Asal Muasal “Lebih Baik Pulang Nama Daripada Gagal Dalam Tugas”

Bicara soal semangat juang, sejak berdiri hingga saat ini, dari RPKAD hingga KOPASSUS masih tetap terjaga dengan sangat baik. Jiwa kejuangan hingga titik darah penghabisan juga masih terpelihara dilingkungan Baret Merah.

Sewaktu saya masih tinggal di Kompleks, apa yang disampaikan oleh Oom Tobing dalam ceriteranya di salah satu majalah yang saya kutip dalam ketikan ini sungguh sangat melegenda. Tak hanya keberhasilan dan kesuksesan yang ditorehkan oleh para prajurit Sandha saat membebaskan Sandera. Tidak pula karena perolehan KPLB atau Kenaikan Pangkat Luar Biasa satu tingkat. Satu hal yang saat itu melegenda di lingkungan Cijantung adalah sebuah kalimat yang mampu menyihir semangat juang setiap orang yang membacanya. Kalimat itu adalah kalimat yang disampaikan oleh almarhum Jenderal L.B Moerdani ketika memberikan briefing kepada para prajurit yang akan melakukan operasi pembebasan sandera di Don Muang. “LEBIH BAIK PULANG NAMA DARIPADA GAGAL DALAM TUGAS” kalimat yang sangat melegenda bagi siapapun yang pernah tinggal di Kompleks Cijantung. Kini tulisan ini diabadikan di sebuah monumen persis di dekat satu-satunya Mal di Cijantung. Tak hanya para prajuritnya, anak-anaknya, ponakannya, adik-adiknya. Siapapun akan tersihir oleh makna yang terkandung di dalam kalimat tersebut. Apalagi selanjutnya kalimat itu dicetak pada sebuah kalender (dicetak juga di Gelas, Piring dll) yang memperlihatkan seorang prajurit dengan loreng darah mengalir dan bersenapan M-16 sedang melakukan sebuah lompatan sambil berteriak. “Lebih Baik Pulang Nama Daripada Gagal Dalam Tugas tak hanya menjadi sebuah moto namun telah merasuki jiwa juang semangat seluruh Keluarga Besar Kopassandha ketika itu.

Berikut dikutip kembali ceritera operasi pembebasan dilakukan yang pernah dikeluarkan oleh sebuah Majalah di Ibukota. Narasumber adalah Peltu P.L Tobing, ayah dari rekan saya satu sekolah di SMPN 103 Cijantung, Rita Tobing.

Sebagai referensi, saya juga menganjurkan bagi yang tertarik dapat membaca kisah Woyla ini di Buku almarhum Jenderal LB Moerdani yang ditulis oleh Julius Pour.

Tunjukkan jati dirimu, lebih baik kita pulang nama dari pada gagal di medan laga”. Perintah Alm Jenderal TNI LB Murdhani itulah yang memotivasi semangat pengabdian dan pengorbanan Pelda Pontas Lumban Tobing berani berhadapan langsung dengan pembajak untuk membebaskan para penumpang pesawat Garuda Woyla yang disandera pembajak di Don Muang Thailand. Atas jasanya itu Pelda Pontas Lumban Tobing menerima anugerah kehormatan medali “Bintang Sakti Mahawira Ibu Pertiwi” sebagai penghargaan atas pengabdian dan pengorbanannya yang patut dijadikan suri tauladan bagi semua generasi penerus prajurit TNI. Pembebasan penumpang pesawat Garuda DC-9 Woyla di bandara Don Muang Thailand merupakan peristiwa spektakuler, bahkan banyak yang menilai keberhasilan itu melebihi keberhasilan Israel dalam membebaskan sandera di Entebbe Uganda. Keberhasilan TNI dalam hal ini Kopassus dalam aksi pembebasan sandera itu tidak lepas dari perang Pelda Pontas Lumban Tobing salah seorang anggota Kopassus yang tergabung dalam tim pembebasan dan bertindak sebagai penyergap bersama temannya almarhum Ahmad Kirang yang gugur dalam aksi itu. Pak Tobing demikian ia dipanggil sehari-hari rela telah menunjukkan keberanian dan ketebalan tekad melampaui dan melebihi panggilan kewajiban dalam melaksanakan tugas mulia. Dia dan alm Ahmad Kirang mendobrak pintu pesawat DC-9 Garuda Woyla menyergap masuk menghadapi para pembajak yang berjumlah 5 (lima) orang bersenjata lengkap.Dia dan alm Ahmad kirang langsung berhadapan dengan para pembajak dan saat itu pula juga terjadilah tembak menembak yang tidak seimbang antara penyergap melawan pembajak. Dua anggota TNI Pelda Pontas Lumban Tobing dengan Capa Ahmad Kirang melawan lima pembajak pembajak ditengah histeria ketakutan para penumpang pesawat DC-9 Garuda Woyla di Bandara Don Muang. Dua orang yang belum bisa membedakan mana pembajak dan mana penumpang. Sementara pembajak sudah siap menghamburkan pelurunya kepada siapapun penerobos yang akan membebaskan para sandera. Dalam adu tembak yang berlangsung tidak lebih dari 5 menit itu 4 pembajak berhasil ditembak mati dan satu orang lainnya dilumpuhkan. Capa Ahmad Kirang gugur dalam aksi penyelamatan sandera itu dengan sejumlah luka tembak di badannya. Sementara Pelda Tobing sendiri kena dua tembakan masing-masing dibagian rusuk dan tangannya.

Pelda Tobing yang pensiun dengan pangkat Kapten menjelaskan kepada Patriot bahwa ia tidak mengira namun bangga ditunjuk menjadi anggota tim pembebasan pesawat Garuda yang disandera oleh pembajak di Don Muang dibawah pimpinan dua perwira yang sangat ia segani yaitu Jenderal TNI Alm LB Murdhani yang saat itu berpangkat Letjen dan Letjen TNI Purn Sintong Panjaitan yang saat itu masih berpangkat Letkol. PL Tobing ketika dipanggil untuk menjadi anggota tim pembebasan saat itu ia masih bertugas di Salemba sebagai pelatih komandan batalyon resimen mahasiswa dari seluruh perguruan tinggi di Indonesia.

“Pada tanggal 29 Maret 1981 pagi-pagi, tiba-tiba saya mendapatkan telpon dari Markas Kopassus (saat itu masih Kopassandha) yang menurut anak buah saya katanya dari Letkol Sintong Panjaitan”, ungkapnya. Sintong Panjaitan memerintahkannya segera ke Cijantung secepatnya. “Saya lihat dibawah sudah menunggu anggota Provost yang siap menjemput saya ke Cijantung, saat itu pula saya berangkat ke Cijantung tetapi saya tidak tahu tugas apa yang harus saya laksanakan”, imbuhnya.

Dia mendapatkan penjelasan di Cijantung langsung dari Sintong Panjaitan bahwa tanggal 28 Maret 1981 pesawat Garuda Woyla di bajak di Don Muang Thailand. Pasukan TNI dari Kopassandha dibawah pimpinan Letkol Sintong Panjaitan dan dibawah koordinasi langsung Letjen TNI LB Murdhani memiliki tugas membebaskan para sandera dan melumpuhkan pembajak.

Pada hari itu juga, menurut PL Tobing Tim Khusus yang berjumlah 30 orang dengan berpakaian sipil diberangkatkan ke Don Muang dengan menumpang pesawat garuda jenis DC-10. Menurut Tobing semua penumpang nampak gelisah dan ditengah-tengah kegelisahan itu tiba-tiba muncul perintah dari Letjen TNI LB Murdhani agar seluruh prajurit memakai seragam lengkap Kopassandha. “Tunjukkan jati dirimu, lebih baik kita pulang nama dari pada gagal di medan laga. Kata-kata itulah yang memotivasi semangat dan keberanian saya untuk berhadapan langsung dengan pembajak dan membebaskan para penumpang yang disandera meskipun harus mengorbankan nyawa saya “, pengakuan Tobing. Maka saya yang ditugaskan sebagai penyergap bersama almarhum Ahmad Kirang tidak gentar sama sekali mendobrak pintu pesawat yang dibajak dan langsung berhadapan dengan para pembajak, tambahnya.

PL Tobing dan Ahmad Kirang mendobrak pintu utama untuk menerobos pesawat yang dibajak, meskipun awalnya sesuai rencana di perintahkan masuk melalui pintu darurat. “Pertimbangan saya dan Ahmad Kirang kalau secara senyap masuk melalui pintu darurat begitu nongol akan di gorok pembajak dan kita tidak bisa membedakan mana pembajak dan mana penumpang, maka kita berinisiatif dan memutuskan untuk melalui pintu utama”, jelas Tobing. Ketika berhasil mendobrak pintu dan masuk ke pesawat saya langsung berterika sekeras-kerasnya” Penumpang Tiaraaaaappp” dengan harapan semua penumpang tiarap kecuali pembajak untuk membedakannya, karena kita memang tidak bisa membedakannya dan kita belum bisa melihat apa-apa di badan pesawat karena mata kita masih beradaptasi, tambahnya. Ternyata apa yang dilakukan Tobing memang benar adanya. Seluruh penumpang tiarap keculai pembajak yang saat itu langsung memberondongnya dengan tembakan.

Seperti dituturkanya, kejadian tembak menembak itu telah menewaskan teman seperjuangannya Capa Ahmad Kirang dan dia sendiri mengalami dua luka tembak yang terpaksa mengharuskan dia dirawat di Rumah Sakit Gatot Subroto beberapa waktu lamanya. Namun Tim Khusus dari Kopassandha dan tentu saja karena semangat pengabdian dan pengorbanan 2 orang tim penyergap yaitu almarhum Lettu Anumerta Ahmad Kirang dan Pelda Pontas Lumban Tobing ini telah berhasil menambah torehan emasnya membebaskan para penumpang pesawat DC-9 Garuda Woyla di Don Muang Thailand. Atas jasanya itu Pelda Pontas Lumban Tobing menerima anugerah kehormatan medali “Bintang Sakti Mahawira Ibu Pertiwi” sebagai penghargaan atas pengabdian dan pengorbanannya yang patut dijadikan suri tauladan bagi semua generasi penerus prajurit TNI.

Ketika ditanya tentang perasaan apa setelah ia berhasil melaksanakan tugas pembebasan penumpang pesawat Garuda Woyla yang sangat spektakuler itu PL Tobing dengan rendah hati dan jujur mengaku bangga. “ Saya dianugerahi Bintang Maha Sakti dan mendapatkan kenaikan pangkat luar biasa setingkat lebih tinggi menjadi Peltu“, ungkapnya. Namun jujur saya katakan kenaikan pangkat luar biasa itu bagi saya kurang tepat, karena tanpa kenaikan pangkat luar biasa itu sebetulnya saya sudah diusulkan oleh satuan naik pangkat secara reguler menjadi Peltu. Memang hal ini pernah menjadi pembicaraan di kalangan satuan saya, tapi biarlah yang penting kita dapat melaksanakan tugas dengan baik. “Tapi saya pesan melalui bapak-bapak (Patriot) moga-moga pimpinan TNI memperhatikan kehidupan para penyandang kehormatan Bintang Maha Sakti ini yang jumlahnya tidak banyak. Khan bapak-bapak akan repot sekali bila harus mengangkat jenasah saya dari rumah ini menuju TMP, karena rumah saya yang jelek dan berada di gang sempit ini”, pesan PL Tobing melalui Patriot.

“Memang betul apa yang dikatakan Pak LB Murdhani, lebih baik pulang nama dari pada gagal di medan laga, dan itu saya kira harus ditanamkan dalam jiwa seluruh prajurit TNI”, ungkapnya. Semangat ini yang harus dipelihara, karena saya lihat sudah banyak yang mulai luntur. Rata-rata hanya mengejar materi. “Kita harus bisa membedakan mana yang emas 22 karat, mana emas palsu. Mana perunggu ? Dan hal ini yang harus dimiliki oleh para pemimpin TNI terutama dalam menilai anak buah yang diharapkan menjadi calon pemimpin masa depan”, tuturnya. Pembinaan karir jangan hanya didasarkan pendidikan saja, tapi juga harus didasarkan pengalaman dan pengabdiannya, tambahnya. (Patriot)

Sumber : Patriot

Posted on 06/05/2011, in Putra Cijantung and tagged , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. LUAR BIASA!! ….. saya kagum dengan PENGALAMAN HIDUP Bapak anda yang ikut Operasi “PENEROBOSAN” ke Timor Portugis dekade 70 an. Seorang Pendeta/Rohaniawan di Kesatuan Kopasandha yang siap bayar harga demi TUGAS & TANGGUNGJAWAB bagi Kesatuan dan Negara. Dari semua literature yang saya baca SELAMA INI, belum ada cerita dari para purnawirawan yang turun sebagai “SPECIAL COMBATANT” di Timor Portugis tentang kehadiran seorang Rohaniawan apalagi seorang Pendeta yang turun sebagai COMBATANT, meskipun dapat dilihat lebih luas lagi kalau medan operasi disana mayoritas masyarakatnya adalah Khatolik Roma. Tapi saya KAGUM karena Bapak anda adalah BEST of the BEST dari kesatuan Kopasandha yang direkrut dan diseleksi dengan sangat ketat (sesuai dengan yang disampaikan oleh Letjen TNI Sutiyoso dalam bukunya “The Field General”) ……. BENAR-BENAR “SENG ADA LAWANG!!”….. OK SUKSES PENUH dengan Pelayanan Anda dan Istri di Depok. GBU

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.588 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: