Kenapa Mesti Tidak Jujur

Peristiwa ini sudah terjadi beberapa waktu lalu. Ada pesan penting yang saya perlu share disini. Jadi beginilah ceriteranya.

Hujan deras yang menyambut saya dan ponakan pada saat memasuki Kota Cianjur sama sekali tidak menyurutkan hati untuk memenuhi undangan sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa dari Jakarta. Pada hari itu melalui perjalanan panjang Depok-Lembang-Cisarua pulang pergi, saya mesti menjadi fasilitator team building yang diselipkan diantara kegiatan Retreat mereka.

Salah satu The Pre Supposition of NLP yang ada yakni “Learning is Living, we cannot not Learn” membuat saya belajar dari kegiatan mahasiswa ini.  Tentu ada hal yang saya pelajari. Baru kali ini saya sangat merasakan para peserta agak unik. Kenapa unik ? Hasil pengamatan siang hingga sore itu banyak sekali peserta yang “menempuh” segala cara untuk menjadi pemenang dalam setiap games. Padahal tidak ada hadiah apapun yang diberikan. Satu sisi saya senang karena peserta antusias mengikuti kegiatan akan tetapi pada sisi lainnya ada satu hal yang perlu menjadi perhatian, yakni masalah ketidakjujuran. Peserta berlaku curang untuk menjadi pemenang. Buat saya pribadi ini masalah serius. Atau saya yang terlalu menganggap ini hal serius, entahlah yang pasti saya tidak mengganggap ini hal biasa. Masakan hanya ingin meraih kemenangan bagi grupnya, beberapa anggota grup dengan bangga kerap tidak jujur. Dan uniknya sepertinya dengan terbuka dan tanpa merasa bersalah mereka senang melakukannya. Meski ketahuan dan sudah menerima teguran mereka tetap saja mengulanginya.

Bagaimana mereka akan menjadi seorang pribadi yang cakap bila ketidakjujuran dijadikan kebiasaan pada hal-hal yang kecil. Para peserta yang merupakan mahasiswa ini mestinya segera melakukan perubahan atas sikap mereka sehingga hal kecil ini tidak terus terbawa sampai mereka meraih gelar sarjana. Segala sesuatu dalam hidup yang dilakukan terus berulang-ulang tentunya akan menjadi kebiasaan namun sayangnya kebiasaan yang dipertunjukkan oleh peserta team building saat itu tergolong kurang baik. Kenapa Mereka berlaku curang atau tidak jujur ketika mengikuti team building.

Semoga saja mereka tidak kebablasan menjadikan sikap tidak jujur dan berlaku curang  berlangsung dalam hidup mereka. Para mentor dalam organisasi yang mereka ikuti diharapkan dapat membimbing
agar tidak mengedepankan Ketidakjujuran dalam kehidupan mereka hari lepas hari.

Salam Berdaya !

2013 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2013 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The concert hall at the Sydney Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 27,000 times in 2013. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 10 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

Kaos Piala Dunia Argentina 1978

Gambar

Bisa jadi semua yang membaca akan menganggap apa yang saya lakukan ini aneh. Namun kebiasaan yang masih saya kerjakan hingga saat ini terkadang membawa hikmat tersendiri. Awalnya, sewaktu anak pertama akan berulang tahun yang pertama saya mengatakan jauh-jauh hari kepada isteri bahwa saya akan memberikan hadiah istimewa untuknya.  Namanya juga seorang ibu tentu saja senang mendengarnya. Iapun berusaha mencari tahu apa yang akan diberikan kepadanya. Saya tidak serta merta mengatakannya. Saya menginginkan ini hanya akan menjadi kejutan. Dia pun lantas menganggukkan kepala seraya menyetujui.

Tepat tanggal 16 April 2009 lalu, sehabis perayaan ulang tahun bersama teman-teman di rumah, malamnya baru saya mengeluarkan hadiah istimewa untuk anak saya.

Ketika saya mengeluarkan hadiah itu, isteri sayapun heran. Saya memberikan sebuah kaos warna hijau bertuliskan Argentina 78 yang masih terbungkus plastik transparan binatu. Lantas saya katakan, ini kaos bukan sembarang kaos. Kaos ini adalah kaos yang dibeli oleh Ibu saya pada waktu Piala Dunia 1978 di Argentina dimana Mario Kempes adalah bintangnya. Kaos ini bagi saya sangat istimewa sebab sudah saya simpan sangat lama dirumah orang tua saya.  Istri  tertawa seusai mendengarkan ceritera saya.  Setelah saya tanyakan mengapa, alasan pertama rupanya ia heran karena saya masih menyimpannya. Kedua ia tertawa sebab membayangkan tubuh saya pada waktu itu. Pasti kurus sekali katanya. Betapa tidak, kaos yang sama dipakai saya saat usia 9 tahun, kini dapat dikenakan oleh anak saya  yang saat itu berusia setahun. Meski agak kebesaran dibagian leher namun pas buat dipakai sehari-hari

Memberikan kado berupa kaos yang sudah berusia 32 tahun merupakan sesuatu yang tak ternilai apalagi itu disampaikan kepada orang yang dikasihi. Itu adalah kebahagiaan tersendiri.

Sepertinya kaos ini sebentar lagi sudah bisa dipakai juga oleh adiknya Joe yakni Frederik Soleman Obaja yang tanggal 30 Oktober 2013 lalu merayakan HUTnya yang pertama. Terima kasih buat Mama, Oma yang menyimpan Kaos Argentina 1978 yang dibelinya seingat saya di Pasar Cijantung 2 bersama ibu-ibu Persit.

Fun Games PO STIAMI : NLP Lagi Heran Lagi !

Usai beberapa waktu lamanya tidak menghandle kegiatan Fun Games, Sabtu 27 Juli 2013 tepat di hari peringatan penyerbuan kantor PDI di Jalan Diponegoro saya kembali membawakan satu hal yang menjadi kesukaan dalam hidup yakni berbagi apa yang diketahui. Kali ini saya melayani sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa dari sebuah Sekolah Tinggi, namanya Persekutuan Oikoumene Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Mandala Indonesia. Tadinya memang saya berpikir akan fully equipped untuk membawakannya namun kekuatan pikiran mengatakan lain sehingga saya memutuskan untuk membawa 1 buah ransel berisi tali temali, blind fold, balon, 1 gulung besar tali rapia, 2 Hula Hup, 4 Ember kecil, 1 paket Kalimat Berpasangan, 1 dooz Pensil saja. Sebagai langkah antisipatif kalau hari hujan saya juga telah menyiapkan beberapa games tanpa alat yang nantinya dapat dimainkan dalam ruangan. Keikutsertaan saya dalam kegiatan ini adalah atas inisiatif dari Bang David Siregar yang meminta saya membantu dirinya yang juga tampil sebagai pemateri dalam kegiatan PO STIAMI yang bertajuk Dipanggil Menjadi Anak Terang.

Untuk mengenal area kegiatan, saya pergunakan pengetahuan yang didapat dari pelatihan outbound trainer yakni saya melaksanakan Site Management di lokasi, saya hadir di Wisma Pelatih Taman Wiladatika CIbubur beberapa jam sebelum session saya dilaksanakan. Bisa jadi panitia atau ada peserta mungkin bertanya, mengapa acara sore kok jam sebelas sudah standby dilokasi. He he he, maaf ya panitia, jadinya keluar nasi box satu lagi buat saya ya. Sebenarnya ini sih merupakan kebiasaan saja, alih-alih untuk mendapatkan keberdayaan dari alam sekitar lokasi perhelatan Retreat dan Sidang Pleno dari PO STIAMI. Saya memang mesti hadir, melihat, doa kepada Tuhan, berbicara sedikit dengan alam semesta agar mendukung apa yang akan saya lakukan.

Satu hal yang saya ingin share disini, apa yang saya pikirkan dengan membayangkan apa yang yang lakukan dalam kegiatan ini, semuanya terjadi persis seperti yang ada dalam pikiran. Sebelum acara dimulai saat sedang menyusun Session Planning Sheet,  alam pikiran membayangkan bahwa sepertinya peserta yang hadir tidak sampai 30 orang seperti salah seorang panitia sungguh berharap dalam surat elektroniknya. Meski saya persiapkan juga semua permainan dengan peserta 30, yang saya lihat ketika tiba di tempat kegiatan, persis seperti pikiran yang menggelayut dalam bayangan, rupanya hanya 13 orang saja. Hal kedua yang terjadi, alam pikiran saya sudah membawa keadaan di lokasi acara strongly rain will drop on that day, in fact, it was raining.Wow ! nyata banget ya, kalau kita mulai memikirkan, membuat sebuah gambar dalam alam pikiran kita, itu sungguh terjadi lho !. Persis seperti kata Coach Erni Julia Kok, Certified Master Trainer Internasional NLP, dalam sebuah status yang beliau tulis di face book. Ia menulis bahwa  “Alam pikiran kita adalah kreativitas tak terbatas. Apa yang dapat diciptakan dalam Alam Pikiran dapat diciptakan oleh Alam Nyata/Material. Dengan kata lain, apa yang dapat dilihat, didengar dan dirasakan oleh pikiran kita dapat dipegang oleh tangan kita”. Dengan 2 kejadian yang saya alami, menurut diri ini, saya benar dapat memegangnya. Meski kadang saya masih agak “heran” kok bisa ya, tapi itulah yang terjadi. Peristiwa Sabtu lalu adalah yang kesekian kalinya terjadi dan dapat saya pegang. Meski sudah menjadi Certified NLP Practitioner rupanya saya masih beberapa saat akan mengalami rasa heran. Aaah, harusnya tidak boleh seperti itu. Jadi mesti banyak belajar lagi dan lagi agar siap menghadapi betapa dahsyatnya kekuatan pikiran itu bila kita dapat memanfaatkan, tentunya hanya untuk hal yang berbau positif saja.

Ooh ya, gimana dengan kegiatan Fun Games PO STIAMI sendiri ? Dengan pertolongan Tuhan dan kekuatan pikiran yang dimiliki, acara berlangsung baik dan kiranya dapat diterima dan dimanfaatkan oleh setiap peserta agar mereka dapat memanfaatkan keberdayaan yang dimiliki untuk dipakai dalam ladang pelayanan di lingkungan STIAMI. Semangat yang dimiliki patut diacungi jempol, meski sedikit yang hadir tapi tak sedikitpun terlihat goyah hanya masalah ketepatan waktu saja yang kemarin terlihat sedikit dikesampingkan.

Kegiatan yang berlangsung kurang lebih 2 jam itu, diakhiri ketika kumandang adzan magrib terdengar di seantero Taman Wiladatika. Saya pun mengakhirinya dengan memberikan games pamungkas kepada 13 orang peserta yakni ” The Power of Action”. Meski hari sudah agak gelap, saya katakan kepada mereka, percuma bila kakak dan abang semua yang menjadi pelayan hanya bisa berkata-kata saja tanpa langsung memulai sebuah aksi nyata. Meminjam istilah pemazmur, “sia-sialah” para pelayan memiliki program yang bagus, kemampuan dana, dan sources lainnya bila sama sekali tidak melakukan satu aksi  yang benar-benar dapat dirasakan oleh lingkungan dimana kita ditempatkan. Pakailah kekuatan dari aksi untuk melayani di ladangNya.

Terima kasih TUHAN atas waktu yang Engkau sudah berikan, atas apa yang saya sudah boleh bagi dan alami bersama para mahasiswa dan para pekerja yang telah komit dalam ladang Tuhan di PO STIAMI. Kiranya dengan terpilihnya kepengurusan yang baru, semangat untuk tetap setia, jujur, rendah hati dalam melayani akan tertanam dalam jiwa para pengurus dibawah kepemimpinan Abang Roland Siahaan yang kabarnya telah ditahbiskan pada hari Minggu 28 Juli 2013 ini.

 

 

 

D U A

image

DUA itulah judul ketikan saya kali ini. Saya ingin menulis pada blog dengan mengaitkan apa yang saya jalani, temui, alami dengan angka 2. Angka 2 dalam ketikan ini dipetik dan diawali oleh adanya perjalanan dari Kota Padang menuju Kota Padang Sidimpuan pada hari Kamis 11 Juli 2013 lalu. Ini merupakan perkunjungan yang KEDUA sesudah pernikahan saya dengan istri terkasih yang berasal dari Kota Salak tersebut. Perjalanan yang ditempuh selama 9 jam dengan kendaraan roda empat itu juga merupakan perjalanan terjauh KEDUA yang boleh dijalani oleh anak terkasih Johannes Samuel Obama. Dengan menggunakan maskapai yang sama, perjalanan Jakarta-Padang ini menjadi penerbangan rit KEDUA bagi dirinya. Penerbangan pertama dijalaninya sewaktu menuju Kota Medan pada sekitar bulan Februari lalu. Dalam perjalanan menuju kota kelahiran istri, saya juga membawa serta anak KEDUA saya yang masih berusia 8 bulan. DUA anak saya bawa ke kampung isteri, meski repot namun segala sesuatunya dapat berjalan dengan cukup baik berkat Doa. Pulang kampung ditahun 2013 kali ini memang bukan dilandasi oleh sebuah sukacita akan tetapi dukacita atas berpulangnya kakak nomor DUA dari istri yang dipanggil pulang Pencipta Semesta pada hari Rabu 10 Juli 2013 lalu. Akibat menderita stroke, Lae saya itu sempat masuk rumah sakit dan dirawat selama kurang lebih 3 hari di Rumah Sakit. Penanganan yang diberikan masih dapat dimaksimalkan apabila ruang ICU yang tersedia lebih dari 4 Bed. Akibat ketidaktersediaan ruangan membuat Lae saya itu dirawat diruang lain. Perjuangannya didalam ruang perawatan rupanya tidak menghasilkan kesembuhan namun justru keselamatan sebagai gantinya. Kakak isteri yang masih berusia 56 tahun memiliki DUA anak yang kebetulan KEDUAnya sudah beliau hantarkan memasuki gerbang rumah tangga. Saat kematian menjemput beliau, sebenarnya Tuhan sudah memberikan DUA cucu yang masih dalam kandungan anak mantu dan anak perempuannya.

Di sela-sela kegiatan saya sepanjang hari, saya bersama anak menyempatkan diri ke sebuah Mall di kota. DUA kali saya pergi kesana untuk mencari makanan yang cocok dengan perut saya dan anak Obama. Sayangnya saya tidak bisa berlama-lama disana meski hati tergerak.

DUA pemandangan yang mencerminkan kehidupan manusia di dunia juga boleh saya alami. Tak jauh dari rumah tinggal almarhum Lae Nathan, saat yang sama juga sedang berlangsung Pesta Pernikahan di gedung Sinar Pancar. Letak gedung itu hanya beda satu rumah saja dan untungnya tidak saling berhadapan. Jadi pada hari Sabtu itu juga ditengah prosesi pemakaman, hingar bingar lagu dan musik Pesta Pernikahan dan lagu, musik acara adat pemakaman silih ganti saling sahut menyahut di DUA lokasi yang terletak di Jalan Teuku Umar Padang Sidimpuan. DUA acara beda tujuan berlangsung dalam waktu bersamaan. Satu acara permulaan dalam bahtera kehidupan rumah tangga lainnya acara terakhir kehidupan di dunia yang fana.

Ketika Ibadah Pelepasan selesai, saya bersama seluruh jemaat, keluarga, kerabat yang hadir mengantarkan ke lokasi pemakaman yang tidak terlalu jauh dari rumah Lae almarhum. DUA kali saya sudah mengunjungi lokasi pemakaman yang terletak diatas bukit itu. Pertama di tahun 2005 dan yang kedua hari Sabtu sore itu. Di pemakaman yang katanya tanahnya sudah dibeli HKBP dari Pemkot juga terbaring jasad mertua lelaki dan perempuan sehingga saya dan keluarga menyempatkan diri ziarah kesana. Dan tak lupa foto dimakam mertua yang memang berdampingan.

DUA yang terakhir yang saya boleh jumpai saat melakukan perjalanan ini terjadi pada hari Minggu dinihari. Pada perjalanan pulang dengan Travel dari Padang Sidimpuan menuju Padang kendaraan yang saya tumpangi dihentikan Polisi. Sebelumnya 5 orang penumpang dalam satu kendaraan termasuk saya tak mengerti mengapa Polisi dinihari kok mengadakan razia juga. Apesnya mengapa hanya DUA orang yang diperiksa KTP dan surat kelengkapan lainnya. Selain sopir travel ternyata polisi juga meminta saya membuka jendela dan menyerahkan KTP. Meski cuma dilihat dengan senter namun hal itu berulang terjadi DUA kali terhadap diri saya. Saya mesti mencabut KTP DUA kali dari dompet. DUA orang Polisi berbeda menanyakan hal yang sama. Dari DUA orang Polisi itulah saya diberitahu bahwa ada Napi yang kabur dari Medan. Segala sesuatu menjadi lebih jelas saat saya membuka twitter dimana terdapat info mengenai kaburnya ratusan Narapidana dari sebuah Lembaga Pemasyarakatan di Medan. Apa tampang saya seperti Napi kali ya ? He he he he.

Yah begitulah ketikan saya kali ini dikaitkan dengan angka DUA sepanjang melakukan perjalanan Jakarta-Padang-Padang Sidimpuan pulang pergi. Tuhan kiranya juga akan menDUA kalikan Berkat bagi saya dan keluarga Amin.

Tribute To My Father : Dari Ketua RT Sampai Jadi Ketua RW

GambarGambarGambar

Beberapa waktu lalu seorang jemaat di gereja saya menyampaikan salam dari seseorang yang pernah menerima bantuan dari Papa Dan sewaktu ia datang ke Jakarta. Almarhumlah yang membantu mengurus Kartu Tanda Penduduk dirinya sehingga ia dapat seterusnya memiliki KTP DKI Jakarta. Dalam hatiku, Puji Tuhan masih ada ya yang ingat apa yang pernah Papa Dan lakukan bagi ratusan orang yang diurus KTP mereka ketika beliau menjadi Ketua RT di Kompleks Kopassus Cijantung III Karet. Ketikan dibawah saya up load ulang dalam rangka mengingatkan kembali apa yang pernah beliau lakukan sehingga anak cucunya boleh mengambil pelajaran bagi kehidupannya.

Berdasarkan Surat Perintah Nomor Prin : 033/12/1971 yang ditanda tangani oleh Kolonel Inf A. Kodim selaku Komandan Kesatrian Ahmad Yani Cijantung maka terhitung mulai 9 Desember 1971 almarhum papa ditunjuk menjadi Ketua RT 04 RW 03 Kelurahan Baru menggantikan Peltu O. Suprijatna. Melalui surat itu pula ditunjuk Serda M. Djanuni – Ba Hub Denma Kopassus menjabat sebagai wakil RT.04/RW.03. Surat Perintah itu adalah pengangkatan dari Kesatuan. Sedangkan pengesahan dari Pemerintahan baru keluar setelah surat dari Lurah Baru Pemerintah Daerah Chusus Ibukota Djakarta melalui Tjamat Pasar Rebo, Moh. Amin SH ditanda tangani. Dalam surat penunjukkan itu diketik bahwa terhitung mulai 19 Oktober 1972 Pemerintah Tingkat Ketjamatan mengesahkan papa untuk menjabat selaku Ketua RT. 004 /RW.03 Kelurahan Baru Ketjamatan Pasar Rebo.

Selama almarhum papa menjabat sebagai Ketua RT banyak kegiatan dilakukan. Beliau pernah mengikuti seminar pengenalan Narkotika yang diselenggarakan di kantor walikota. Kegiatan yang dibuat diantaranya adalah Kerja Bakti, Pembinaan berupa Pengajian dan masih banyak lagi. Tujuannya adalah merukunkan warga RT. 004 untuk kehidupan bertetangga dan tak lupa guna menunjang tugas pokok sebagai warga ABRI kata dan perbuatan adalah satu dalam menghayati Pancasila dan Sapta Marga secara utuh. Seingat saya pengajian diadakan pada setiap hari Kamis malam Jumat. Acara itu berlangsung secara giliran di rumah warga. Dalam melangsungkan acara biasanya tuan rumah akan menggunakan tikar sebagai alas sebagai pengganti kursi.

Sebuah prestasi yang sempat dicatat pada waktu almarhum papa menjabat sebagai Ketua RT. 004/RW. 03 adalah terpilihnya lingkungan warga RT. 004 menjadi lingkungan terbersih di seantero RW.03. Juara kebersihan itu istilah yang saya ingat. Dalam memberikan contoh teladan bagi warganya papa senantiasa tak ragu menurunkan kakak laki-laki untuk membersihkan selokan atau korve di samping dan depan rumah. Istilah Korve atau Kerja Bakti pertama kali saya kenal ya melalui kegiatan yang sering dilakukan di lingkungan ini. Setiap perayaan HUT Proklamasi seluruh trotoar di depan rumah warga kompleks di sepanjang Jalan Sungai Luis hingga Jalan Lebos yang berbatasan dengan RT lain akan di kapuri warna Putih. Alhasil warga memperoleh penghargaan berupa Piala berwarna Perak yang dikalungi pita kecil merah putih menjadi kebanggaan bagi warga RT. 004. Ibu-ibu serta anak-anak tampak gembira mendengar hasil perolehan kerja bakti mereka menghasilkan kemenangan. Peristiwa keberhasilan itu dapat dilihat melalui foto di depan rumah Wakil RT. 0043/RW. 03 persis di pertigaan Jalan Sungai Luis dan Jalan Lebos (saat ini nama jalan sudah berganti). Tampak pula sebuah papan tulis warna hitam yang digunakan untuk memberitahuan beberapa pengumuman kepada warga.

Sebuah peran almarhum papa lainnya sebagai Ketua RT yang masih terekam adalah ketika 2 buah keluarga yang rumah tinggalnya bersebelahan kerap berselisih paham satu sama lainnya. Kehadiran almarhum senantiasa berusaha untuk mendamaikan kedua keluarga yang sama-sama dari Maluku itu. Benih permusuhan sepertinya tetap hinggap diantara mereka hingga kepindahan kami ke Serang Banten pada tahun 1981.

Keberhasilan almarhum papa menjadi Ketua RT rupanya membawanya terpilih menjadi Ketua Rukun Warga 03. Sebuah papan warna putih bertuliskan hitam dipasang disebelah kiri rumah kami persis di dekat selokan kamar bagian depan. Sayangnya saya belum menemukan bukti otentik penunjukkannya sebagai Ketua RW.

Ceritera mengenai Rukun Tetangga dan Rukun Warga selama di Cijantung berakhir ketika Agustus 1981 terjadi pergeseran pasukan dari Cijantung ke Serang Banten dan Karianggo Ujung Pandang.

 

Tribute To My Father : Kiprah Paitua 18 Tahun di Baret Merah


Selepas diterima menjadi Prajurit TNI AD melalui Dinas Rohani Protestan – Disrohprot sebagai Guru Militer Angkatan Darat mulai 1 Januari 1970 perjalanan kehidupan keluarga F.S Katipana mengalami perubahan. Meskipun tugas pelayanan tetap menonjol namun kehidupan dalam dunia militer setidaknya sedikit berbeda dengan pelayanan dalam dunia sipil. Terlebih lagi garis kehidupan Papa Dan membawa kami anak-anaknya kedalam dunia yang baru dari kehidupan sebelumnya yang sangat berbeda sekali. Kehidupan militer kadang kala dirasakan seolah menutupi dunia pelayanan yang selama ini dikenal. Apalagi sejak 1 Maret 1971 Papa Dan sudah menerima dan mengambil tantangan yang lebih berat ditandai dengan bergabungnya Papa Dan kedalam Kesatuan Korps Baret Merah yang ketika itu masih menyandang nama Pusat Pasukan Khusus atau PUSPASSUS TNI AD.
Masyarakat mana pada saat dulu hingga kini tak mengenal pasukan Baret Merah ini. Bahkan dulu sampai ke Pulau Kisar Maluku Barat Daya pun namanya sudah harum dikenal padahal akses informasi saat itu terbatas sekali. Sepanjang kedinasan Papa Dan di Kopassandha nama lain Baret Merah hanya ada 1 (satu)orang lagi asal Pulau Kisar yang menjadi Prajurit Kebanggaan Bangsa ini. Sebelumnya sudah lebih dahulu bergabung pemegang Bintang Sakti (diserahkan langsung oleh Presiden RI Pertama), bintang Jasa bak Purple Heartnya Tentara Amerika. Atas keberaniannya saat Dwikora Negara memberikan Bintang Sakti kepada satu-satunya Putra Kisar Yotowawa yang saat itu berhasil Survive layaknya Rambo dibelantara hutan perawan Kalimantan Utara, beliau adalah yang terkasih Om Simon Maalete. Selanjutnya ia menjadi Pelatih Sekolah Komando di Pussandha Linud nama lain dari Pusdik Kopassus, kawah Candradimukanya prajurit terpilih dari prajurit pilihan.

Kehadiran Papa Dan dalam kesatuan Baret Merah ditandai dengan keikutsertaan seorang Pendeta dalam Latihan Dasar Para Angkatan Kedua. Pendeta kok disuruh latihan terjun ?.Latihan terjun payung diselenggarakan di Pusat Pendidikan Pasukan Khusus Batujajar mulai 31 Maret 1971 sampai 29 April 1971. Diantara 189 orang peserta Latihan Dasar Para terdapat nama beliau bersama prajurit Malaysia yang turut dididik oleh Baret Merah.

Sepanjang kedinasannya di Pasukan Nomor 3 di dunia beliau juga mesti mengikuti kegiatan-kegiatan kemiliteran seperti Apel Pagi, Siang, Lari Pagi, Latihan Menembak, Piket atau Konsiyir, Latihan Perang Hutan latihan keprajuritan lainnya termasuk Terjun Penyegaran beberapa kali dalam waktu tertentu harus dijalani pula. Latihan Perang Hutan di Ciampea Bogor, Terjun Malam atau Siang di Lapangan Gorda Banten sampai latihan-latihan lain persiapan merayakan Hari ABRI dimana terakhir saya ingat diantaranya saat HUT TNI dirayakan di Madiun 1982 Papa Dan terlibat di dalamnya juga. Selain itu seingat saya bagi kehidupan militer yang namanya Lari Pagi itu sudah makanan hari-hari. Kerap terlihat beliau berdiri dimuka anggota pasukan lain dibelakang sambil membawa Bendera Kompi apakah waktu di Cijantung atau saat di Serang. Malahan sewaktu dinas di Grup 1 Parako sesekali “Paitua” lari pagi dari Taman sampai Karangantu Banten. Dan satu lagi kekhasan Papa ketika berlari adalah ia berlari TANPA SEPATU. Dari catatan surat perintah yang masih tersimpan dirumah, Paitua, begitu ia dipanggil, juga diperintahkan untuk memulai Latihan Pemukulan Benda Keras atau selanjutnya dikenal dengan Bela Diri Merpati Putih. Surat Perintah yang di tanda tangani oleh Letkol Kuntara memerintahkan bagi beberapa perwira untuk melaksanakan latihan setiap hari Selasa dan Kamis mulai pukul 15.00 – 18.00 bersama para perwira Grup 1 lainnya diantaranya seperti Kapten Luhut Panjaitan, dulu menjabat Wadan Den 11, Lettu Prabowo Subianto, dulu anggota Denpur 11 sebagai Danki 112, Lettu Muhajir dan lainnya.

Satu hal yang fenomenal dari beliau sebagai seorang Pendeta Tentara adalah keterlibatannya dalam TEAM SUSI yang mengemban tugas di Timor Portugis pada awal persiapan penyerbuan Kota Dili 7 Desember 1975. Beliau tergabung dalam TEAM SUSI dibawah pimpinan Kapten Yunus Yosfiah bersama 99 orang Prajurit Kopassandha pilihan lainnya. Tugas operasi ini sama sekali bukan merupakan pelayanan namun harus bertempur di medan laga, kalau tidak menembak ya ditembak. Team Susi terdiri dari anggota pasukan Baret Merah berkemampuan Sandi Yudha atau Sandha, berperang dengan segala akal tanpa diketahui musuh dimana salah satu cirinya mereka tidak mengenakan PDL loreng darah mengalir kebanggaan satuan yang dikomandani pertama kali oleh Mayor RB Visser alias Mayor Idjon Djanbi. Dengan menyandang nama samaran Joseph Fernandes ia diberi tugas menjadi Mandor Jalan di daerah Timor Portugis. Selama di daerah operasi selain Alkitab sahabat lain yang selalu dibawa adalah isteri pertama seorang Prajurit yakni Senjata laras panjang jenis AK 47 senantiasa dibawa kemana saja. Dengan pakaian ala Putra Asli Timor lengkap dengan topinya, para prajurit Baret Merah ini dikenal sebagai The Blue Jeans Soldiers. Perjuangannya selama bergabung bersama Team Susi sangat memiliki ceritera heroik dari para prajurit termasuk ketika Papa Dan diminta untuk menembakkan RL atau Rocket Launcher ke sebuah gedung Gereja yang saat itu terdapat sepasukan Fretelin. Menjadi bagian dari Team Susi atau Nanggala 2 sebagai sukarelawan yang melaksanakan tugas operasi penggalangan/operasi Sandi Yudha di desa-desa perbatasan atau garis depan di dalam daerah musuh dengan Bahasa Daerah Tetun. Apabila tertangkap sepasukan yang dulu dikenal dengan nama RPKAD itu tidak dianggap sebagai pasukan TNI. Tugas Nanggala 2 adalah mempertahankan kantong-kantong APODETI, partai yang menginginkan bergabungnya masyarakat Timor dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal itu bertujuan untuk menunjukkan secara politik kepada dunia luar bahwa mereka sungguh ingin bergabung dengan Indonesia. Atas jasa-jasa beliau Menhankam/Pangab M. Yusuf menganugerahi Bintang jasa Satya Lencana Seroja dan Bintang jasa Veteran Pembela Kemerdekaan bagi papa almarhum.

Kehidupan keprajuritan di Kompleks Kopassus Cijantung bersama Paitua berakhir pada Agustus 1981 dimana Menhankam/Pangab Jenderal TNI M. Yusuf melihat hakekat ancaman yang ada di nusantara dengan merelokasi para Prajurit Kopassus (d/h Kopassandha). Grup 1 Kopassus dipindahkan ke Kesatrian Gatot Subroto Taman Serang Banten. Kemudian Grup 3 Kopassus digeser ke Markas Karianggo Makasar. Sedangkan Grup 2 Kopassus tetap menempati Kandangmenjangan sebagai Markas Komando mereka. Di Jakarta saat itu tetap diisi Grup 4 Sandha, Detasemen Markas dan sebuah satuan Anti Teror setingkat satu Detasemen yakni Den 81 yang kemudian dikenal sebagai Satuan Penanggulangan Teror atau Sat-Gultor.

Sebuah tantangan baru kembali mesti dihadapi sebagai Perwira Rohani Protestan sepanjang dinas di Grup 1 yang kebanyakan berisi Tamtama Bintara dan Perwira remaja yang masih muda belia. Berkat bimbingan Komandan Grup 1 Para Komando saat itu Kolonel Wismoyo Arismunandar dan Wadan Grup 1 Letkol Yusman Yutam beserta para perwira lainnya, Papa Dan memulai aktifitas gerejawi dengan menggunakan eks gudang beras di depan Pos Provoost sampai akhirnya 5 Februari 1986 warga Kristiani di perumahan memiliki Gedung Gereja sendiri. Sebelum memperoleh ijin menggunakan gedung eks gudang beras saat hari Minggu tiba prajurit Kristen beribadah ke kota Serang apakah itu ke GKI, GBI, HKBP, Katholik dan denominasi lainnya. Kecuali prajurit bujangan mereka biasanya akan IB atau Ijin Bermalam ke Jakarta dan kota lainnya menjumpai sanak saudara mulai Sabtu siang selesai Apel.

Saat di Kesatriaan Gatot Subroto kami pun berpindah-pindah tempat tinggal dalam satu kesatrian. Rumah tinggal pertama kali mulai 1981 sampai 1988 di Blok H70 No 2 Kompi Markas. Waktu memasuki Masa Persiapan Pensiun Papa Dan dipindahkan lagi ke rumah blok H 70 No 69 atau dulu disebut perumahan Denpur 11 diujung dekat Lapangan Tembak. Sebelum pindah ke perumahan Purnawirawan Kopassus di Cimanggis Papa dengan kami pindah lagi ke 2 rumah K 38 di Denpur 11. Sekitar pertengahan 1989 setelah saya lulus dari SMA Mardiyuana barulah Papa Dan memboyong kami semua keluarga dari Perumahan Grup 1 Parako ke perjalanan kehidupan selanjutnya di Cimanggis tempat ia menghembuskan nafas terakhirnya karena sakit pada hari Rabu 14 Juli 2010.

Tribute To My Father : Dari Pendeta Jemaat GPM – Gereja Protestan Maluku Sampai Ketua Klassis Wonreli Kisar

SPdtA

PapaPdt68

Setelah menyelesaikan Pendidikan Teologinya di Makasar, Papa Dan mulai bertugas sebagai Pendeta Gereja Protestan Maluku pada 6 September 1953. Dalam usianya yang baru 23 tahun ia mulai melayani sebagai pendeta dilingkungan GPM mungkin kalau memakai istilah sekarang masa Vikariat. Setahun kemudian sesuai Surat Keputusan Badan Pekerja Sinode GPM Ambon No. 41 A ia ditetapkan menjadi Pendeta Jemaat Wonreli Klasis Kisar sejak 22 April 1954. Pada saat pelayanannya berlangsung, ia juga sempat menjadi anggota DPRD Kabupaten Maluku Tenggara. Kurang lebih 4 tahun beliau melayani masyarakat melalui utusan Partai Kristen Indonesia atau PARKINDO mulai 12 Nopember 1956 sampai dengan 30 Mei 1960. Selama waktu tersebut ia sempat vakum dalam tugas kependetaan. Papa yang lahir di Laitutun Pulau Leti 28 Februari 1930 ditetapkan selaku Pendeta/Ketua Klassis mulai dari 1 Juli 1962 sampai dengan 30 Juni 1966 setelah sebelumnya diangkat kembali sebagai Pendeta Jemaat usai menyelesaikan tugas pelayanan pada dunia Politik melalui Parkindo. Putra keenam dari SHS Katipana atau Tete Sere ini lahir 9 bersaudara termasuk dirinya. Ketika Papa Dan dilahirkan, Tete Sere ditempatkan Belanda melayani Jemaat Pulau.

Perjalanan beliau menjadi Pelayan Firman di lingkungan Gereja Protestan Maluku sempat kandas. Ia pernah ditetapkan oleh BPS GPM telah melakukan pelanggaran berupa meninggalkan tempat tugas tanpa ijin dan pemberitahuan kepada Pimpinan. Sanksi tersebut muncul karena pada waktu itu 30 Juni 1966 ia “meninggalkan” tempat tugas pelayananya. Papa Dan yang saat itu terbentur waktu dan kesempatan berangkat dari Ambon menuju ke Surabaya. Beliau mesti meninggalkan Ambon karena salah seorang adik yang dikasihinya meninggal ditanah Jawa. Dalam pengakuan kepada Ketua BPS GPM ia secara terus terang mengakui kesalahannya. Namun semua itu bukanlah sebuah kesengajaan akan tetapi semata-mata karena persoalan biaya yang menundakan keberangkatannya kembali ke Ambon. Tak kala dirudung kesulitan, sebelum ia tiba kembali, Pimpinan BPS GPM sudah menjatuhkan sanksi kepadanya. Sepanjang 1 Juli 1966 sampai dengan 25 Juli 1972 Papa Dan tidak diperkenankan melakukan tugas kependentaan. Sejak saat itulah ia mulai mencari pekerjaan lain guna menghidupi kehidupan keluarga. Berbekal Ijasah Guru Sekolah Rakyat yang dimiliki, ia pun memulai perantauannya di Pulau Jawa dengan tinggal sementara di rumah abangnya, Yohanes Katipana atau Om Nani yang waktu itu sudah lebih dulu merantau sampai akhirnya beliau memanfaatkan kesempatan untuk diterima sebagai Guru Militer TNI AD pada Pusat Rohani Protestan TNI Angkatan Darat.

Karena hati dan pikirannya terganggu atas keterbatasan yang dirasakan dalam pelayanan akibat pencabutan haknya sebagai pendeta maka pada tahun 1972 dengan segala keberdayaan yang dimiliki, Papa Dan mulai mencoba mengajukan keringanan bahkan pencabutan sanksi atas dirinya dalam menjalankan tugas kependetaan oleh Gereja Protestan Maluku. Permohonan rehabilitasi atau pemberian kembali status kependetaan akhirnya dapat diperoleh lagi setelah Papa Dan mengurusnya langsung di Ambon. Pada akhirnya atas segala usaha dan rekomendendasi dari Pusat Rohani Protestan TNI AD Kolonel Mamesah, ia memperoleh kembali haknya sebagai seorang Pendeta dari BPS GPM . Surat pemberian lagi status kependetaan diberikan kepada Papa Dan seperti yang tertulis dalam Surat Kepuusan Badan Pekerja Sinode Gereja Protestan Maluku. Dalam surat yang tertanggal 26 Juli 1972 pihak Badan Pekerja Sinode GPM mencabut kembali sanksi dan memberikan hak Papa selaku Pendeta setelah dipertimbangkan bahwa apa yang sudah dialaminya telah memberikan kesan mendalam. Poin kedua yang disebutkan dalam surat tersebut adalah menyerahkan Papa Dan kepada Pusat Rohani Protestan TNI Angkatan Darat-PusRoh Prot TNI AD dalam hal pelayanan, dengan sebuah catatan bahwa Papa Dan adalah milik Gereja Protestan Maluku. Kegundahan hati Papa Dan seperti yang diungkapkan dalam surat permohonan akhirnya sirna dengan keluarnya keputusan tersebut. Beliau mulai saat itu berhak kembali menjalankan tugas kependetaan yang selama beberapa tahun dicabut. Dengan terbitnya keputusan GPM itu Papa Dan sudah diperbolehkan secara tata gereja melayani Baptisan Kudus, Perjamuan Kudus termasuk tugas kependetaan lainnya yang sejak masuk diterima Pusroh TNI AD tak dapat dilayaninya.

Seperti pepatah rohani katakan “Segala sesuatu Indah pada waktunya”. Demikian pula keberangkatan Papa Dan ke Pulau Jawa untuk mengurus kematian adik yang dikasihinya Carel Katipana merupakan sebuah jalan yang Tuhan berikan bagi kami. Sebab sejak saat itulah Papa Dan memutuskan untuk menetap di Pulau Jawa. Mama pun mulai memboyong Usi Fani, Bu Paa, Bu Tete, Bu Herry ke tanah Jawa. Perantauan keluarga besar Frederik Soleman Katipana hingga saat ini diawali oleh peristiwa tersebut. Semua ini adalah jalan yang Tuhan tak hanya rencanakan namun juga yang dipersiapkan olehNya untuk kami.

Tribute to My Father : Ia Salah Satu Lulusan Terbaik STT Intim Makasar

soe
Tempo dulu jika mendengar ceritera almarhum papa semasa hidupnya, saya berpendapat masyarakat Pulau Kisar Maluku Barat Daya saat itu cenderung memiliki pandangan bahwa pekerjaan melayani masyarakat itu merupakan tugas yang mulia. Pekerjaan yang termasuk terhormat tersebut diantaranya ; Guru, Mantri Kesehatan, Pendeta beberapa juga memilih menjadi Perawat. Tak heran jadinya keluarga kami juga memilih pekerjaan tersebut. Om Nani misalnya, ia dikirim Tete Sere, kakek kami ke Pulau Jawa untuk menjadi Guru PGRI di Surabaya hingga akhir hayatnya. Tante Tien juga disekolahkan oleh Tete Sere menjadi seorang perawat sebelum akhirnya beliau ke Belanda dan menetap hingga asa kembali kepada Sang Pencipta. Nah begitupun Papa, Opa Dan usai menamatkan Sekolah Menengah ia dikirim ke Soe untuk menimba ilmu Teologi. Tete atau Kakek saya, rupanya menginginkan salah seorang anaknya dapat mengikuti jejak beliau melayani umat di ladang Tuhan. Untuk memenuhi tujuan tersebut, Frederik Soleman Katipana atau Papa Dan terhitung mulai 1949 hingga 1953 mengambil kuliah Teologi di Sekolah Tinggi Theologi Indonesia Timur. Papa Dan memulai kuliah Teologi di Kota Soe selama 3 tahun dan 1 tahun di kota Makasar. Kenapa demikian, hal itu disebabkan STT Intim dipindahkan ke Kota Makasar. Sebelumnya para mahasiswa STT menggunakan Kompleks Gedung Stovil milik Gereja Timor mulai 1948. Mahasiswa Angkatan Pertama seperti tertulis dalam Buku Karangan DR.PN. Holtrop halaman 52 ditulis bahwa jumlah mahasiswanya adalah 33 orang. Sementara Papa Dan merupakan mahasiswa Angkatan Kedua pada Sekolah Tinggi Teologi dari gereja-gereja di Indonesia Timur yang terletak di Soe. Menurut buku yang sama, dosen-dosen yang mengajar pada STT tersebut seperti T. Van Weelie, H. Bergema, P. van Wakeren, W. van der Hoek, Dr. Enklaar dan lain-lain.

Pada saat H. Bergema berpidato waktu penyerahan ijasah-jasah bagi Mahasiswa Angkatan Kedua di Makasar 4 Juni 1953 rupanya ada nama Frederik Soleman Katipana disebut. Saat itu 23 orang mahasiswa di Sekolah Theologia Makasar dinyatakan lulus ujian akhir. Menurut Dosen H. Bergema pada pidatonya, ia menyatakan bahwa ada diantara para siswa yang sebelumnya diikhtiarkan tidak meneruskan pelajaran karena pada mulanya kurang kemajuan. Tetapi sebab usaha maka mereka mendapat angka-angka yang baik di ujian akhir. Lebih jauh beliau menyampaikan seperti yang ditulis pada Buku “Dari Malino ke Makasar” 5 (lima) dari mahasiswa Sekolah Theologia Makasar mendapatkan nilai rata-rata 8 (delapan) atau lebih untuk 12 mata pelajaran ujian akhir. Jumlah angka-angka dari lima siswa tersebut tidak terlalu berselisih. Sesuatu yang membanggakan saya ketika membaca, mengetahui bahwa dari ke-5 mahasiswa yang disebut dalam pidato salah satunya adalah nama Papa Dan. Inilah nama-nama mahasiswa yang memperoleh nilai rata-rata 8 (delapan) atau lebih tersebut :

1. Sinauru dari Poso
2. Tumadang dari Sangir
3. Hamapati dari Sumba
4. Katipana dari Kisar
5. Antahari dar Sumba.

Dalam sambutannya tersebut H. Bergema juga menyebutkan 5 orang berikutnya yang mendekati kelima pertama diatas yakni ; Opung dari Sumba, Laloman dari Bolaang Mangondow, Bengu dari Timor, Pattinama dari Jakarta dan Ulaan dari Sangir.

Sungguh membanggakan buat saya rupanya ada nama Papa Dan disebut sebagai salah satu mahasiswa yang meraih hasil terbaik. Ia saat itu merupakan utusan dari GPM atau Gereja Protestan Maluku yang waktu itu mengirimkan 3 orang wakilnya yakni C. Koritelu dan M.B Tallaut. Berita mengenai penyerahan ijasah lulusan Angkatan Kedua dari Sekolah Theologi Makasar diberitakan juga pada koran Pedoman Rakyat Makasar pada 6 Juni 1953, ditulis oleh B. Supit.

Prestasi yang diraih Papa Dan tidak diperoleh dengan mudah. Banyak ceritera yang pernah beliau sampaikan kepada kami anak-anaknya. Sungguh tidak mudah sekali terutama dalam hal pembiayaan untuk menyelesaikan sekolah tersebut. Salah satunya yang masih saya ingat adalah ceritera beliau bahwa ketika ujian berlangsung selama 21 hari dari Mei-Juni 1953 merupakan masa-masa berat yang ia hadapi. Pernah satu kali juga meski yang sekolah disini adalah calon-calon pendeta, namun Papa pernah “berselisih” dengan seorang rekan yang sama-sama kuliah. Saat itu papa tersinggung sebab rekannya tersebut melecehkan dirinya dan seantero Pulau Kisar dengan mencela kalau orang Kisar itu kelaparan makan biji mangga. Terang saja hal tersebut tidak diterima dan akhirnya keduanya “berselisih”.

Saat ini buku-buku, catatan-catatan kuliah masih tersimpan dalam 2 (dua) almari besi di rumah. Entah siapa yang akan meneruskan menjadi pendeta, anak-anaknya tak satupun mengikuti jejaknya. Anak-anaknya seperti saya paling banter hanya menjadi pelayan seperti Penatua, Diaken atau Pengurus di Gereja. Saya hanya dapat berdoa, jikalau memang nanti Tuhan memilih salah satu cucu beliau atau keturunan beliau, entah Lodi, Mima, Eda, Vica, Joe atau Fredy yang akan mengikuti Tete Moyang, Tete atau Opa melayani Tuhan sebagai Pendeta sehingga paling tidak masih akan ada yang membuka, membaca buku-buku beliau yang tersimpan rapi di Cimanggis.

Pernikahan Perdana Pria Mesiyapi dengan Gadis Oirata

S

Inilah ketikan ulang sebagai ungkapan syukur meskipun Papa, Opa saat ini sudah tidak lagi bersama kami. 21 Maret 1956 adalah salah satu tonggak bersejarah dalam keluarga kami. Dengan ketikan ini, anak-anak cucu, cicit keturunan Marga Katipana-Latuminasse, termasuk Lodi, Mima, Eda, Vica, Joe, Fredy suatu hari ketika mereka dewasa akan mengetahui darimana mereka berasal, siapa saja orang-orang yang terdekat dengan mereka. Hal kedua maksud dari penulisan ini adalah dalam rangka mengingat rayakan apa yang telah Opa dan Oma berikan kepada kelima anak-anak dan cucu, cicitnya selama ia bersama dengan kami.

Ceritera sejarah ini diawali oleh pernikahan antara yang terkasih saya sebut namanya papa Frederik Soleman Katipana, seorang pemuda gagah asal Wonreli dengan Martha Albertha Latuminasse, seorang gadis cantik dari Desa Oirata di Pulau Kisar Maluku Selatan Daya (d/h Maluku Tenggara). Yang pemuda berasal dari “kota” yang wanita berasal dari “desa”. Papa dari Wonreli, mama gadis desa dari Oirata. Sama-sama anak seorang pendeta, keduanya mengikat janji pernikahan pada tanggal 21 Maret 1956. Pernikahan keduanya merupakan pernikahan perdana antara Wonreli dan Oirata. Sebelumnya tak pernah terjadi pernikahan antara anak-anak Mesiyapi dengan anak-anak Oirata. Oleh karena itu ketika acara “lamaran atau masu minta”, keluarga besar Katipana dipimpin oleh Tete Janggut Katipana Wailara membawa pedang, emas dan lain-lain sebagai istilah jaman sekarang semacam seserahan, untuk memperoleh ijin menikah dari orang tua mama, Tete Oirata. Mengapa Pedang yang dibawa ? Emangnya akan perang ?. Tentu saja tidak. Pedang itu melambangkan suatu alat untuk membersihkan atau membabat alang-alang sehingga terbuka sebuah jalan bagi penyatuan anak desa Oirata dengan Pemuda Mesiyapi. Dengan terbukanya jalan itu, putra ke-4 dari SHS Katipana (Tete Sere) dan Suzana Ahab (Nene Sus) akhirnya dapat di persatukan dalam kasih Kristus dengan putri ke-4 dari Pendeta Yacob Lodewijk Latuminasse (Tete Oirata) dan Lebrina Latunusa (Nene Oirata). 

Sesampainya di rumah Oirata, Tete Oirata menyambut rombongan dengan sebuah ungkapan bahwa “Anak gadis saya tidak ditebus oleh pedang, namun sudah ditebus oleh Darah”. Terang saja ini mencengangkan para rombongan, meskipun demikian lamaran tetap diterima. Maksud ucapan Tete Oirata adalah Bahwa Kristus telah mati untuk umatNya. Akhirnya terlaksanalah pernikahan Perdana Pria Mesiyapi dengan Gadis Oirata di Pulau Kisar.

Ceritera lain yang pernah terucap oleh mama, undangan pernikahan mereka dicetak di Palembang Sumatera Selatan, ketika itu mama meminta bantuan kakaknya, Om Neles Latuminasse yang saat itu bertugas di Kota Empek-Empek sebagai Prajurit. Foto-foto pernikahan papa dan mama dalam ketikan ini menjadi saksi bagi anak cucu keduanya.

Kedua pasangan yang sudah dipersatukan oleh Tuhan ini telah merayakan Pernikahan Perak mereka ketika kami masih tinggal di Kompleks Kopassus (d/h Kopassandha) Blok H 64 Cijantung 3 Karet Jakarta Timur pada 21 Maret 1981 beberapa bulan sebelum kepindahan kami ke Serang Banten. Ibadah saat itu dilayani oleh Pdt. Helweldery yang pada waktu itu melayani di Tanjung Priok. Seingat saya undangan yang disebar saat itu berwarna biru dengan tulisan indah dari tangan dibuat oleh seorang pemuda Gereja Imanuel Cijantung, namanya Mas Jarwo, yang bekerja di Perum Peruri.

Tak hanya Pernikahan Perak, kami juga bersukacita ketika papa dan mama merayakan Pernikahan Emas mereka di Perumahan Purna Kopassus Kedayu Cimanggis pada 21 Maret 2006. Ungkapan sukacita itu juga dirayakan dalam Ibadah ucapan syukur dilayani oleh Pdt. Engkih dari GKP Cibubur. Kini tinggal Oma, 82 thn, Opa sudah Tuhan panggil ketika usianya 80 tahun.

Untuk memperlengkapi ketikan ini saya tuliskan juga Daftar Keluarga.

Keluarga Besar Katipana, anak-anak Tete Sere adalah ; Izach Katipana (meninggal di Kupang), Alexander Katipana (Kalabahi), Christina Katipana (Tante Tien, meninggal di Amsterdam Belanda), Welly Katipana (Tante Welly), Yohanes Katipana (Om Nani Meninggal di Surabaya), Paulus Katipana (Om Pau-Meninggal di Selat Roma), Carel Katipana (Om Upa-Meninggal di Surabaya), Elizabeth Katipana (2thn, Meninggal Kena Pecahan Bom Pesawat Jepang di kaki Kebun Wakupuki Mesiyapi).

Keluarga Besar Latuminasse anak-anak Tete Oirata ; Pieter Samuel Latuminasse (Om Piet, meninggal), Cornellis Latuminasse (Om Nelles, meninggal, Malang), Enggelina Ruth Latuminassese (Tante Engge, meninggal 2014, Surabaya), Ruluf Nicholas Latuminasse (Om Atu, meninggal di Cimanggis, Pd. Rangon), Magdalena Latuminasse (Tante Ena). 

Happy Anniversary Mama Atha, 21 Maret 1956 – 21 Maret 2014. Tuhan Memberkati !

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.459 pengikut lainnya.