdoor activity bagi keluarga. Edukasi menanam padi, menangkap ikan dan suguhan nasi liwet menjadi pelengkap setiap kunjungan ke lokasi ini. Tak kalah seru main di Sungai Cikeas menambah meriah acara bagi anak-anak yang sudah tak menjumpai sungai yang masih bersih di Jakarta dan Depok.

image

1a

image

Kegiatan setengah hari Debangors ditutup dengan kunjungan ke rumah salah seorang keluarga Debangors yang dituakan di lokasi yang tak jauh dari lokasi. Enam kendaraan beriringan menuju perumahan yang berdekatan dengan jalan tol Jagorawi. Sambutan ramah tamah khas Sunda membuat betah kami semua sehingga terasa berat untuk meninggalkan lokasi meski akhirnya kembali juga karena tuan rumah punya acara lain diluar kota. Foto Bersama seluruh keluarga besar Debangor mengakhiri kebersamaan hari ini.

Sampai Jumpa lagi Kawan,  KOMANDO !

Orang Tua-Isteri-Anak-Saudara-Tetangga # Mana Pilihan Kita ?

images

Niatnya memang ingin Ibadah pagi jam 06.00 jadi meski separuh hati masih bermalasan akhirnya jadi juga meluncur menuju Simpangan Depok guna beribadah Minggu di GPIB PANCARAN KASIH Depok hari ini 22 Februari 2015.

Pada Ibadah Minggu ke-VI Pra Paskah ini juga sekaligus diadakan Syukur Hari Ulang Tahun Ke-50 Pelayanan Kategori Persekutuan Kaum Perempuan atau biasa disebut Pelkat PKP. Pelkat PKP sebenarnya lahir pada tanggal 18 Februari 1965 dimana pembentukannya diawali oleh berkumpulnya 59 perutusan organisasi kaum ibu dari pelbagai Jemaat GPIB di Gedung Pertemuan Jemaat GPIB MARANATHA pada 22 April 1960. Sampai disini info tentang HUT Pelekat PKP selanjutnya saya ingin berbagi berkat lainnya.

Hari ini bagi saya menjadi sangat lengkap seusai meresapi khotbah yang disampaikan oleh Ketua Majelis Jemaat GPIB Pancaran Kasih yang baru yakni Pdt. Ny. Sonya A Medyarto S. Bacaan Alkitab yang dibawakan pada hari ini terambil dari Kitab Ester 1 : 1-22. Wow ! Cukup panjang juga yah bacaannya pada hari Minggu ini.

Kisah Raja Ahasyweros yang menyelenggarakan Pesta atau Perjamuan selama 180 hari plus 7 hari lagi perjamuan bagi rakyatnya. Bacaan dengan perikop Ratu Wasti Dibuang dipagi hari ini sangat menyentuh hati saya dan jemaat yang hadir. Bukan hanya soal gaya khotbah yang dibawakan oleh Pendeta Sonya saja namun Firman yang ditaburkan juga menyentuh hati saya pribadi.

Seperti yang diungkapkan oleh Pelayan Firman, melalui perumpamaan, ketika seorang mahasiswa yang sudah menikah di tanya oleh seorang dosen teologi dalam salah satu pertemuannya, “Siapakah orang-orang yang menurut saudara orang yang paling berpengaruh dalam masa depan saudara ?” . Maka mahasiswa yang ditanya mulai menjawab dengan mengurutkan seperti berikut :

1. Orang Tua
2. Istri
3. Anak
4. Saudara
5. Tetangga

Sang Dosen tidak berhenti sampai disitu saja. Ia kemudian melanjutkan dengan pertanyaan berikutnya “Dari kelima orang tadi, jika saudara diminta untuk menghapus, menghilangkan 2 orang yang sangat berpengaruh dalam masa depan saudara, mana yang akan saudara pilih ?”.

Pertanyaan sang Dosen inipun masih dengan setengah mata dijawab dengan mudah, maka dicoretlah 2 orang terakhir nomor urut 4 dan 5, yaitu Saudara dan Tetangga sehingga susunannya menjadi seperti ini :

1. Orang Tua
2. Istri
3. Anak

Rupanya Si Dosen ini belum juga selesai dengan pertanyaannya, dia kembali mengajukan pertanyaan yang sama menjadi, “Siapakah diantara ketiga orang yang telah saudara pilih dari 5 orang pilihan saudara merupakan orang yang akan sangat berpengaruh dalam masa depan saudara, Coretlah 2 (dua) orang dari 3 orang pilihan yang tersedia ?”.

Sampai disini sang mahasiswa mulai berpikir keras. Bagaimana mungkin ia mencoret orang tua yang telah melahirkan, membesarkan, membiayai hidupnya hingga sekarang. Juga ia berpikir manalah tega ia menghapus anaknya yang merupakan darah dagingnya sendiri. Waktu pun hampir habis, dengan berkeringat dingin, mahasiswa inipun dengan menangis dan gemetar mulai mengambil spidol. Ia kemudian mencoret Nomor urut 1 dan Nomor Urut 3. Betapa berat dirasakan namun itulah keputusan yang dia tempuh.

Sang Dosen pun menanggapi bagaimana mungkin saudara melupakan jasa-jasa orang tua yang selama ini sudah memberikan hidup mereka untuk anak-anaknya termasuk saudara. Apa yang akan dikatakan orang bahwa seorang anak sudah melupakan orang tuanya. Lalu terkait pilihannya yang kedua, sang dosen mengatakan, sungguh teganya saudara membuang anak kandung sendiri, darah daging sendiri dari kehidupan masa depanmu.

Dengan terisak-isak, sang Mahasiswa teologi ini mulai mengungkapkan salah satu alasannya yakni karena Firman Tuhan sudah menyatakan bahwa ” Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya sehingga keduanya itu menjadi satu daging”.

Dalam konteks bacaan ini, pelayan firman ingin mengajak seluruh jemaat untuk menghormati Kaum Perempuan yang “dibuat” dari tulang rusuk lak-laki. Perempuan dibuat bukan dari Kepala untuk memimpin laki-laki, bukan pula dari kaki sehingga diinjak-injak. Perempuan dibuat dari rusuk laki-laki sehingga perempuan menjadi bagian hidup keduanya.

Selamat Hari Jadi Bagi Pelayanan Kategorial Persekutuan Kaum Perempuan GPIB ke-50. Tuhan Kiranya Memberkati Pelayanan dan Seluruh Kaum Perempuan di GPIB khususnya dan Indonesia umumnya.

Sumber : Catatan Pribadi Khotbah Minggu 22 Februari 2015
Pelayan Firman : Pdt. Sonya Medyarto

Cucurak : Nasi Liwet Sambal Goreng

wpid-p_20150219_124424.jpg

Kamis 19 Februari 2015 dua buah kendaraan membawa kami menuju Kampung Wisata Sentul. Perjalanan ditengah suasana mendung sesekali ditemani hujan rintik ini memakan waktu sekitar 1 jam, kami sudah tiba dilokasi eks Perumahan Mentari Resort Sentul. Bau kotoran sapi memang sempat tercium namun semua itu seolah hilang sekejap dengan suasana pedesaan yang kental. Rombongan disambut dengan makanan minuman khas pedesaan seperti Wedang Jahe dan Rebusan Kacang, Pisang Rebus serta Jagung Rebus. Tanaman buah-buahan terhampar di dalam lokasi, dedaunannya bergerak seolah melambai menyambut kedatangan saya dan rekan-rekan sepelayanan. Sejauh mata memandang pada setiap pepohonan organik terdapat nama pohon yang ditanam. Beberapa terlihat sudah menghasilkan buah. Selain itu di lokasi memiliki 2 buah kolam ; kolam pertama dekat dengan bangunan induk dipakai untuk pemancingan. Kolam kedua dipergunakan untuk melepaskan ikan. Kolam kedua kedalamannya hanya selutut orang dewasa. Menurut Pak Pian dan Kang Jain yang mendampingi rombongan, kolam tersebut dipakai untuk lomba menangkap ikan mas bagi anak-anak. Berdampingan dengan kolam anak-anak pada bagian atas ada sawah untuk menanam padi sedangkan di bagian bawah adalah hamparan puluhan pohon pepaya setinggi orang dewasa, terlihat berbuah cukup lebat. Suara aliran Sungai Cikeas terdengar cukup keras dari jalan setapak yang dilalui menambah kedamaian bagi hato. Di ujung lahan terdapat sebuah saung yang berdampingan dengan tanaman Sayur Buncis dan Jagung siap panen.

Di Kampung Wisata Sentul yang mulai beroperasi pada tahun 2013 ini terdapat bangunan berdinding bambu yang dipakai sebagai kantor. Dibagian bawah selain kantor ada juga balai-balai berbahan baku dari bambu yang dapat digunakan untuk tempat tidur. Di sisi bagian atas terdapat 2 buah kamar juga berdinding dan berlantai bambu. Sebagai pusat kegiatan, pengunjung dapat memanfaatkan sejenis Hall atau Aula terbuka, cukup untuk sekitar 50 orang. Di ruang terbuka ini kami menggelar pertemuan. Cuaca gerimis, tubuh terasa dingin, pisang rebus dan wedang jahe menjadi kawan sepanjang pertemuan berlangsung

wpid-p_20150219_135151.jpg

Pengelola Kampung Wisata Sentul memiliki program andalan yakni Wisata Edukasi Pertanian khususnya bagi anak-anak. Disini pengunjung dapat mengambil Paket Edukasi Pertanian minimal 10 orang. Anak-anak diajari Cara Menanam Padi, Memetik Sayur, Memberikan Makan Sapi, Membajak Sawah juga termasuk menangkap ikan emas dikolam. Saya sudah dapat membayangkan betapa serunya bila aktifitas yang disebutkan dijalankan oleh sekelompok anak-anak. Mereka akan memperoleh pengalaman nyata baru. Bila selama ini games atau permainannya dipakai menggunakan gadget, hari ini kedua anak saya boleh belajar memberikan makan sapi dan menangkap ikan.

Selain aktifitas edukasi ada satu hal yang sangat menarik hati saya saat berkunjung adalah ketika tiba waktu makan siang. Saya dan rombongan makan nasi liwet diatas daun pisang. Katanya cara penyajian makan ini di lingkungan masyarakat Sunda biasa disebut Cucurak atau makan bersama diatas daun pisang yang diletakkan dimeja makan. Wow luar biasa, nikmatnya kebersamaan.

Satu lagi perbendaharaan budaya saya peroleh. Betapa kaya sekali Persada Bumi Pertiwi ini. Aneka keragaman kemiripan budaya dimiliki oleh Bangsa ini. Salah satunya ya Cucurak ini, padanannya mungkin dijumpai salah satunya di daerah Maluku biasa disebut Makan Patita, ada juga yang diistilahkan Potlak, makan ramai-ramai. Cucurak, menurut saya agak unik karena kita makan bersama diatas daun pisang. Kemudian menyantap nasi liwetnya dengan tangan. Kalau pakai sendok sepertinya kenikmatan akan sedikit berkurang. Sambalnya yang mantap menghangatkan tubuh disaat hujan mengguyur siang menjelang sore hari itu.

Suasana hari yang dijadikan sebagai waktu pertemuan sangat mendukung sekali untuk menikmati alam pedesaan yang hampir hilang dalam keseharian hidup, namun hari ini tergambar kembali. Kenikmatan semakin bertambah dengan bermain di kolam anak-anak sesudah menghabiskan nasi liwet dengan cara Cucurak.

Mengucap syukur pada Tuhan karena saya menikmati suasana pedesaan pada hari perayaan tahun baru saudara-saudara saya asal Tionghoa. Melihat sawah, pohon-pohon organik, memberi makan sapi, menaiki kerbau, Spot Pembibitan Tanaman diselingi suara air sungai semuanya menjadi lengkap sehinggga menambah kebahagiaan dalam hidup. Kunjungan kedua ke tempat ini sepertinya akan berlangsung pada kunjungan ketiga, keempat dan seterusnya.

Selamat Tahun Baru China Tuhan Memberkati kita semua. Damai Dihati Damai Di bumi.
Salam Berdaya

Parkir dan Warna

image

Matahari di atas langit TPU Pondok Rangon sepertinya tersipu malu bersembunyi di balik kumpulan awan yang terus bergerak melayang di udara. Hujan turun rintik membasahi tanah pemakaman tepat di hari Ibu ke 86 yang diperingati pada Senin 22 Desember 2014 ini.

image

Menurut catatan petugas parkir yang seolah bertugas layaknya Customer Service Officer, fungsi Meet and Greet disebuah Galeri. Pria ini yang menyapa setiap rombongan kereta jenasah yang masuk. Setidaknya 8 jenasah yang akan dimakamkan termasuk seorang bayi pada pagi hingga siang. Saya mengetahui hal ini setelah bercakap-cakap dengan sebut saja pak Amir sembari menunggu kedatangan rombongan pengantar jenasah ibunda dari seorang jemaat Sektor Betel GPIB Pancaran Kasih yang dalam catatan pak Amir tertulis di urutan kedua yang akan dimakamkan di Pondok Rangon. Secarik potongan kertas bertuliskan data jenasah seperti nama, agama, dari Yayasan mana ada dalam genggamannya. Obrolan saya dengan beliau tak hanya sampai disitu. Saya juga jadi mengetahui kalau dalam satu hari ia dapat mengumpulkan sekitar 300 sampai 400 ribu rupiah dari kendaraan yang membayar ongkos parkir saat akan keluar area pemakamanan. Meskipun kalau ada yang bertanya berapa ongkos parkirnya, ia dengan enteng akan menjawab berapa saja. Lelaki paruh baya ini mengaku memperoleh 20% dari hasil tersebut. Pendapatan harian dapat diambil olehnya untuk makan siangnya baru kemudian ia akan setorkan ke kantor pengelola. “Mobil bagus tapi ngasih cuma srebu” begitulah salah satu keluhnya sewaktu sebuah kendaraan mewah keluar dan pengemudinya memberinya dua koin pecahan lima ratus rupiah. Sukanya pria yang tinggal di daerah Pasar Rebo ini adalah saat hari-hari raya tiba. Menurut pengalamannya selama ini pasti ada yang memberi lebih dari dua ribu rupiah. “Ada yang suka  ngasih goceng ato ceban” akunya pada saya yang sedang menenggak minuman dingin disebelahnya. Percakapan dengan saya pun terputus karena rombongan yang saya tunggu telah sampai. Saya pun mendahului kereta jenasah menuju ke Blad 7 diikuti kendaraan lainnya.

Saat semua keluarga turun dari kendaraan, saya melihat semuanya mengenakan pakaian warna putih. Ada yang berupa kemeja, kaos berkerah dan ada juga kaos oblong, laki-laki ataupun perempuan. Saya pun jadi teringat sekitar dua tahun lalu menghadiri prosesi pemakaman di sebuah Krematorium di Karawang. Ketika itu seluruh anggota keluarga pun  mengenakan pakaian warna putih. Suasananya kayak film-film Triad Mandarin. Baju putih, kaca mata hitam. Siang tadi juga demikian, semua keluarga mengenakan pakaian warna putih. Saya pun mulai kasak kusuk bahkan ketika Prodiakon (maaf kalo salah ketik) sudah memimpin prosesi ibadah pemakaman. Jawaban akan keingintahuan saya kenapa keluarga yang berduka kok pada mengenakan pakaian  warna putih baru terjawab lengkap setelah dirumah.

Saya kagum sekali dengan satu dari ratusan kebhinnekaan adat istiadat di Indonesia. Sebagian besar masyarakat ketika sedang berkabung kebanyakan akan memilih pakaian warna hitam sebagai tanda turut sepenanggungan atau turut berduka cita. Warna hitam ini juga dipakai oleh keluarga saya saat mengantarkan kedua orang tua kami ke tempat peristirahatan. Kenapa warna hitam, karena hitam warna keabadian, warna duka cita.

Sedangkan bagi sebagian masyarakat Tionghoa mereka lebih memilih warna putih sebagai simbol perkabungan. Warna Putih dipakai oleh masyarakat Tionghoa kuno sebagai lambang kemurnian dilanjutkan hingga kini.

Jadi hari ini ada dua pelajaran hidup saya peroleh. Pertama bagaimana kisah pak Amir menyambung hidup dari uang parkir pengasihan dan kedua saya belajar memahami kebhinnekaan dalam kehidupan. Tak soal Hitam atau Putih, karena lebih penting pemaknaan dari Simbol yang terkandung dan yang dipahami oleh hati masing-masing.

Terima Kasih Tuhan atas hari ini.

Anti Pencucian Uang

image

image

Pada tanggal 8-9 Desember 2014 lalu, saya mengikuti sebuah kegiatan sharing session yang diselenggarakan oleh Divisi Talent Development bekerja sama dengan sebuah Bank Asing. Sharing Session kali ini membahas terkait dengan materi Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme.

Banyak sekali informasi bermanfaat diperoleh selama pelaksanaan sharing session yang diadakan di gedung Wisma Antara lantai 15. Saya menjadi paham dengan apa yang biasa disebut RED FLAG. Perbedaan antara pencucian uang dan pendanaan terorisme juga dapat diketahui dengan mengikuti sharing session yang diikuti oleh rekan-rekan dari team back office dan front office. Knowing Your Customer juga menjadi bagian penting yang terserap melalui sharing session ini. Mengingat betapa pentingnya informasi ini rasanya akan menjadi sebuah informasi yang menarik bila dituliskan juga disini. Saya sampaikan beberapa informasi yang diperoleh selama dua hari kegiatan dengan pola Q &A, sehingga lebih mudah dipahami.

Apakah yang dimaksudkan dengan Pencucian Uang ?

Pencucian uang adalah pergerakan dana untuk tujuan menyembunyikan sumber yang sebenarnya, kepemilikan atau penggunaan dana. Proses ini terjadi pada saat pelaku kejahatan berusaha untuk menyamarkan asal muasal dana dan kepemilikan yang kegiatan kriminal.

Bagaimana Proses Pencucian Uang Itu dilakukan ?

Placement :
Menempatkan dana hasil kejahatan ke dalam sistem keuangan.

Layering
Memisahkan hasil kejahatan dari sumbernya yaitu kejahatan nya melalui beberapa tahap transaksi keuangan untuk menyembunyikan atau menyamarkan asal usul dana.

Integration
Menggunakan harta kekayaan yang telah tampak sah, baik untuk dinikmati langsung, diinvestasikan ke dalam berbagai bentuk kekayaan materi maupun keuangan, dipergunakan untuk membiayai kegiatan bisnis yang sah ataupun untuk membiayai kembali tindak pidana.

MODUS PENCUCIAN UANG

Structuring/Smurfing
Upaya untuk menghindari pelaporan dengan memecah-mecah penyetoran tunai sehingga nilai transaksi menjadi lebih kecil. Ini dilakukan untuk menghindari pelaporan.

U Turn
Upaya untuk mengaburkan asal usul hasil kejahatan dengan memutarbalikkan transaksi untuk kemudian dikembalikan ke rekening asalnya.

Penggunaan Pihak Ketiga
Transaksi yang dilakukan dengan menggunakan identitas pihak ketiga dengan tujuan menghindari terdeteksinya identitas dari pihak yang sebenarnya merupakan pemilik dana hasil tindak pidana.

Penggunaan Identitas Palsu
Transaksi yang dilakukan dengan menggunakan identitas palsu sebagai upaya untuk mempersulit terlacaknya identitas dan pendeteksian keberadaan pelaku pencucian uang.

Semoga informasi ini bermanfaat buat kita semua terlebih untuk memperingati Hari Anti Korupsi yang jatuh pada setiap tanggal 9 Desember. Hari Anti Korupsi Internasional ditetapkan oleh PBB pada 31 Oktober 2003 dan diingat rayakan pertama kali di Merida Meksiko pada 9 Desember 2004.

Buat yang kerap mendapatkan durian runtuh di rekeningnya kemudian ditarik lagi, harap berhati-hati. Bagi yang pernah mendapatkan email dari seseorang yang ingin memberikan sejumlah dana warisan dari luar negeri, juga perlu waspada untuk tidak masuk dalam perangkapnya. Apalagi bila tanpa alasan yang jelas menerima barang-barang mewah dari seseorang patut juga dicurigai. Ingatlah pesan Bang Napi, Waspadalah ! Waspadalah !

Salam Berdaya !

Panti Rehabilitasi Mental Gerasa

image

image

Bila suatu hari kita sedang berada di jalanan melihat ada dua tiga orang  mengangkut seorang wanita yang memiliki gangguan mental, baiklah kita tidak terburu-buru menganggap peristiwa itu adalah Operasi Yustisi yang kerap dilakukan instansi Pemerintah. Tahukah kita bahwa ternyata ada sebuah yayasan yang peduli atas keberadaan orang yang mempunyai gangguan mental ditempat-tempat umum disekitar kita ?. Yayasan ini membawa perempuan-perempuan tersebut untuk di pelihara, dirawat dan diperhatikan kebutuhannya. Ada yang diambil dari kolong jembatan, beberapa dibawa dari emperan toko di Pasar dan sebagian di”jemput” di lokasi pembuangan sampah sedang menikmati sisa-sisa makanan.

Rupanya di tengah kesulitan perekonomian yang terjadi dewasa ini ternyata masih ada sepasang manusia modern yang sangat peduli terhadap keberadaan mereka yang terbuang di jalanan. Sekitar bulan Oktober 2011, Pdt. Lukas dan Bunda Ferra beserta keluarga memutuskan sebuah perubahan kehidupan mereka, revolusi mental, mungkin itu bahasa terkininya. Sepasang suami istri ini bertekad untuk melayani Tuhan terutama dalam hal merawat orang-orang “terbuang” yang memiliki gangguan mental. Satu per satu perempuan-perempuan dari pelbagai usia dijemput, diangkut dan dibebaskan dari kehidupan jalanan. Sejak mulai berkecimpung dalam pelayanan terhadap orang yang memiliki gangguan mental, pasangan Sunda Chinese – Manado ini, telah menampung sekitar 47 orang termasuk dua orang yang sedang mengandung dan seorang yang berpenyakit paru. Pak Lukas, demikian panggilan akrab Orang tua bagi Ibu-ibu binaan di Panti Rehabilitasi Mental Gerakan Asih Abadi atau Yayasan GERASA, mengaku total memberikan pelayanan bagi orang terbuang. Ia merasa terpanggil karena banyak keluarga yang tetap saja belum ingin menerima anggota keluarganya padahal sebagian sudah sembuh. Dalam kesaksiannya, sebagai seorang pengasuh Pak Lukas pernah suatu kali dirinya membantu persalinan salah seorang penghuni Panti, ia yang memotong tali pusat dan lain-lain sebelum dibawa ke rumah sakit. Pdt Lukas juga seorang Gembala di sebuah Gereja yang dekat Panti Rehabilitasi. Dia memiliki pengharapan bahwa suatu saat nanti ketika dirinya sudah tak ada didunia ini, para ibu-ibu yang ia percayai untuk memimpin kelompok kecil, seperti Cathrine, salah seorang penghuni dapat melanjutkan pelayanannya ini.  

image

image

SKK INDOSAT pada hari Sabtu 6 Desember 2014 berkunjung ke Panti Rehabilitasi Gerasa yang terletak di Jl. AC Lengkeng No. 13 Kelurahan Bojong Menteng Rawa Lumbu Bekasi, untuk mengingat rayakan kelahiran Yesus Kristus. Tiga kendaraan membawa anggota SKK yang tergabung dalam panitia natal 2014 termasuk ibu Ketua Panitia. Mereka cukup takjub dengan persembahan yang disajikan saat ibadah yang berlangsung dengan penuh sukacita. Para penghuni yang katanya mengidap “gangguan mental” rupanya hafal betul ayat-ayat Alkitab yang diberikan oleh para ibu asuhnya. Siang hari itu dalam ruang pertemuan berhiaskan pohon terang dipojok kanan panggung, satu per satu penghuni dipanggil tampil untuk melafalkan ayat Alkitab dalam pelbagai bahasa, mulai dari bahasa Batak, bahasa Sunda hingga bahasa Mandarin berkaitan dengan peristiwa Natal. Kesaksian pujian oleh seluruh penghuni panti yang didampingi oleh beberapa pengasuh berkaos warna kuningnya Indosat mengakhiri persembahan ibu-ibu Gerasa pada siang hari itu.

Dalam kesempatan tersebut secara simbolis juga disampaikan bantuan kasih dari karyawan Kristen Katolik Indosat, diwakili oleh Ibu Irma Aurora selaku Ketua Panitia Natal. Anggota SKK diberikan penjelasan oleh Pak Lukas, sambil diperlihatkan foto-foto penghuni sewaktu mereka diambil dari jalanan. Bukan untuk mengingat namun sebagai suatu pembelajaran masa lalu yang tak boleh terulang kembali.

Panitia Natal dan Ibu-Ibu Gerasa tak melupakan untuk foto bersama dipenghujung acara dengan sebuah pengharapan bahwa para ibu-ibu ini suatu saat nanti boleh merasakan damai sejahtera Natal bersama keluarganya kembali.

Selamat Natal Catherine, yang tak lagi diterima keluarganya padahal ia sudah sembuh dan menjadi asisten dari pak Lukas. Tugas utama Christine seperti dituturkan oleh Pak Lukas adalah memegang kunci pagar bagian depan hingga belakang. Perempuan asal Ende ini juga dipercaya menjadi “kepala suku” bagi ibu-ibu penghuni Gerasa.

Selamat Natal juga bagi para penghuni Panti Gerasa lainnya, Tuhan Yesus Memberkati dan tentunya senantiasa semangat dalam menjalani kehidupan ditahun yang baru mendatang.

Terima kasih kepada Tuhan atas hari ini dimana saya dan teman-teman boleh menjadi saksi sebuah pelayanan luar biasa dari satu keluarga yang dipakai Tuhan untuk melayani orang-orang terbuang.

image

Diketik di dalam
Komuter Line
Tanah Abang-Depok
17.05

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.742 pengikut lainnya.