Category Archives: ROKER

Ingat Pak Rambut Su Putih ; Jang Bakalai

Kemarin 25 Januari 2012 seperti biasa saya pulang bekerja menggunakan kereta api menuju ke Depok. Suasana stasiun pada sore itu tidak terlampau ramai. Tidak banyak penumpang berdiri di dekat jalur 3 ataupun duduk di bangku yang tersedia. Pada ujung stasiun arah dari Gondangdia terlihat sebuah lokomotif berjalan perlahan membawa gerbong kereta api Cirebon Ekspress yang baru saja akan tiba menuju jalur 4. Cuaca di sore hari itu teras sejuk dengan sayup terdengar melalui loudspeaker seorang lelaki sedang mengaji di sebuah Mushola dekat pintu masuk Stasiun Gambir. Tak seberapa lama saya duduk di sebuah deretan bangku kosong terdengarlah pengumuman bahwa kereta comuter line jurusan Bogor akan segera tiba di Stasiun Gambir. Saya pun bergegas mengambil tas punggung yang diletakkan disisi kiri. Pintu pada gerbong 2 terbuka dan sayapun segera memasuki kereta. Dalam gerbong yang sudah penuh itu saya pun mencari ruang untuk berdiri disela-sela penumpang lain pada bagian tengah gerbong. Suara alat pendingin yang sudah tak mendinginkan lagi terdengar cukup keras. Saking tak tahan akan panas dalam gerbong seorang penumpung berinisiatif membuka jendela dihadapan saya meski ia terhalang oleh penumpang lain. Perjalanan sampai di Stasiun Lenteng Agung para penumpang meski berdesakan namun tidak ada masalah seolah semua telah maklum dengan situasi seperti ini. Sampai ketika kereta tiba di Stasiun Pondok Cina seorang penumpang panggil saja si A, lelaki yang akan turun mendorong seorang penumpang lain yang sedari tadi berdiri di dekat pintu sebut saja penumpang B. Karena merasa dorongan yang dilakukan oleh A lelaki paruh baya itu membahayakan keselamatan diri B maka si B berontak. Tidak terima atas perlakuan si B, A lantas bereaksi juga. Kemudian keduanya terlibat aksi pukul memukul. Penumpang lain yang melihat membela si B karena mereka tahu siapa biang kerok kejadian dorong mendorong tadi. Rupanya sedari tadi seorang Bapak yang berdiri dibelakang saya sudah memperhatikan tindak tanduk B. Ia terlihat kesal juga melihat ulahnya. Saling pukul tangan antar keduanya keduanya A dan B berakhir manakala kereta sudah berhenti di Stasiun Pondok Cina. Sambil mengumpat dari peron Bapak A terus saja mengacung-acungkan tangannya membentuk sebuah kepalan ditangan kanannya. Sementara Bapak B juga dibantu oleh beberapa penumpang dari dalam gerbong melakukan hal yang sama bahkan teriakannya lebih kencang terdengar. Meski rambut keduanya sudah hampir sama jumlah hitam dan putihnya ternyata bukan halangan untuk baku pukul diatas kereta karena hal sepele yakni desak-desakan di gerbong kereta. Ooh Tuhan jauhkanlah saya dari perbuatan itu. Naik Komuter Line memang harus dapat menahan emosi sebab setiap hari pasti para penumpang akan berdesakan di dalam gerbong. Semua mesti punya satu rasa jika ingin menumpang kereta dalam keadaan berdesakkan seperti itu. Kesabaran tingkat tinggi benar-benar sangat dibutuhkan bila tidak ingin mengalami peristiwa seperti itu. Dalam hati kapan ya saya bersama penumpang lain memperoleh kenyamanan menggunakan transportasi umum. Suatu hari nanti pastilah Pemerintah akan memberikan yang terbaik bagi masyarakat pengguna angkutan umum. Sabar itu adalah kunci menaiki kendaraan umum.

Commuter Line Makin Asik Aja

Seorang ibu tua dengan anak gadisnya heran ketika melihat metro mini yang ia biasa tumpangi malam ini kok sesak. “Lho kok penuh banget yah tumbenan” tanyanya kepada kenek metro mini. Sang kenek dengan logat sumateranya pun menyahut, ”Kereta mogok”, jawabnya sambil berlari menuju ke arah depan bus.

Ya hari ini Selasa 6 Desember 2011 ribuan penumpang menumpuk di dalam kereta dan stasiun sebab jalur kereta ada gangguan listrik aliran atas. Banyak penumpang yang baru saja pulang bekerja langsung mencari alternatif lain ketimbang menunggu perbaikan oleh petugas komuter yang tak berujung kapan akan selesai.
Kejadian seperti ini dihadapi pengelola kereta sebenarnya tidak cuma sekali dua kali namun sudah sering sekali. Oleh karena itu pertanyaan sederhana saja dari saya, apakah memang benar pihak comuter tidak punya apapun namanya untuk menjalankan keadaan darurat bila hal seperti malam yang menyebalkan ini terjadi. Pertanyaan lain muncul pula mengapa pihak commuter line meskipun sudah mengetahui adanya gangguan tiket masih saja dijual. Padahal bisa saja mereka menginformasikan kepada penumpang mengenai kondisi jalur saat itu sehingga biarkan penumpang sendiri yang memutuskan bukan malah dijebak seperti yang saya alami malam ini. Tiket sudah telanjur dibeli eh tahunya waktu di Stasiun Manggarai malah diberitahukan kereta tidak dapat dilanjutkan perjalanannya karena adanya gangguan aliran listrik bagian atas antara Tanjung Barat Menuju Pasar Minggu.

Entah sampai kapan keadaan seperti ini akan terus berlangsung. Sumpah serapah dilayangkan lagi oleh ribuan penumpang. Barangkali satu-satunya perusahaan publik yang menjadi sasaran empuk sumpah serapah, umpatan hanya commuter line. Bagaimana akan mendatangkan Berkat atau Barokah jika dikutuki melulu oleh para penumpang. Semoga saja pengelola yang pintar itu dapat bertobat sehingga kesalahannya dengan menyengsarakan manusia lainnya diampuni Tuhan di akhir hayatnya nanti.

Kapan Ceritera Ini Berakhir

Saya sebenarnya sudah ingin menghentikan mengetik ceritera tentang Kereta Api. Dalam hati akan mengurangi menuliskan status tentang kereta di social networking. Namun apalah daya mata masih melihat ketidakberesan. Hati kerap merasakan ketidaknyamanan makanya ketikan ini muncul kembali.

Persis 3 bulan pengoperasian sistem Single Operation peristiwa ini saya alami. Sabtu 1 Oktober 2011 lalu seusai menyelesaikan sebuah urusan usaha, saya bersama istri mengajak anak saya untuk naik kereta. Alih-alih untuk menyenangkan anak yang sedang menyukai tokoh Thomas and His Friends, saya menumpang komuterline dari Stasiun Bojongede menuju Stasiun Kota. Atas budi baik seorang anak muda, anak dan istri saya akhirnya diberikan tempat duduk pada kursi prioritas. Ucapan terima kasih saya sampaikan dengan tulus kepadanya, iapun mengangguk. Anak saya sangat menikmati perjalanan dengan keretanya siang itu. Keceriaan sangat terasa sepanjang keberangkatan mulai dari stasiun awal hingga saya memutuskan turun di Stasiun Mangga Besar.

Sehabis menikmati makan siang di salah satu tempat makan di lingkungan stasiun saya bersama istri kemudian membeli tiket kepulangan menuju Stasiun Bojonggede.

Tak seberapa lama keretapun tiba. Naik digerbong 2 istri menggendong anak saya yang berusia 2 tahun. Saat telah berdiri di sisi kiri tempat duduk prioritas harapannya akan ada salah satu dari empat orang yang sedang duduk untuk berdiri. Akan tetapi hingga 2 stasiun terlewati tak kunjung juga mereka berdiri terutama sepasang anak muda yang sedang kasmaran. 2 tempat lagi saya tidak mempermasalahkan sebab diisi oleh orang lanjut usia.

Aha pucuk dicinta ulam tiba, dikejauhan saya dengar teriakan petugas menanyakan tiket kepada penumpang. Dalam hati saat ia memeriksa tiket saya akan meminta bantuannya untuk meminta salah satu dari anak muda itu untuk memberikan tempat duduknya kepada anak dan istri. Apa yang saya harapkan sirna adanya. Saat saya menyampaikan maksud kepada salah seorang petugas ia hanya tengok kiri kanan di tempat duduk prioritas. Sepatah katapun tidak ia keluarkan untuk merespon permohonan saya. Alhasil anak dan istri saya tetap berdiri sementara petugas berseragam itu pergi meninggalkan gerbong yang saya tumpangi. Saya sebenarnya bisa saja bertindak keras dengan meminta paksa kepada mereka karena yakin pula para penumpang akan mendukung tindakan saya. Namun saat itu lagi tidak mood, males mengawali konflik selain itu seorang penumpang yang duduk disebelah cewek yang sedang kasmaran seorang lelaki tua turun. Waktu itulah anak dan istri saya bisa duduk hingga stasiun akhir.

Saya tidak terlalu menyalahkan perilaku dari anak muda yang sedang kasmaran meskipun sedikit dongkol. Penumpang seperti itu sudah tak perlu diherankan lagi sebab itu adalah cerminan mental bangsa ini. Jadi buat saya tidak terlampau mengherankan. Saya justru ingin mengolok-olok petugas berseragam yang kerjanya memeriksa karcis penumpang. Masakan petugas itu sama sekali tidak mau melakukan tindakan apapun saat itu. Menurut saya hal tersebut adalah sebuah kesalahan mendasar yang sama sekali tak dapat ditolerir. Tindakan mereka adalah cerminan pelayanan Garda terdepan KAI. Saya semakin banyak tahu lagi seberapa besar nilai pelayanan para frontliner KAI. Bagi saya seorang petugas bila sudah tidak berani menegakkan aturan maka sebaiknya jangan pernah ditugaskan lagi. Pantas saja banyak penumpang masih saja menggunakan kursi lipat. Mana berani petugas menegurnya lebih baik pura-pura tidak melihat atau pura-pura tidak mendengar saja. Sayang sekali.

3 bulan penerapan single operation buat saya pribadi tidak menunjukkan peningkatan pelayanan bagi penumpang. Boro-boro kenyamanan mendekati saja rasanya tak kan pernah terjadi. Belum lagi berbagai inkonsistensi pelayanan lainnya. Ambil contoh pemberitahuan kepada penumpang di dalam gerbong mengenai stasiun pemberhentian. Kadang dilakukan dengan baik akan tetapi lebih sering tidak pernah dijalankan. Saya tidak tahu apa sebabnya yang pasti itulah yang terjadi.

Inilah ceritera mengenai Kereta. Saya masih harus melanjutkan mimpi menaiki kereta dengan pelayanan prima. Entah sampai kapan saya akan berhenti menuliskan status pada media sosial mengenai pelayanan kereta api yang saya alami. Semoga saja suatu hari nanti saya akan berhenti juga mengetikan dalam blog ini mengenai pengalaman tak mengenakan melakukan perjalanan dengan kereta api. Bagaimanapun juga bagi saya naik kereta api ke kantor masih menjadi pilihan terbaik diantar pilihan buruk lainnya.

Sebuah bukti ketidakmampuan petugas KAI menegakkan keadilan saya jumpai pula pada Senin 3 Oktober 2011 seperti terlihat pada foto berikut. Masakan “mengusir” orang tidur di area stasiun mereka tak sanggup melaksanakannya.

Mari nikmati saja keadaan saat ini hingga suatu saat semua akan berahr meskipun saya takkan mengetahui kapan semua ceritera ini akan berakhir.

Haruskah Dengan Tangan Kiri ?

Hari Rabu 20 Juli 2011 kemarin seperti biasa saya melakukan aktifitas sedari pagi. Bangun tidur, saat teduh sejenak lantas bergegas menyentuh sibur di kamar mandi untuk bermain dengan air ditengah dinginnya cuaca subuh.

Saya pun berangkat ke kantor saat orang terkasih masih terbaring lelap dalam pelukan bantal ”polo” alias guling masing-masing. Sedangkan di kamar belakang tertidur lelas ibu tersayang. Pun demikian saya tetap menyapa seraya pamit meski tahu takkan ada balasan.

Selanjutnya perjalanan kehidupan pun mulai berputar seperti biasanya.

Setiba di Stasiun Sudirman saat pintu kereta terbuka saya pun bersama ratusan orang mulai berpencar menggapai Berkat yang Tuhan telah siapkan buat masing-masing umatNya.

Sebuah pemandangan yang mengganggu hati saya terjadi di moda transportasi lain yang pagi itu saya tumpangi. Bus tiga perempat yang saya naiki telah siap di posisi saat kereta tiba di stasiun. Penumpang kereta yang tadi sudah turun kini berganti menumpang Bus warna oranye ini. Saya masih kebagian tempat duduk di bangku belakang dekat pintu. Duduk di sebelah saya seorang Bapak dengan baju lengan panjang motif garis warna terang. Tas punggung saya lihat diletakkan dipangkuannya. Sambil terus mengarahkan pandangan ke luar ia pun seolah sedang menikmati pagi sekalian pikiran melayang entah kemana. Sewaktu seorang kenek mulai mengulurkan tangan meminta ongkos kepada tiap penumpang terjadilah sebuah peristiwa yang bagi saya tidak begitu baik. Bapak yang duduk bersebelahan dengan saya saat sang kenek menagih ongkos kepadanya, lelaki paruh baya ini memberikan uang dua ribuan menggunakan tangan kirinya. Sontak saya merenung mengapa mesti memakai tangan kiri ketika memberikan uang itu. Apakah saking mulai berumur pria dengan kumis yang jarang ini sudah lupa ajaran orang tua dan kakek neneknya bahwa jika kita memberi atau menerima harus menggunakan tangan kanan kepada siapa saja di dunia ini. Bisa jadi saya masih memakluminya kalau saat memberikan dia dalam posisi yang sulit untuk menggunakan tangan kanannya namun yang terjadi ini kan tidak seperti itu. Dia dalam posisi aman duduk dengan nyaman akan tetapi kenapa harus pakai tangan kirinya. Pikiran saya pun mulai merenungkan apa yang dilakukan Bapak itu. Sambil berharap saya dapat terhindar dari perbuatan seperti itu. Kalau pun terpaksa sebuah kata maaf seyogianya akan di keluarkan dari mulut ini. Sampai turun dari Bus di dekat kantor pun ungkapan syukur terus mengalir kepada Tuhan sebab hari ini Dia sudah memberikan suatu pembelajaran proses kehidupan. Saya juga jadi teringat seorang Jenderal Purnawirawan mantan KASAD, Wismoyo Arismunandar. Pada waktu ia masih berdinas ia tak suka anak buahnya menggunakan Jam Tangan di tangan kiri. Semua perwira dalam jajaran dibawahnya tak diperbolehkan menggunakan jam di tangan kiri. Menurutnya itu suatu hal tabu yang seharusnya dihindari. Masak tangan kiri yang digunakan untuk bebersih diri jika kita ke ”belakang” digunakan pula untuk menerima atau memberikan sesuatu kepada orang lain. Alhasil semua prajurit terutama perwira tidak berani lagi menggunakan Jam tangan di lengan kiri. Semua lengan kanan.

Pelajaran hari kemarin itu membuat diri ini meminta agar Tuhan senantiasa mengingatkan kepada saya akan perbuatan kecil seperti itu. Buat orang lain bisa jadi tak mengapa namun bagi saya itu suatu hal yang selayaknya dihindari.

Sebuah perbuatan kecil seperti memberi atau menerima dengan tangan kiri dan ucapan terima kasih kerap terlupakan oleh kita terhadap perbuatan-perbuatan kecil yang dijumpai dalam kehidupan ini.

Terima kasih Tuhan Engkau sudah memberikan pelajaran berharga buat hidup saya.

Perempuan Dengan Kursi Lipat

Pemberlakuan Single Operation pada sistem perjalanan Kereta Api Jabodetabek membuat penumpang banyak pilihan. Meskipun pilihan itu tak menjadikan munculnya kenyamanan sepanjang perjalanan dari stasiun awal menuju stasiun tujuan. Bicara soal kenyamanan semua penumpang pasti mengharapkan perolehan hal tersebut. Akan tetapi sayang sekali guna memperoleh kenyamanan itu terkadang sebagian penumpang seolah lupa kalau kenyamanan yang dicari tidak perlu mengorbankan orang lain apalagi keadaan perkereta apian di Jabodetabek yang seperti dewasa ini.

Hari ini Kamis 7 Juli 2011 dengan 3 pilihan yang tersedia akhirnya saya menentukan pilihan untuk menumpang Commuter Line jurusan Depok – Tanah Abang. Pilihan untuk mencari kenyamanan sepanjang perjalanan akhirnya kandas. Pasalnya ada seorang perempuan muda berbaju hitam yang memaksakan diri untuk membuka kursi lipatnya persis disamping kiri kaki saya. Padahal saat itu posisi saya berdiri diantara gerbpong 1 dan 2. Meskipun sudah disampaikan alasan agar tidak menggelar Kursi Lipat, wanita dengan tas warna krem tersebut masih saja melakukannya. Alhasil sepanjang perjalanan ia duduk dengan kursi lipat diantara para penumpang laki-laki lain yang sedang berdiri bersesakkan. Sesekali terlihat para pria itu menahan tubuh mereka agar tidak tumbang menimpa perempuan dengan jam tangan perak dilengan kirinya. Untung saja meski kereta melaju cukup kencang pagi ini perempuan itu tidak tertimpa tubuh salam seorang penumpang.
Wah kenapa perempuan itu egois yah. Sayang sekali punya wajah menarik namun kelakuan minus. Sikapnya yang hanya ingin mencari kenyamanan ditengah ketidaknyamanan penumpang lain sungguh sangat disayangkan. Dalam pikiran dia mungkin yang penting diri sendiri orang lain biar saja. ”Emang gue pikirin”, begitu kali pikiran wanita itu.

Yah semoga suatu saat wanita itu sadar bahwa mencari kenyamanan tak perlu diperoleh dengan mengorbankan ketidaknyamanan yang tengah orang lain rasakan. Selamat Bekerja ya Bu sifat kelakuanmu semoga tak diturunkan ke anak cucumu sebab bisa berabe Indonesia bila semua penerus punya pikiran seperti engkau.

Terima kasih Tuhan kalau hari ini saya memperoleh lagi pembelajaran yang berguna buat bekal hidup didunia.

Nenek Tua Tanpa Karcis

Hari ini Rabu 6 Juli 2011 saya berangkat pagi sekali. Salah satu alasan mengapa saya pergi ke kantor lebih pagi karena pada malam nanti akan melayani. Isteri dan anak masih terlelap saat pintu gerbang rumah dibuka. Lampu kamar juga masih tetap menyala. Jalan depan rumah terlihat masih basah akibat hujan semalaman. Genangan air masih terlihat dibagian jalan yang berlubang. Saya bergegas meninggalkan rumah menuju Stasiun Depok. Rangkaian gerbong kereta belum tersedia pada waktu saya tiba disana.

Sambil menunggu kedatangan kereta yang akan mengantarkan saya, sebuah surat kabar harian menjadi sarapan pagi. Beberapa saat kemudian kereta pun merapat di sepur 2. Penumpang berebutan masuk gerbong supaya memperoleh tempat duduk. Saya pun memasuki gerbong menuju tempat favorit di dekat sambungan gerbong satu dengan gerbong 2. Meskipun mesti berdiri namun saya merasa nyaman sebab tubuh dapat disandarkan sepanjang perjalanan.

Ketika kereta mulai bergerak meninggalkan Stasiun Pondok Cina teriakan seorang Satpam Gerbong wanita menarik perhatian saya. “Selamat Pagi, mohon maaf perlihatkan karcis anda” begitu ucapnya memulai pengecekan karcis. Saat tiba di seorang ibu tua yang duduk di bangku prioritas terjadilah sebuah percakapan. Petugas Satpam yang sedang meminta karcis malah diinfokan oleh ibu dengan jilbab warna biru muda bahwa ia ingin menumpang ke Tanah Abang. Terlihat petugas satpam gerbong wanita itu agak terkejut mendengar permohonan ibu tua tersebut. ”Saya gak punya tiket, saya numpang ke Tanah Abang”, begitu ucapnya ke Satpam wanita dengan suara pelan hampir memelas. Saya yang sedang berdiri sekitar 2 langkah dari deretan kursi prioritas mendengar percakapan keduanya.

Dalam hati saya bila petugas satpam itu memberikan sanksi buat ibu tua dengan baju gamis warna biru muda saya akan turun tangan. Tiket suplisi yang mesti dikenakan kepadanya akan saya tanggung. Itu niat saya saat mendengar kesulitan nenek itu yang sedang dialami. Untungnya apa yang direncanakan itu tidak terwujud. Sang Satpam wanita itu tetap melanjutkan pemeriksaan karcis ke arah pintu masinis. Rupanya ia tak tega mengenakan sanksi buat Ibu tua itu. Setelah koordinasi dengan rekan Satpam Pria mereka memutuskan untuk tak memberikan sanksi pembayaran denda.

Keputusan yang diambil oleh perempuan penjaga Satpam adalah sangat bijaksana. Orang tua renta itu hingga stasiun akhir sama sekali tak dikutip alias gratis Tepat sekali langkah yang diambil. Semoga ketepatan dalam pengambilan keputusan seperti itu terus dijaga. Kiranya Tuhan yang Maha Kuasa akan senantiasa memberikan Berkat kepada Rusmadianti, Satpam wanita sebuah BUJPP/Perusahaan Penyedia Pengamanan atas apa yang sudah diberikan kepada nenek tua renta pada hari ini. Malaikat Tuhan pasti mencatat kebaikanmu dalam buku kehidupan miliknya.

Semoga di dunia ini masih banyak Rusmadianti lain yang mau melakukan seperti yang pagi ini saya saksikan dilakukan olehnya terhadap seorang nenek tua tak berkarcis. Terima kasih Tuhan atas pengalaman hari ini.

Uji Coba Commuter Line # Penumpang Penuh Sesak

Hari ini 30 Juni 2011 para pengguna angkutan Kereta Api akan dikenakan tarif Rp. 6.000,- (enam ribu rupiah). Pasalnya pada hari terakhir di bulan Juni ini pihak KAI tengah memberlakukan Uji Coba pelaksanaan Commuter Line. Perjalanan Commuter Line yang digadang KAI mampu mempermudah para penumpang untuk mengatur jadwal keberangkatan atau kepulangan mereka disesuaikan dengan jadwal perjalanan Commuter Line. Dengan pemberlakuan sistem Single Operation maka perjalanan kereta api akan dihentikan di setiap stasiun. Pastinya KAI juga menghapuskan Kereta Api Ekspress yang selama ini sudah melayani penumpang setia kereta. Alhasil semua kereta nantinya hanya berupa Kereta AC Ekonomi yang telah berjalan beberapa waktu belakangan ini. Hadirnya Commuter Line yang sedang diuji coba mengakibatkan pro dan kontra di kalangan para penumpang. Mayoritas menolak sistem Single Operation ini. Betapa tidak jika selama ini hanya dibutuhkan waktu kurang lebih 30-45 menit nantinya mulai 2 Juli 2011 penumpang mesti menambah waktu ekstra buat perjalanannya. Itu baru satu sisi.

Commuter Line secara konsep cukup baik. Namun sarana prasarana pendukung sama sekali tak memadai. Pada jadwal yang disebarkan kepada para penumpang sih sepertinya hampir setiap 2-5 menit akan ada kereta yang melayani. Akan tetapi kenyataannya tidak seperti yang dibayangkan atau direncanakan.

Hari ini saya turut mencicipi pelaksanaan uji coba penerapan Single Operation. Ada beberapa hal yang mesti dievaluasi oleh pihak KAI. Sebenarnya KAI belum siap dengan pola ini. Buktinya hari ini saya mesti berdesakkan dengan penumpang lain untuk memperoleh tempat untuk berdiri. Penumpang kereta juga akan mengalami ancaman kecopetan ditengah sesaknya gerbong. Belum lagi kemungkinan terjadinya pelecehan seksual dialami oleh penumpang wanita. Semua hal dilengkapi dengan jadwal yang amburadul. Waktu pagi hari berangkat pukul 05.30 jadwal masih terkendali. Namun saat sore hari sepertinya tak lagi memenuhi harapan para penumpang setia KRL.

Kita tunggu saja apakah penderitaan para penumpang KRL hari ini didengar oleh petinggi KAI. Atau jika mereka berkenan mari kita sama-sama merasakan menaiki Commuter Line. Coba kita dengar apa komentar mereka nantinya. Cuma kapan punggawa itu merasakannya entahlah hanya mereka yang tahu.

Penumpang KRL pada saat uji coba hari ini sekali lagi sudah merasakan fasilitas ganda berupa AC dan Kipas Angin. Para ROKER itu telah mampu mencium berbagai BAU di dalam gerbong. Mereka sudah piawai untuk mengambil posisi berdiri. Dan yang perlu diwaspadai adanya pencopetan dan pelecehan di gerbong yang penuh sesak itu.

Dengan mengeluarkan kocek sebesar 6 ribu perak penumpang KRL rasanya cukup merasakan semua yang diatas itu pada hari ini sewaktu uji coba dilaksanakan.

Keretaku sayang Keretaku malang. Kapan engkau benar memberikan keamanan dan kenyamanan bagi penumpang.

Kita tunggu saja evaluasi dari para petinggi KAI itu. Apabila tetap diteruskan, enjoy Jakarta!

Pesolek di Gerbong KRL

Hari Rabu 8 Juni 2011persis di hari ulang tahun almarhum eyang Soeharto mantan Presiden RI ke-2, seperti biasa waktunya bergegas menggapai asa menjemput segenggam harapan. Saya berangkat meninggalkan rumah ketika anak dan isteri serta seorang ponakan yang masih tertidur lelap. Perjalanan dari rumah menuju stasiun tak memerlukan waktu yang lama. Usai membeli tiket saya langsung menuju KRL Depok Ekspress yang akan mengantarkan ke kantor. Gerbong yang biasa saya tumpangi adalah di Gerbong 2. Wajah-wajah tak asing terlihat berada di dalam gerbong ini. Keadaan kereta tak terlalu penuh seperti hari kemarin. Paling tidak masih banyak space kosong untuk berdiri yang cukup lapang. Saya mengambil tempat di dekat tempat duduk prioritas persis di sambungan antara gerbong 1 dan 2. Tas punggung saya letakkan ditempat barang diatas kursi penumpang prioritas.Tampak di sebelah kanan seorang ibu dengan pakaian warna coklat bertuliskan nama salah satu instansi pemerintah di Jakarta. Usianya sekitar 45 tahunan lah. Setelah tas punggung saya letakkan di tempat barang terlihat ibu itu mengeluarkan sebuah cermin dan kotak bedak. Dia pun tanpa ragu mulai memainkan aksinya dandan dihadapan saya dan beberapa orang pria dihadapannya. Duh ini ibu memangnya tak bisa ya kalau melakukannya di rumah saja. Pikir saya dalam hati sepertinya kok semakin aneh saja dunia ini. Tapi rupanya apa yang dilakukan Ibu dengan jilbab coklat itu belum seberapa. Persis di hadapan saya ada seorang perempuan muda lain juga melakukan hal yang sama bahkan lebih dari wanita pegawai pemerintahan tadi. Wanita dengan rok blus terusan warna hitam ini juga berdandan dihadapan puluhan penumpang diantaranya lelaki termasuk saya. Dia tak hanya memakai bedak tapi bibirnya yang pucat pasi dipolesnya dengan lipstik warna merah menyala. Selain itu blush on untuk pipi kiri dan kanan juga dilakukannya. Perempuan dengan sepatu coklat tersebut, saat itu sedang menggunakan Rol Rambut warna hijau muda di bagian muka dahi kepalanya. Ceritera berjalan terus ketika perempuan muda dengan gelang warna perak di kiri dan kanan tangannya sedang asik berdandan masuklah seorang wanita hamil. Ia pun berdiri seraya memberikan tempat kepada penumpang hamil itu. Saya pikir dengan berdiri maka akan diakhiri aksi dandanannya. Dugaan saya ternyata keliru. Posisi berdiri pun rupanya bukan halangan bagi wanita berusia sekitar 25-30 tahunan ini. Ia dengan santai terus berdandan meski sesekali terhuyung akibat goyangan kereta yang sedang meluncur. Untungnya pemolesan lipstik di bibir sudah selesai sewaktu dia masih duduk bila belum bisa runyam kalau dilakukan berdiri terlebih saat kereta bergoyang. Aksi perdandanan ini pun baru selesai pada saat kereta akan memasuki stasiun Gondangdia. Wanita berambut hitam kemerahan ini mengakhiri proses dandannya ditandai dengan mencopot Rol Rambut warna hijau yang sedari tadi terpasang diatas dahinya. Ia menggunakan kaca kereta sebagai cermin. Rambut yang baru saja dilepas kemudian disisirnya. Saya yang berdiri di hadapannya pun hanya geleng kepala lantas segera bersiap turun di stasiun tujuan. Perempuan dengan cincin perak itu turut berdiri di belakang saya antri di depan pintu keluar. Dia rupanya juga akan mengakhiri perjalanannya. Gondangdia adalah stasiun akhirnya.

Sungguh sebuah pemandangan lain yang saya jumpai di kereta hari ini. Dua orang pesolek hadir di Gerbong 2 KRL Depok Ekspress merupakan hal pertama kali yang saya jumpai. Selama ini pemandangan sejenis saya jumpai hanya di dalam mobil pribadi. Sementara suami sedang menyetir sang istri sibuk berdandan disebelahnya. Hari ini peristiwa 2 wanita berdandan di gerbong kereta merupakan hal baru buat saya. Pertanyaannya apakah mereka tak sempat mengambil waktu dandan dirumah ? Apakah sudah tak ada lagi etika di tempat-tempat umum ?. Wah banyak deh pertanyaan muncul di benak saya seputar apa yang dilakukan 2 orang perempuan itu. Pengennya sih mereka kelihatan tampil cantik namun apakah harus dilakukan ditempat umum.

Semoga tidak banyak pesolek di Gerbong Depok Ekspress di kesempatan lain. Jakarta oh Jakarta.

Kapan Geng Kereta Di Bersihkan

Ketikan ini mungkin sudah yang kesekian kalinya ya. Entah sudah ada berapa kali saya menulis tentang kereta. Keluhan sebenarnya hanya mengulang saja. Pada gerbong tertentu masih saja saya melihat orang bergerombol sesama teman di komunitas mereka merugikan orang lain. Ceriteranya diawali saat saya duduk di bagian ujung dekat bangku prioritas. Sejumlah penumpang Ibu-ibu dan Bapak-Bapak langsung mengambil dan menguasai tempat. 8 orang mengambil tempat duduk prioritas sedangkan sisanya dengan kursi lipat yang mereka bawa langsung menguasai area di dekat sambungan kereta itu sehingga tak dapat lagi orang lain yang bukan kelompoknya masuk ke area itu. Tak lama berselang naiklah seorang ibu yang membawa anak kecil. Usia anak itu kira-kira 2 tahun. Keduanya berdiri di pintu. Saya agak heran ketika seorang petugas keamanan mendekati, dia malah menyuruh ibu muda dengan anaknya itu menuju ke tempat duduk prioritas ujung lainnya dan bukan ke tempat duduk prioritas yang lebih dekat dengan posisi ibu berdiri saat masuk. Saya lantas iseng menanyakan kepada petugas berseragam biru itu, “ Mengapa tidak disitu saja ?“ sambil menunjuk ke tempat duduk prioritas yang sudah diisi oleh para ibu-ibu satu geng. Petugas itu menjawab mereka hamil semua katanya. Wuih luar biasa herman ! Saya dengan jelas melihat dengan mata telanjang 8 orang yang duduk dikursi prioritas itu satupun tidak ada yang sedang hamil. Mendengar hal itu saya hanya dapat mengelus dada seraya menarik nafas panjang. Ingin sekali saya menangkap basah persekongkolan yang senantiasa berlangsung antara geng dimaksud dengan oknum petugas berseraham biru diatas kereta. Pertanyaannya kenapa seorang petugas malah enggan memberi teguran. Petugas cenderung membiarkan hal seperti itu terjadi. Mereka seolah tak peduli. Pikirnya tugas mereka hanya mengechek karcis.

Para anggota geng biasanya mengambil tempat di gerbong dua dan tujuh. Area yang sudah diduduki biasanya dilewati saja tanpa dilakukan pemeriksaan karcis.

Entah permainan jenis apa yang sering dilakoni oleh petugas dengan geng penumpang itu. Saya sadar mungkin orang lain akan tertawa membaca kisah yang usang ini. Atau bisa jadi malah berpendapat kenapa saya mengurusi hal ini. Yah namanya juga tak setuju dengan sebuah permainan kotor itu. Sampai kapan keadaan seperti itu akan berlangsung hanya Tuhanlah yang mengetahuinya.

Pelayanan Publik Yang Buruk

Tak sempat membuat kaca mata kemarin akhirnya hari ini saya berkesempatan pergi memesan kaca mata untuk diri sendiri. Saya sudah cukup lama tak mengenakannya. Namun demikian saya masih dapat melihat dengan cukup baik. Setibanya saya bersama isteri dan anak di sebuah pusat perbelanjaan di bilangan Jakarta Pusat, saya langsung menuju ATM terlebih dahulu. Akan tetapi karena sering berganti saya lupa PIN kartu ATM. Akibat kesalahan memasukkan nomor PIN, kartu saya tentunya langsung terblokir. Kemudian saya menuju kantor layanan Bank Swasta yang menerbitkan kartu. Sempat terpikir pasti segala sesuatunya mudah. Tetapi saya keliru. Seorang Customer Service yang melayani memberi informasi bahwa untuk membuka blokir mesti membawa buku tabungan dan KTP. Jiah, mana ada sih orang pergi ke Mall membawa buku tabungan. Jelas ini mengecewakan. Saya tadinya berharap dengan mengisi selembar surat atau formulir segala sesuatu dapat terselesaikan namun ternyata tidak. Saya heran sekali dengan pelayan Bank itu. Belum lagi saya juga di kenakan biaya ganti kartu 25 ribu. Bah, sudah jatuh tertimpa tangga pula. Bila memang disuruh bayar mengapa jadi dipersulit proses pergantiannya. Payah sekali. Lantas saya keluar ruangan Bank dengan perasaan dongkol. Tanpa mengucapkan apapun baik kepada CS apalagi Satpamnya. Setahu saya Bank lain tidak seperti itu. Bukti nyatanya sewaktu saya mengurus di kantor Cabang lain dekat perumahan petugas CS dengan senang hati membantu membuka blokir dan harap dicatat tanpa membayar seperakpun.Tidak berhenti sampai disana, kekesalan hati ternyata berlanjut. Saya pikir memasuki malam pergantian tahun perjalanan dengan menggunakan Kereta Api akan lancar. Dugaan saya kembali keliru. Kereta yang seharusnya tiba pukul 16.30 ternyata baru sampai di Stasiun Kota jam 17.00. Tambah lagi Kereta yang akan saya tumpangi itu ternyata kereta gabungan. Penumpang kereta Pakuan digabung dengan kereta Depok Ekspress. Astaga mengapa belum selesai juga perbaikan gerbong-gerbong kereta itu. Akhirnya penumpang berjubel di kereta itu sama persis dengan hari kerja biasa. Dan satu hal yang paling menyebalkan masih saja penumpang yang tak tahu diri. Beberapa orang ibu ditengah kepadatan penumpang sore itu mereka dengan santainya tetap saja duduk dengan menggunakan kursi lipat. Saya kesal sekali atas tingkah laku mereka. Mbok ya ibu-ibu berjilbab itu sudi berdiri seperti penumpang lain yang sedang berdesakan tapi sayang sekali mereka tidak memiliki hati sedikitpun. Saya berharap sekali dapat menjatuhkan diri keatas mereka namun tidak terjadi. Seorang ibu berjilbab yang baik hati memberikan tempat duduknya kepada anak dan isteri mengatakan kepada isteri bahwa saya dilihat oleh anggota geng ibu-ibu yang duduk dengan kursi lipat. Saat itu saya siap jika memang harus berselisihan paham dengan kelompok atau geng penumpang yang dengan seenaknya sendiri ingin mencari kenikmatan ditengah kepadatan penumpang. Saya sudah seringkali menjumpai kelompok seperti ini. Mereka sudah dalam tahap mengganggu penumpang lain. Semoga saja mereka semua membeli tiket. Herannya indikasi seperti itu tak pernah berani di tegur oleh para petugas keamanan yang ada digerbong. Saya sudah pernah mengambil foto anggota geng seperti ini yang membayar kolektif. Wah payah sekali. Bagaimana ingin maju jika seperti ini terjadi disetiap gerbong. Keberadaan geng atau kelompok ini akan mudah dijumpai di gerbong 2 atau gerbong 7. Mereka akan mengambil tempat di dekat sambungan antar gerbong. Lengkap sudah layanan buruk kereta api diterima oleh penumpang hingga akhir tahun. Sayang sekali. Hari Kamis 30 Desember 2010 kemarin merupakan hari kekecewaan saya. Dua kali saya memperoleh perlakuan tidak layak oleh lembaga pelayanan umum. Pelayanan buruk diberikan oleh Bank dan Kereta Api. Saya memimpikan pelayanan prima akan diberikan oleh Bank dan Kereta api. Sayangnya kapan ya semua itu terwujud ?

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.568 pengikut lainnya.