Ibadah Keluarga : Kesetaraan Gender

Pembacaan pada malam ini merupakan bagian dari percakapan 2 orang murid yang sedang dalam perjalanan menuju Emaus. Kedua murid itu tercatat sebagai Kleopas dan Simon. Emaus adalah sebuah Kampung yang letaknya kurang lebih 7 (tujuh) mil atau 11 (sebelas) kilometer dari Kota Yerusalem. Para murid saat itu sedang merasakan kepedihan, kebingungan dan ketakutan yang teramat sangat sampai-sampai ketika Yesus menemani mereka berjalan menuju Emaus mereka tidak mengenalNya lagi. Menurut bacaan ini, ada sesuatu yang menghalangi pandangan keduanya sehingga dua orang murid itu tak mengenalinya. Sepanjang perjalanan keduanya ketika itu sedang mempercakapkan peristiwa kebangkitan Kristus yang menjadi buh bibir dan mengagetkan banyak orang. Peristiwa itu baru saja mereka dengar dari beberapa orang perempuan yang pada hari Minggu itu dipagi-pagi buta sudah pergi ke kubur. Layaknya kebiasaan bangsa Yahudi, para perempuan itu pergi ke kubur pada hari pertama minggu itu sambil membawa rempah-rempah. Sesampainya di kubur, perempuan-perempuan itu ; Maria dari Magdala, Yohana dan Maria ibu Yakobus heran sebab ketiganya mendapati batu penutup kubur sudah bergeser, terguling dari kubur itu. Tambah kaget lagi saat mereka masuk ternyata mayat Yesus pun tidak terlihat disana.

 

Seperti layaknya orang yang kaget tidak mendapatkan apa yang diinginkannya mereka pun seolah putus harapan sambil berdiri termangu-mangu. Pada saat itulah 2 orang tiba –tiba muncul berdiri dengan memakai pakaian yang berkilau-ilauan. Belum selesai mereka termangu kini malah mereka terkaget karena ketakutan dan tak sanggup menatap kedua orang itu.

Malaikat itu mengatakan mengapa mereka mencari Dia yang hidup diantara orang mati ? IA tidak ada disini, IA telah bangkit !.

Jemaat terkasih

Dengan kebangkitanNya maka kita akan memperoleh keselamatan kekal. Kepercayaan kita akan adanya Juruslamat akan menjadi sia-sia apabila Yesus Kristus tidak bangkit. Jika kebangkitan daging adalah kemustahilan maka tidak mungkin Yesus bangkit. Jika Kristus tidak bangkit maka pemberitaan Injl terdengar bagai setumpuk kabar kosong tak berguna. Kebangkitan Yesus ingin membuktikan bahwa Yesus Hidup dan telah mengalahkan maut. DIA telah mati dan bangkit bagi semua orang dan untuk setiap individu. Kebangkitan Yesus dari kubur telah menjadi sebuah peristiwa yang penuh kehebohan. Dunia gempar, manusia terheran karena sorga bergerak kearah bumi dan mendatangkan keajaiban-keajaiban diluar perkiraan dan pengetahuan manusia.

Peristiwa kebangkitan Kristus yang disaksikan pertama kali oleh para perempuan-perempuan itu membuat sebuah perubahan yang besar terjadi. Perempuan-perempuan yang dipakai Allah pada peristiwa Kebangkitan Yesus pada saat itu benar-benar telah menjadi suatu Terobosan terhadap tradisi “Patriarkhat” yang berlaku pada masyarakat Israel. Waktu itu perempuan disiapkan untuk melaksanakan urusan dan pelayanan dalam rumah tangga, sementara laki-laki disiapkan untuk menjadi kepala keluarga yang mengupayakan : Nafkah, melindungi dan membina keluarganya. Laki-laki mengurusi hal-hal kemasyarakatan. Menurut Tradisi peranan perempuan dibedakan menurut kodratnya. Apabila perempuan Israel berkelakuan diluar kodrat tradisi maka ia tidak akan mendapat kepercayaan atau tidak dipercayai. Kaum lelaki dianggap berkuasa dan memegang kendali meski terkadang lamban dalam menangani masalah karena kekurangan informasi. Semua jabatan penting, ada di tangan laki-laki. Begitupula dalam dunia pengadilan, seorang perempuan tidak boleh memberikan kesaksian. Masyarakat Yahudi tidak menerima seorang perempuan tampil sebagai saksi.

Padahal akibat kekurang sigapan menanggapi berita kebangkitan, banyak murid yang cerai berai dan kembali mengikuti jalan hidup sebelumnya termasuk 2 orang murid yang “mudik” ke Kampung Emaus sebelum Yesus akhirnya menampakkan diri setelah kebangkitanNya agar mereka kembali dalam panggilan dan pengutusan untuk memberitakan Injil Kerajaan Allah.

Bapak/Ibu/Saudara terkasih,

Peristiwa Kebangkitan Yesus Kristus juga merubah paradigma yang terjadi di kalangan Yahudi ketika itu. Yesus tidak menampakkan diri pertama kali kepada kaum lelaki. DIA justru menampakkan diriNYA pada golongan perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa TUHAN ingin memakai kaum perempuan lebih besar IA ingin mengedepankan kaum perempuan untuk terlibat lebih dalam lagi. Penulis Lukas yang dikenal sebagai Tabib Lukas, Sarjana Kedokteran tempo dulu mengangkat hal ini agar peranan perempuan yang tidak dipercaya secara tradisi itu justru terungkap sebagai yang memberitakan kebenaran. Lukas berharap ada perubahan pandangan terhadap kaum perempuan. Kekuatan tradisi Yahudi pecah karena Tuhan memakai kaum perempuan sebagai yang pertama kali menyaksikan kebangkitannya. Keberdayaan Tradisi yang dipegang oleh para murid pada kenyataannya malah membuat perempuan-perempuan itu mesti tidak dipandang sebelah mata karena apa yang dilihat itu benar dan harus dipercaya. Yesus Kristus melalui kebangkitanNYA ingin mengungkapkan bahwa kaum perempuan layak untuk dipercaya.

Bapak/Ibu terkasih dalam Yesus

Pada peristiwa Paskah terjadi sesuatu yang berlawanan arus. Perempuan malah yang dijadikan saksi bahkan atas perkara yang besar. Orang-orang pertama yang menerima kabar bahwa Tuhan Yesus sudah bangkit adalah beberapa perempuan. Dan hal ini dicatat oleh keempat kitab Injil, mereka adalah Maria Magdalena dan Maria yang lain (menurut Matius), Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus dan Salome (menurut Markus), Maria dari Magdala, Yohana dan Maria ibu Yakobus (menurut Lukas) dan Maria Magdalena (menurut Yohanes). Peranan mereka sangat penting, selaku saksi atas peristiwa bangkitnya Yesus sebagai Tuhan dan Allah serta lahirnya gereja.

Bapak/Ibu Kekasih Tuhan !

Lalu bagaimana dengan Kesetaraan Gender di dalam kehidupan masa kini ? Saat ini pemikiran bahwa seorang perempuana hanya mengurus 3M (manak, masak, macak) harus mulai  ditinggalkan, dimulai oleh gerakan emansipasi yang dipelopori oleh Ibu Kartini. Secara global kesetaraan gender di Indonesia mulai diperjuangkan oleh R.A Kartini yang lahir di Jepara 21 April 1879. Kita semua tahu bagaimana beliau memperjuangkan hak kesetaraan dengan mendirikan sekolah wanita. Kini hal kesetaraan sudah lebih memasyarakat di Indonesia. Kita tidak perlu heran bila melihat ada pejabat di Republik ini diisi oleh kaum perempuan. Contoh paling dekat selain ketiga Pendeta GPIB Pancaran Kasih, Kapolsek Sukma Jaya juga kalau tidak salah dijabat oleh seorang perempuan. Profesi lain yang juga merupakan bukti kesetaraan gender yakni kaum perempuan juga sudah diterima menjadi Sopir Busway.

Jadi tidak lah mengherankan bila kita mendapatkan bahwa kaum perempuan mendapatkan posisi-posisi di masyarakat luas. Apalagi secara politik dalam kelengkapan persyaratan Partai Peserta Pemilu 2014 yang akan datang diputuskan bahwa harus ada 30 % kaum perempuan yang masuk sebagai kader partai.  Namun demikian, Kesetaraan Gender tentunya tidak menghapus kodrat perempuan sebagai Ibu atau Isteri.  Perubahan paradigma yang diletakkan oleh Yesus dengan Kebangkitan yang disaksikan pertama kali oleh mereka kaum perempuan bukan ingin merubah hal itu. Seorang lelaki tidak perlu merubah dirinya menjadi perempuan dan begitupun sebaliknya.

Melalui peristiwa kebangkitan, Yesus ingin merubah, DIA ingin mengatakan bahwa manusia semua itu sama. Semua manusia dapat dipakai oleh Tuhan untuk melayani DIA yang sudah bangkit, KebangkitanNYA memberikan jaminan hidup kekal tidak hanya bagi kaum lelaki tapi juga kaum perempuan. AMIN

Bacaan Alkitab ; LUKAS 24 : 22-24

Disampaikan pada Ibadah Keluarga di Kel. George W Harlim (dari pelbagai sumber)

Rabu 10 April 2013 – GPIB Pancaran Kasih Sektor BETEL

Perayaan PASKAH GPIB Pancaran Kasih Depok – Sektor BETEL

GambarWisma Indosat yang terletak di kawasan Bukit Pelangi Sentul kembali menjadi saksi bagi pelayanan GPIB Pancaran Kasih Depok. Ibadah dan Perayaan PASKAH Sektor BETEL diadakan pada hari Minggu 31 Maret 2013 mulai pukul 04.30 WIB. PASKAH merupakan hari raya yang mula-mula dirayakan dan merupakan unsur penting dalam tahun gereja dirayakan juga sebagai Hari Kebangkitan Kristus. Ibadah yang di pandu langsung oleh Ketua Majelis Jemaat, Ny. Pdt. Widyati Simangunsong dihadiri oleh sekitar 200an orang yang terdiri dari orang dewasa dan anak-anak. Mobilisasi warga jemaat dilaksanakan dengan menggunakan 4 (empat) buah kendaraan dari salah satu instansi Militer. Tentu, beberapa warga jemaat juga memakai kendaraan pribadi mereka untuk menuju Bukit Pelangi. Meski rasa kantuk masih terasa namun jemaat terlihat dengan penuh sukacita mengawali Ibadah dengan secara bersama-sama mengikuti jalan salib dari titik penurunan menuju halaman parkir Wisma Indosat yang dijadikan sebagai tempat ibadah. Langit diatas Bukit Pelangi tampak gelap namun cukup bersahabat. Sinar Bulan tersenyum menyinari anak-anak TUHAN yang merayakan Paskah di tempat ini. Jutaan bintang juga bersinar terang menyaksikan warga jemaat bersama keluarga yang dengan memegang satu buah lilin mengikuti Jalan Salib. Semua ciptaan TUHAN tersebut seolah ingin menghapus segala kekhawatiran panitia akan turunnya hujan seperti beberapa jam sebelumnya. Nyanyian Pada Kaki Salibmu oleh Pelkat Gerakan Pemuda membawa jemaat hadir dalam Ibadah PASKAH Sektor BETEL tahun 2013 dengan penuh sukacita.

Bertendakan langit biru yang dipenuhi jutaan Bintang dan sinar rembulan Ibadah PASKAH berlangsung dalam suasana khidmat penuh kekudusan. Angin yang bertiup seolah menambah kekudusan Ibadah. Persis di kala MENTARI pagi mulai menunjukkan senyuman sebagai perlambang pergantian hari menyambut Hari Kebangkitan KRISTUS, Ibadah pun usai, diakhiri dengan satu kepastian bahwa Kebangkitan KRISTUS menjadikan kita sebagai anak-anak TUHAN memperoleh jaminan keselamatan dari TUHAN untuk memperoleh kehidupan yang kekal sebab Maut sudah dikalahkan oleh Sang Juruslamat, Yesus Kristus.

Tak cukup sampai disitu, Warga Jemaat Sektor BETEL – GPIB Pancaran Kasih masih akan dikejutkan oleh banyaknya hadiah-hadiah yang sudah disiapkan Panitia. Usai makan pagi bersama, Panitia menyiapkan beberapa games sebagai sebuah ungkapan sukacita dan kegembiraan atas Kebangkitan Kristus. Jelas terekam, jemaat antusias mengikutinya meski panas mentari pagi sesekali membuat jemaat perlu mengambil segelas air untuk pelepas dahaganya. Di halaman belakang, Kakak-Kakak Layan IMPA dengan penuh kesabaran memberikan kesempatan bagi anak-anak binaan untuk mencari Telur Paskah. Anak-anak terlihat sangat senang mencari telur-telur yang berwarna-warni.

Paskah Tahun 2013 kali ini akan sangat terekam dalam hati dan pikiran jemaat bukan karena door prize yang begitu banyak disediakan, terlebih dari itu, kiranya Sukacita PASKAH akan melingkupi seluruh Warga Jemaat Sektor BETEL-GPIB Pancaran Kasih Depok.

SELAMAT PASKAH !

 

 

Waduk Jatiluhur

IMG_20130227_171106

IMG_20130227_171106

IMG_20130227_165629

IMG_20130227_165304

IMG_20130227_171625

Gambar

Berawal dari hasil penelitian Prof. Dr. Ir. WJ Van Blommestein yang dilakukan pada tahun 1948 dan diuraikan dalam majalah Ingenieur in Indonesie, ia menyimpulkan bahwa dataran rendah pulau Jawa bagian Barat sebelah Utara dan Selatan memiliki potensi tanah persawahan dengan taksiran luas 577.000 HA. Untuk keperluan tersebut perlu dibangun waduk dan tempat yang sesuai untuk pembuatan waduk tersebut diantaranya daerah aliran Sungai Citarum. Pemerintah RI dibawah Perdana Menteri Ir. H. Juanda memutuskan untuk melaksanakan proyek serba guna Jatiluhur. Beliau melakukan penjelasan ke berbagai negara untuk memperoleh dukungan dana dimana akhirnya dana tersebut diperoleh dari Perancis. Dari hasil pengkajian lebih lanjut yang dilakukan oleh tenaga ahli Perancis bahwa disamping dapat dibangun waduk untuk keperluan irigasi juga dapat dibuatkan bendungan untuk pembangkit listrik. Kemudian direncanakan suatu bendungan waduk beserta pembangkit dengan DMA. Maka pada tahun 1957 dimulailah pembangunan proyek serba guna Jatiluhur. Adapun tenaga Insinyur Indonesia yang berjasa dalam pembangunan waduk ini diantaranya :

1. Ir. Agoes Prawiranata

2. Ir. Sutami

3. Ir. Sediatmo

4. Ir. S. Santoso

5. Ir. Abdullah Angoedi

Proyek ini dinyatakan selesai dan diresmikan tanggal 26 Agustus 1967 dengan nama Waduk Ir. H. Juanda. Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 8 tahun 1967 dibentuk Perusahaan Negara (PN) Jatiluhur sebagai badan pengelolanya.

Waduk Serba Guna Ir. H. Juanda Jatiluhur berada pada Sungai Citarum di Kabupaten Purwakarta disamping dua waduk lainnya yaitu Waduk Cirata dan Waduk Saguling dengan data-data sebagai berikut :

1. Dibangun selama 10 tahun dari tahun 1957 sampai 1967 dan diresmikan oleh Presiden Soeharto

2. Tujuan utama untuk mencukupi kebutuhan bahan pangan nasional yaitu beras disamping penyediaan air baku untuk berbagai kepentingan bagi propinsi  Jawa Barat dan DKI Jakarta serta pengendalian banjir.

3. Merupakan danau buatan yang mempunyai daya tampung air yang terbesar di Indonesia lebih kurang 3 milyar m3.

4. Merupakan asset nasional yang strategis telah terbukti kemanfaatannya selama 35 tahun terutama dalam menunjang ketahanan pangan nasional.

Data Bendungan :

HYDROLOGI

Luas Daerah Aliran Sungai Citarum 4.500 Km2

Debit rata-rata setahun 175 m3/detik

Aliran rata-rata setahum 5,5 milyar m3

Curah hujan rata-rata setahun 2.600 mm

BENDUNGAN UTAMA

Membendung sungai Citarum di daerah Jatiluhur Purwakarta. Jenis Rockfill Earth DAM dengan inti tanah liat yang kedap air.

Batu yang digunakan diambil dari : Cilalawi 9.435.000 ton dan Pamoyanan 4.830.000 ton.

Lebar Puncak 10m

Lebar dasar 600 m

Tinggi 100 m

Panjang 1.200 m

Volume 9.100.000 m3

MENARA / MORNING GLORY

Dengan tinggi 100 m (114,5m dari pondasi), diameter atas 90m dan bawah 70m, tebal 3,5m. Menara ini mempunyai fungsi untuk mengeluarkan air waduk dengan 3 cara yaitu melalui :

1. Spillway : Jika ketinggian air 107m-111,5m yang terdiri dari 14 jendela pelimpas dengaan kapasistas 3.000 m3/detik

2, Hollow Jet 2 (dua) buah untuk keperluan selaian PLTA ditempatkan pada duga 49m , diameter 3,85m dengan kapasitas @ 195 m3/detik. Pada duga 107m kapasitasnya @ 270m3/detik.

3. Penstock untuk keperluan PLTA dipasang vertikal di dalam dinding beton menara. Terbuat dari bahan steel AQ UNI 815 dengan panjang 65m, diamter 3,25m dan tebal 20mm. Bagian tengah bawah menara dihubungkan dengan air hilir oleh 2 buah saluran buang dengan kapasitas buang @ 1500 m3/detik.

Manfaat Proyek Serba Guna Jatiluhur :

1. Irigasi areal seluas 296.000 Ha

2. Penyediaan air baku PDAM, Air dari waduk juga dimanfaatkan untuk berbagai industri strategis di Pantai Utara Jawa Barat yang mempunyai andil tidak kecil dalam menyumbangkan devisa negara.

3. PLTA – Daya terpasang PLTA Ir. H. Juanda saat ini 187,5 MW dan produksi rata-rata pertahun mencapai 900 juta kwh. Hasil produksi tenaga listrik dijual kepada PLN dan saat ini produksi listrik masih merupakan andalan pendapatan Perum Jasa Tirta II lebih kurang 65 % dari seluruh pendapatan perusahaan.

4. Pencegah Bahaya Banjir

5. Perikanan (Keramba Jaring Apung) – Genangan air waduk dimanfaatkan untuk budidaya berbagai macam ikan air tawar baik yang disebar kedalam waduk (restocking) atau dengan keramba jaring apung.

6. Pariwisata dan Olah Raga Air

TURBINE

Adalah mesin yang komponen utamanya berupa baling-baling atau kincir yang digerakkan oleh aliran gas atau cairan. Fungsi Turbine menurut kaidah kekekalan energi adalah : apabila arus air dan aliran dilewatkan melalui turbin air maka energi yang ada dalam air akan diubah ke bentuk energa yang lain.

Turbine air dibagi 2 golongan utama menurut pengubahan momentum kerjanya yaitu :

1. Turbine Impulse (Pelton)

2. Turbine Reaksi (Francis, Kaplan, Propeler)

sumber : Bahan Guide Perum Jasa Tirta II

99 Balon

Dua bulan sebelum lahir, Eliot Mooney divonis menderita Edwards Syndrome, penyakit yang tak memungkinkannya untuk lahir selamat.   Orangtuanya berdoa memohon mukjizat, dan Eliot pun lahir. Namun,  kondisinya memprihatinkan: paru-parunya tak berkembang sempurna,   jantungnya berlubang, dan DNAnya memberi informasi keliru pada setiap sel tubuhnya. Setelah dua minggu Eliot diizinkan pulang dengan tiga peralatan medis menempel di tubuhnya, termasuk tabung oksigen dan selang untuk memasukkan susu.

Eliot kecil bertahan dan bertumbuh walaupun tak secepat anak  seusianya. Sebulan, dua bulan, tiga bulan. Uniknya, orangtua Eliot  merayakan “ulang tahun”-nya setiap hari. Sebab, satu hari saja merupakan perjuangan berat baginya untuk hidup. Maka, setiap hari mereka merayakan kemenangannya. Hingga akhirnya, pada hari ke-99, Eliot kembali kepada Yesus. Pada hari pemakamannya, 99 balon dilepaskan -masing-masing mewakili ucapan syukur atas setiap hari yang Eliot habiskan di bumi.

Ketika Ayub mengalami penderitaan yang sangat berat, kematian  membayanginya. Ia disadarkan akan betapa fana hidup manusia. Namun,  Ayub berkata bahwa selama Tuhan masih memberinya hidup, ia akan terus berharap. Dan, bila kelak waktunya tiba, ia akan bahagia  karena itu berarti Allah merindukannya pulang! 

Sudahkah kita mensyukuri setiap hari yang Tuhan beri? Mensyukuri hidup kita dan orang-orang di sekitar kita? Jangan membuang satu  hari pun untuk hal sia-sia. Selama kesempatan ada, hiduplah maksimal bagi Dia. –AW 

Bacaan : Ayub 14:7-15

Sumber Renungan Harian

Obama’s First Flight

GambarGambar

 

Gambar

Ketika papa saya masih hidup, seringkali dalam berbagai kesempatan ia mengucapkan petuah bagi anak-anaknya. Satu pesan yang senantiasa ia sampaikan kepada kelima anaknya adalah “Aku semakin berkurang dan engkau semakin bertambah”. Maksudnya adalah sebagai orang tua ia rela untuk tidak memperoleh, menikmati atau ia akan senantiasa berkorban demi kemajuan anak-anaknya. Dan itulah yang dilakukannya kepada kami selama beliau hidup. Seolah ingin melakukan hal yang sama, saya pun setidaknya menjadi terpengaruh dengan nilai-nilai yang beliau tanamkan tersebut. Salah satunya terwujud pada hari Jumat 15 Februari 2013 lalu. Dengan mengucapkan syukur kepada Pencipta Semesta, Yesus Kristus Juruslamat Dunia, anak terkasih Joe Obama dapat menikmati penerbangan pertamanya pada usia 3 tahun 10 bulan. Saya sendiri baru dapat memiliki kesempatan terbang pada 16 Agustus 2002 dengan pesawat GA  236 Kursi Nomor 12F menuju ke Semarang Jawa Tengah. Itu berarti usia saya saat itu sudah 33 tahun baru merasakan bagaimana nikmatnya terbang diudara. Puas rasanya hati ini memberikan sesuatu yang baru kepada anak terkasih.

Saya baru menyadari ketika menulis kisah ini rupanya meski penerbangannya berbeda anak Obama duduk di kursi 12F yang sama saat saya pertama kali menikmati terbang tahun 2002 lalu. Joe pada hari Jumat itu juga merasakan penerbangan yang lebih lama dari apa yang saya nikmati. Penerbangan Jakarta – Medan dengan JT 384 selama 2 jam 10 menit sungguh dinikmati dengan sukacita oleh anak saya. Sedari masih di ruang tunggu ucapan ” Papa ayo naik, pesawatnya sudah datang” terus saja diulang dan diulang. Padahal ada pengumuman delay seharusnya pesawat berangkat pukul 14.00. Pesawat yang kami tumpangi pada hari itu baru mulai menggerakkan Rodanya tepat pada pukul 15.00 WIB menuju landasan pacu. Perjalanan ini benar-benar ia rasakan sebagai suatu hal yang menyenangkan. Itu terbukti dengan tidak diamnya ia selama berada di pesawat. Apa saja yang ia lihat kalau tidak ditanyakan ya diucapkan. Ketinggian 36 ribu kaki bagi suatu hal yang luar biasa melihat gumpalan awan putih diatas langit bersih. Dan baru berhenti atas satu pertanyaan bila telah saya jawab. Semua itu adalah ciptaan Tuhan kata saya padanya.Kekhawatiran ia akan merasa bosan sirna malahan saya yang sempat kewalahan menjawab setiap pertanyaan-pertanyaannya yang diawali dengan ” Papa apa itu, Papa aku lihat pulau, Papa kita diatas rumah, Papa Kenapa Pesawatnya kencang sekali” dan masih banyak lagi. Saya sampai merasa tidak enak sebab suaranya yang kencang paling tidak membuat penumpang yang duduk di belakang, depan dan samping kami pasti akan mendengarnya mudah-mudahan tidak terganggu kalau pun ia maaf ya.

Akhirnya setelah melewati awan gelap disertai hujan rintik pada waktu akan memasuki udara kota Medan sekitar pukul 16.45 WIB, pesawat yang kami tumpangi pun mendarat mulus di Bandara Polonia Medan. Sebuah pengalaman berharga telah dirasakan oleh Joe Obama. Semoga penerbangan pertama kali ini akan menjadi sebuah ceritera pengalaman baginya pada saat ia mulai menginjakkan kaki di Taman Kanak-Kanak pada tahun 2013 ini.

Tuhan Pencipta Semesta terus kiranya memberkati keluarga kami.

Selamat Hari Minggu buat kita semua Tuhan Memberkati !

Hotel Madani Minggu 17 Februari 2013/Kamar 327

 

Minggu Epifani

Epifania

Epifani (Yunani Epifaneia = Penampakan)

Istilah ini awalnya dipakai untuk penampakan kaisar atau patungnya sebagai dewa pada puncak manifestasi di stadion atau emfiteater (tempat tontonan besar untuk rakyat). Uman Kristen pertama tidak mengakui kaisar, melainkan Yang Tersalib sebagai Tuhan.

Istilah “Epifania” tetap mereka pakai untuk peringatan penampakan (Pernyataan atau tampil dimuka umum) Sang Juruslamat yang bernama Yesus. Makanya, Epifania lebih terkait dengan peristiwa-peristiwa sebagai berikut :

Penampakan Bintang di Timur, penyembahan orang Majus, Bayi Yesus yang dibawa oleh orang tuanya ke Bait Allah untuk diserahkan kepada Allah, tampilnya Yesus di sungai Yordan untuk dibaptis Yohanes dan penetapanNya (dengan suara dari atas :”Inilah Anak-Ku”.

Hari Epifania dirayakan pada 6 Januari; sedangkan Minggu Epifania dimulai dengan Hari Minggu terdekat dengan tanggal 6 Januari dan dirayakan selama 7 minggu, dimana Minggu VII adalah merupakan minggu transfigurasi (Yesus berubah wujud = Pemuliaan Yesus di atas gunung) dan penetapan kembali sebagai Anak yang dikasihi dan dikenan oleh Allah. Dalam Lukas 9:31 dikatakan bahwa Musa dan Elia berbicara dengan Yesus tentang “tujuan kepergianNya (Yun, ekshodos atau exodus-Nya) ke Yerusalem, yakni agar paska digenapi olehNya. Minggu VII disebut Esto Mihi = “Jadilah Bagiku” (Mzm 31:3b); yakni sebagai titik peralihan, menurut cerita injil, dari perjalanan Yesus di Galilea kepada perjalananNya ke Yerusalem.

Simbol Hari dan Minggu Epifani adalah Bintang bersegi lima (warna putih) di dalam lingkaran (warna kuning) dengan warna dasar hijau.

Arti :

Bintang bersegi lima ini lebih dikenal sebagai bintang Yakub, atau menunjuk pada terbitnya bintang dari keturunan Yakub (Bilangan 24:17). Di kemudian hari, dimanifestasikan melalui kelahiran Yesus Kristus, yang juga ditandai dengan munculnya/terbitnya bintang di Timur (Matius 2:1-2).

Bintang ini pula yang menunjuk pada penampakan kemuliaan Yesus Kristus bagi umat manusia. Simbol ini berganti pada malam Hari Minggu Prapaska VI

Ini Dia Cara Mengurus ROYA

Selepas menyelesaikan urusan dengan sebuah Bank Swasta di daerah Bintaro pada bulan Oktober 2012 lalu, saya diberitahukan oleh petugas Bank tersebut untuk mengurus Roya di kantor Pertanahan terdekat. Roya ? Apa lagi nih dalam hati ketika disebutkan kata itu. Jujur, itu adalah satu istilah yang sama sekali baru saya ketahui selama hidup 40 tahun lebih didunia ini. Seingat saya dulu pada waktu mengambil rumah dengan kreditur sebuah Bank Swasta tidak ada disinggung-singgung terkait Roya kok sekarang saat Sertifikat sudah ditangan malah ada Roya-Royaan segala. Untung saja ada mesin pencari yang tersedia saat ini sehingga memudahkan perolehan informasi yang di butuhkan. Melalui blog seseorang saya setidaknya memperoleh sedikit gambaran apa dan bagaimana mengurus Roya. Satu hal yang menimbulkan perbedaan terkait biaya yang dibutuhkan guna pengurusannya. Ada yang mengatakan biayanya diatas 500 ribu hingga 1,2 juta rupiah, ada juga yang menulis pengalamannya mengeluarkan biaya dibawah 150 ribu. Rupanya perihal biaya ini sangat bergantung kepada siapa yang mengurus. Biaya akan sangat lebih besar bila pengurusan Roya diserahkan kepada pihak lain/dikuasakan. Akan tetapi biaya akan sangat lebih kecil/sesuai ketentuan peraturan yang berlaku apabila pengurusan Roya dilakukan sendiri.

Mengacu kepada informasi tersebut saya pun berinisiatif untuk mencoba mengurus sendiri saja. Yah hitung-hitung cari pengalaman berurusan dengan aparat pemerintahan. Mudah-mudahan tidak mengecewakan lagi seperti waktu mengurus Akta Kelahiran anak beberapa bulan lalu.

Berikut langkah-langkah pengurusan Roya berdasarkan pengalaman mengurus sendiri pada hari Rabu 2 Januari 2013 :

1. Sebelum mengurus terkait pertanahan, pastikan setidaknya kita sudah mengetahui apa yang hendak kita urus melalui pelbagai sumber informasi yang tersedia di alam semesta.
2. Datang ke kantor Pertanahan setempat sesuai dengan alamat sertifikat.
3. Di kantor Pertanahan kita cari Koperasi Pegawai untuk membeli Map Pengurusan Roya (di Koperasi tersedia juga Map untuk urusan pertanahan lainnya)
4. Di dalam Map Permohonan Roya warna Orange tersedia ;
- 1 lembar Sampul Warkah/Roya warna kuning
- 1 lembar Surat Permohonan yang biasa disebut Lampiran 13.
5. Kemudian Sampul Warkah diisi oleh kita sesuai dengan KTP dan data yang tersedia di sertifikat, sekaligus juga Surat Permohonan atau Lampiran 13 diisi sesuai KTP dan lingkarilah No. 10 sebagai pilihan yang isinya Roya atas Hak Tanggungan.
6.Masukkanlah Dokumen yang dibutuhkan sesuai persyaratan yang tercetak di Map Permohonan Roya (Kota Depok warna Orange) yaitu ;
- Surat Permohonan (petugas Koperasi menyebutkan Lampiran 13)
- Asli Sertifikat Tanah
- Asli Sertifikat Hak Tanggungan
- 1 Lembar Foto Kopi KTP
- Surat Permohonan Roya dari Bank/Kreditur (diberikan oleh Bank saat pelunasan)
- Surat perubahan nama bila ada pergantian nama institusi kreditur (bila ada akan diberikan oleh Bank saat pelunasan)
7. Bawalah semua dokumen seperti tertulis di nomor 6 diatas ke Kantor Pertanahan setempat.
8. Serahkan dokumen Roya yang sudah kita siapkan ke Loket Pelayanan Pendaftaran Roya setelah sebelumnya mengambil Tiket Antrean Pengurusan di depan Pintu Masuk (kita menekan/pilih tombol sesuai urusan yang akan dilakukan).
9. Setelah menunggu beberapa waktu, petugas akan memanggil dan meminta kita untuk ;
- Mengisi Formulir Sampul Warkah/Balik Nama (Warna Hijau) untuk diisi (cara pengisian sama seperti pengisian Sampul Warkah/Roya).
- Petugas memberikan 1 dokumen perubahan nama Institusi Kreditur (bila ada) untuk difoto kopi oleh pemohon dan selanjutnya akan dimasukkan dalam Map Permohonan Roya pemohon.
10. Formulir Sampul Warkah/Balik Nama (warna hijau) yang telah diisi dan dokumen perubahan nama kreditur (bila ada) yang sudah difoto kopi diserahkan kembali ke Loket Pengurusan Roya.
11. Setelah menunggu beberapa saat petugas akan memanggil lagi untuk menerima Surat Perintah Setor dan meminta kita menyelesaikan pembayarannya di kasir (di Depok berada dalam satu ruangan).
12. Bila sudah lunas, Kasir akan memberikan Bukti Setor atau Kwitansi 2 lembar (bentuknya seperti Purchase Order). 1 Lembar Warna Merah dan 1 Lembar Warna Putih.
13. Selanjutnya Pemohon menyerahkan Surat Perintah Setor dan Bukti Setor/Kwitansi warna Putih dan Merah kepada petugas di loket Roya.
14. Petugas Loket Roya akan memanggil lagi dan memberikan ;
- Surat Perintah Setor warna putih
- Bukti Setor/Kwitansi warna putih
- Tanda Terima Penyerahan Dokumen warna putih
15. Petugas Loket Roya memberikan informasi bahwa dalam waktu 1 minggu sertifikat dapat diambil di Loket Pengambilan dengan membawa Tanda Terima Dokumen yang Asli.

Itulah tata urut pengurusan Roya atas Hak Tanggungan, saya jadi lebih paham bagaimana mengurus Roya yang sesungguhnya termasuk Biaya yang dibutuhkan untuk pengurusannya. Tadinya saya pikir akan memakan biaya lebih dari 500 ribu ternyata cukup dengan biaya Rp. 118.000 (seratus delapan belas ribu) saja. Itupun sudah termasuk biaya parkir.

Adapun rincian biaya yang saya keluarkan adalah sebagai berikut :

- Membeli Map Permohonan Roya di Koperasi Rp. 10.000,- (sepuluh ribu rupiah)
- Membayar Kegiatan Pelayanan Pemeliharaan Data Pendaftaran Tanah 2 unit @ Rp. 50.000,- = Rp.100.000,- (seratus ribu rupiah)
- Biaya Foto Kopi Dokumen Perubahan Nama Kreditur (bila memang ada) Rp. 6000 (enam ribu rupiah)
- Biaya Parkir Rp. 2000 (dua ribu rupiah)

So, tidak perlu ragu lagi siapa saja yang akan mengurus Roya. Lebih baik mengurus sendiri dari pada diurus pihak lain. Biayanya lebih murah, mudah dan dengan waktu pengurusan tidak lebih dari 1 jam sudah termasuk menunggu antrian foto kopi. Paling tidak itu yang saya alami ketika mengurus Roya tersebut. Apakah libur tahun baru juga mempengaruhi antrean menunggu, saya tidak tahu persis. Akan tetapi begitulah syarat dan waktu yang dibutuhkan untuk mengurus Roya atas Hak Tanggungan.

Semoga ketikan ini bermanfaat bagi orang lain yang ingin mengurus Roya paling tidak dapat mempertimbangkan untung ruginya bila ingin memberikan pengurusan ini kepada pihak lain yang tentunya akan memakan biaya yang lebih besar.

Selamat Tahun Baru 2013, Kesehatan dan Kesuksesan kiranya diberikan oleh Allah Yang Maha Kasih !

Selamat Menantikan KedatanganNYA

advent
ADVENT (Lat. Adventus) artinya ‘kedatangan.’ Istilah ini dulu kala dipakai umum dalam Imperium Romawi untuk kedatangan kaisar yang dianggap sebagai dewa. Advent juga terkait dengan masa penantian Mesias oleh umat Israel dalam Perjanjian Lama. Berdasarkan latarbelakang itu maka para pengikut Kristus memberi makna baru bagi ‘advent’ yakni untuk menyatakan kedatangan Tuhan Yesus. Bagi mereka bukan kaisar, melainkan Kristus sebagai Raja dan Tuhan yang datang. Bahwa Mesias yang dinantikan oleh umat Israel sesungguhnya telah datang dalam diri Yesus. Dia sudah datang dan akan datang. Itu sebabnya, advent juga terkait erat dengan kedatangan Yesus Kristus pada akhir zaman.

Advent dirayakan selama 4 (empat) Minggu sebelum Natal. Karena itu, Minggu-minggu Advent merupakan masa persiapan bagi orang Kristen untuk menyambut kedatangan Yesus Kristus, dan kedatanganNya itu dipahami adalah pertama kali dalam bentuk bayi Yesus yang lahir di kandang Betlehem, yang dirayakan pada Hari Natal.

Simbol Minggu Advent, seperti terdapat pada kain mimbar dan stola GPIB, adalah Jangkar – Salib dengan warna dasar Ungu muda

Warna dasar : Ungu Muda
Lambang/Logo : Salib jangkar
Warna jangkar : kuning
Arti : Salib jangkar ini dipergunakan oleh orang Kristen mula-mula yang tinggal di Kotakombe-kotakombe. Sebenarnya lambang ini merupakan warisan dari bangsa Mesir kuno, namun di kemudian hari ia menjadi lambang universal yang menunjuk pada penderitaan KRISTUS. Di sini lambang salib jangkar hendak berkata-kata tentang pengharapan yang dimiliki oleh umat percaya di dalam penantian akan kedatangan KRISTUS kembali.

Simbol ini berganti pada pagi hari tanggal 25 Desember.

Mempunyai Belas Kasihan ; The Power of Action

40004000Sejak Sekolah Minggu saya yakin kita semua pasti sudah pernah bahkan sering membaca sekaligus mendengar kisah mukjijat yang dilakukan Tuhan Yesus (Alkitab mencatat Yesus Melakukan 35 kali Muzijat sepanjang pelayanannya). Apalagi kisah ini ada lagunya jadi pasti teman-teman yang hadir sudah mengetahuinya. Namun ketika membaca perikop malam ini sepertinya bila tidak memahami secara seksama maka akan membuat kita bingung. Mengapa demikian ? Terang saja sebagian dari kita bisa jadi confuse sebab mengapa kok ada perbedaan dari jumlah orang ya. Selama ini termasuk dalam lagu yang kita ingat adalah Yesus memberi makan 5000 orang tapi kenapa kok dalam bacaan malam ini hanya 4000 orang saja. Peristiwa Yesus Memberi Makan kepada 4000 orang yang malam ini bila coba sama-sama kita renungkan ternyata memang merupakan 2 peristiwa yang berbeda. Ceritera ini benar memilki persamaan semisal Yesus Mengucap Syukur terlebih dahulu sebelum memecahkan dan memberikan kepada murid-muridNya (sesuai adat Yahudi) untuk dibagikan kepada orang banyak. Kedua, pada peristiwa itu diceriterakan ada 3 tokoh yang sama yakni Tuhan Yesus, Para Murid dan Orang Banyak.
Akan tetapi untuk meyakinkan adanya perbedaan dalam 2 peristiwa ini mari kita sama-sama perhatikan melalui bacaan malam ini dimana sedikitnya ada beberapa perbedaan yang membuat pembaca Injil Markus ini akan semakin yakin akan adanya perbedaan diantaranya :
1) TKP ~ Ceritera pemberian makan kepada 5000 orang ada pada ke-4 Injil (Mat 14 : 13-21, Markus 6 : 30-44, Luk 9 : 10-17, Yoh 6 : 1-13). Hanya Injil Lukas yang menyebutkan nama kota dimana Yesus memberikan makan kepada 5000 orang yakni kota Betsaida yang merupakan kampung halamannya Filipus, Andreas dan Petrus dan berada dalam wilayah Dekapolis. Sedangkan untuk cerita Yesus Memberikan makan kepada 4000 orang hanya dapat kita baca pada Injil Matius 15: 32-39 dan tentunya bacaaan kita malam ini. Memang tidak disebutkan secara jelas namun peristiwa ini terjadi sebelum Yesus bertolak ke Magadan/Magdala atau dalam bacaan kita disebut ke daerah Dalamanuta yang berada dalam wilayah Galilea. (dalam Yohanes ditulis Yesus sedang dalam perjalanan menuju Kapernaum, di Galilea setelah memberi makan 5000 orang)
2) Jumlah Bakul ~ Pemberian makan kepada kerumunan orang banyak dalam peristiwa Yesus Memberi Makan 5000 orang menyisakan 12 bakul sedangkan pada peristiwa 4000 orang tersisa hanya 7 bakul.
3) Penggunaan istilah Bakul ~ Pada kisah 5000 orang dipakai istilah Bahasa Yunani “Kophinos” yakni Bakul perbekalan Yahudi. Sedangkan dalam kisah 4000 orang Alkitab mencatat kata Yunani “Spyris”, sesuatu yang dianyam dari ranting-ranting atau kerecut, semacam yang dibawa oleh pedagang-pedagang bukan Yahudi dan cukup besar untuk memuat satu orang.
4) Jumlah Roti dan Ikan ~ Pada ceritera 5000 orang, Alkitab mencatat jumlah makanan yang dipunyai para murid adalah Roti sebanyak 5 potong dan 2 ekor ikan. Sedangkan dalam bacaan malam ini makanan yang dimiliki murid-murid Tuhan Yesus adalah 7 buah Roti dan beberapa ekor ikan. Jadi jelaslah kini bahwa ceritera Yesus Memberi Makan kepada orang banyak itu memang 2 peristiwa yang berdeda. Karena itu adalah keliru apabila kita menolak perbedaan-perbedaan tersebut hanya sebagai perubahan gaya berceritera saja.

Rekan2 Pemuda yang dikasihi Tuhan
Apa yang terjadi pada waktu itu sebenarnya ingin sekali mengajarkan dan menegaskan kembali kepada para murid untuk melihat betapa keteladanan yang Yesus lakukan itu sangat luar biasa karena DIA tak putus-putusnya mendidik para murid-murid agar mereka memiliki keteladanan seperti yang IA lakukan. Yesus Kristus melalui peristiwa ini ingin menyentil murid-muridnya yang ternyata setelah mengikutiNya masih saja belum memahami apa kehendakNya yang mesti mereka lakukan. DIA ingin pengikutnya memiliki respon positif terhadap orang banyak. Akan tetapi para Murid belum belajar, seolah tidak ingin direpotkan, sama sekali mereka tak memiliki Belas Kasihan kepada orang banyak yang mengikuti mereka. Bahkan murid-murid sempat “ngeles” dengan menyampaikan alasan kepada Yesus bahwa bagaimana ditempat yang sunyi orang dapat memberi mereka roti sampai kenyang (Markus 8 : 4).
Melalui bacaan malam ini dapatlah kita ambil makna atau insight bahwa peristiwa pemberian makan kepada 4000 orang itu ingin mengungkapkan bahwa :

1.Inisiatif : Inisiatif pemberian makan kepada orang banyak dalam bacaan malam ini adalah dari Yesus Kristus sendiri. Tuhan Yesus melihat, merasakan dan mengambil keputusan untuk melakukan sesuatu. IA tak melihat para murid memiliki inisiatif meski sudah mengikuti diriNya untuk melakukan sesuatu bagi orang banyak.

2. Kepekaan : Ketika Tuhan mendengar, melihat dan merasakan DIA lantas mengambil keputusan dengan menanyakan kepada para Murid apa yang ada pada mereka. Tuhan tidak serta merta menerima alasan para murid apalagi menyuruh murid – muridnya diluar kemampuan mereka saat itu. Akan tetapi justru IA melakukan sesuatu berdasarkan atas apa yang dimiliki oleh para Murid. Yesus memulai dari apa yang dipunyai para murid dan dari sanalah IA melakukan mukjijatNya. Hal ini mengajarkan bagi kita semua bahwa sedikit yang kita miliki dapat dijadikan berkelimpahan apabila dipersembahkan kepada Tuhan dan diberkati olehNya.

Ini merupakan contoh dari belas kasihan Yesus terhadap kebutuhan orang yang memerlukan pertolongan. Sepanjang segala jaman khususnya dewasa ini ketika orang bersikap acuh tak acuh terhadap penderitaan jasmani dan rohani yang dialami orang lain, bacaan kita malam ini mengingatkan agar para pengikut Kristus justru mesti memiliki sikap Inisiatif dan Kepekaan terhadap orang-orang yang memerlukan pertolongan. Kita bersyukur sebab dapat belajar dari bacaan ini untuk berlaku dan memiliki sifat tidak seperti yang ditunjukkan para murid dimana meski mereka sudah pernah mengalami saat Yesus Memberi Makan 5000 orang namun mereka masih saja belum melihat, merasakan dan mengambil keputusan untuk menolong orang banyak di peristiwa Yesus Memberi Makan 4000 orang. Kita mesti memiliki Belas Kasihan yang merupakan ciri khas Allah yang membuat kita dimampukan untuk memiliki dorongan yang kuat supaya bisa melihat, merasakan, dan memutuskan menolong orang lain. (bandingkan Ulangan 30 : 3, Mazmur 78 : 38)

Rekan Pemuda Terkasih !
Lantas bagaimana dengan kita, Pelkat Gerakan Pemuda Pancaran Kasih ? Apakah kita memiliki Inisiatif dan Kepekaan yang sama dengan Kristus ? Ataukah kita lebih sering berlaku seperti murid-muridNya ? Apakah kita sudah memiliki Belas Kasihan seperti yang diajarkan Kristus ? Coba masing-masing dari kita introspeksi diri. Setelah memahami renungan kita malam ini, masihkah pemuda Pancaran Kasih teristimewa Sektor Jerusalem, Betel, Sion dan Sektor Hermon menginginkan memiliki kelompok sendiri. Pemuda senior hanya ingin bergaul dengan Pemuda Senior. Sedangkan yang Yunior karena merasa diasingkan/didiamkan lantas ikut-ikutan membentuk kelompok sendiri juga. Pemuda Pancaran Kasih baru akan hadir atau nongol bila ada event-event besar dan berlangsung di luar lingkungan Gereja saja.

Seberapa sering teman-teman Pemuda menengok rekan yang sedang sakit. Juga apakah pernah kita mengunjungi teman-teman yang sudah lama tak ada kabar. Bahkan punyakah kita waktu hanya sekedar untuk mendengarkan keluh kesah rekan gerakan pemuda yang sedang Andi Lau. Semua yang tadi disampaikan belum menyinggung dengan apa yang biasa disebut “Rasa Memiliki” atau dalam pepatah Jawa “Rasa Handarbeni”. Selama ini apa saja yang sudah diberikan kita semua kepada pelayanan gerakan pemuda ini ? Ambil satu contoh saja guna menggambarkan Rasa Handarbeni ini. Sepanjang yang sama-sama kita dengar, lihat dan rasakan, rata-rata paling banyak yang hadir pada setiap ibadah GP itu hanya 10 orang saja. Mana coba kepekaan kita terhadap Ibadah Pelkat GP ini ? Akan dibawa kemana bila kondisinya seperti itu.

Rekan Pemuda Terkasih !
Mengapa kita mesti memiliki Rasa Kepedulian penuh Belas Kasihan ?
Rasa Peduli itu merupakan tugas atau amanat agung dari Tuhan Yesus Kristus kepada seluruh umat pilihannya. Kita tak perlu kok untuk harus memiliki sesuatu dulu baru peduli dengan orang lain. Sama seperti murid-murid dalam bacaan malam ini. Tuhan Yesus tidak menanyakan apa yang tidak dimiliki oleh murid-murid. Jadi sama seperti dengan kita, anak-anak muda di Pancaran Kasih tidak perlu memiliki atau mempunyai sesuatu dahulu baru melakukan aksi peduli. Mari kita tumbuh suburkan inisiatif dan kepekaan dengan melakukan tugas atau amanat agung Tuhan Yesus tersebut melalui aktifitas nyata sebagai pengejawantahan atau perwujudan dari ciri khas Allah yakni Belas Kasihan karena belas kasihan ialah suatu perasaan yang menggerakkan hati sanubari manusia yang disertai dengan adanya dorongan kuat untuk menolong atau membantu sesama melalui apa yang kita miliki. Kekuatan dari sebuah kepedulian adalah melakukan aksi atau tindakan nyata sehingga akan lebih berdaya dari pada hanya duduk, mendengar, melihat, merasakan namun tidak mengambil keputusan untuk menolong atau membantu.

Kita semua sama-sama berharap masing-masing diri kita anggota Pelkat GP di Sektor Jerusalem, Betel, Sion dan Hermon dapat dimampukan memiliki Belas Kasihan dengan dorongan kuat untuk tidak hanya mendengar, melihat dan merasakan akan tetapi dapat memutuskan untuk menolong sesama kita di lingkungan GPIB Pancaran Kasih secara khusus dan masyarakat pada umumnya.

Saya akan akhiri renungan kita malam ini dengan sebuah ilustrasi :
Seorang nenek tua renta dan miskin telah beberapa kali datang kepada seorang hamba Tuhan untuk meminta pertolongan, karena jadual pelayanan hamba Tuhan tersebut begitu padat, ia tak pernah punya waktu untuk melayani nenek tadi. Hamba Tuhan tersebut hanya berjanji akan mendoakannya. Beberapa minggu berselang akhirnya nenek tua dan miskin tadi menulis puisi dan memasukkannya ke kotak surat gereja. Isinya adalah sebagai berikut :
Aku lapar dan kau membentuk kelompok diskusi untuk membicarakan kelaparanku. Aku telanjang dan kau mempertanyakan nilai moral dari penampilanku. Aku sakit dan kau berlutut kepada Tuhan untuk memohon kesembuhanku. Aku tak punya tempat berteduhan dan kau berkhotbah tentang Kasih Tuhan sebagai tempat perteduhan abadi. Aku kesepian dan kau pergi meninggalkanku sendirian untuk berdoa bagiku. Kau tampak begitu suci, begitu dekat dengan Tuhan tetapi aku tetap lapar, telanjang, kedinginan dan kesepian.
Amin

Disampaikan pada Ibadah Pelkat GP GPIB Pancaran Kasih Jumat 16 Nopember 2012
di Sdr. RUDY EVAN HUTAPEA
Bacaan Alkitab : MARKUS 8 : 1-10

Ya ! Dengan Segenap Hatiku : Apakah 4 Kata ini Akan Tetap Bergema Dalam 5 Tahun Kedepan ?

Setelah melalui beberapa kali pembinaan, ibadah reflektif dan pertemuan tatap muka para Pendeta dengan calon majelis, akhirnya pada hari Minggu 4 Nopember 2012 dalam Ibadah sore pukul 18.00 WIB, 127 orang Majelis GPIB Pancaran Kasih diteguhkan. Hujan deras yang turun di seantero Depok mengawali Ibadah Minggu yang dipimpin oleh Ketua III Majelis Sinode GPIB. Pelayan Firman pada Ibadah Peneguhan Diaken dan Penatua periode 2012-2017 adalah Pdt. Drs. Rudi Ririhena, Msi. Pada kesempatan malam itu Diaken yang ditahbiskan untuk periode kali ini sebanyak 65 orang sedangkan untuk Penatua sebanyak 66 orang. Mereka akan melayani di 13 Sektor Pelayanan yang ada pada GPIB Pancaran Kasih Depok.

Para Penatua dan Diaken yang diteguhkan pada Ibadah minggu ini untuk menjadi pelayan di lingkungan GPIB Pancaran Kasih Depok termasuk yang terbaik. Komposisi personalia didalamnya terdapat nama-nama angkatan muda dari Pelayanan Kategorial Gerakan Pemuda. Semangat baru dalam pelayanan yang telah hadir nantinya diharapkan akan melakukan perubahan, melanjutkan dengan inovasi-inovasi baru dalam mempertahankan bahkan meningkatkan pelayanan untuk 5 tahun kedepan.

Ruangan ibadah pada sore itu cukup panas. Jemaat yang hadir banyak yang memakai tata ibadah nya untuk mengusir panas. Hal ini terjadi sebab alat pendingin udara yang biasanya dipakai kelihatannya tidak dinyalakan. Bisa jadi karena Panitia atau Pengurus Gereja menganggap 2 AC portable di kiri kanan Balkon sudah dapat mendinginkan ruangan. Padahal nyatanya tidak demikian.

Meskipun keadaan ruangan cukup panas, jawaban iman atas pertanyaan Pelayan Firman dari atas mimbar kepada seluruh Majelis yang ditahbiskan ”Ya Dengan Segenap Hatiku” tetap diucapkan dengan lantang dihadapan Tuhan dan JemaatNya. 4 kata sakti yang diucapkan para Diaken dan Penatua dalam perjalanannya masih perlu dibuktikan. Malam ini merupakan awal dari perjalanan panjang pelayanan untuk 5 tahun kedepan yang semakin hari tuntutan jemaat semakin tinggi. Ladang pelayanan di 13 Sektor siap untuk digarap dengan pelbagai permasalahan yang akan dijumpai. Apakah jawaban iman yang diucapkan lantang penuh ketulusan akan terus menggema dalam hati dan pikiran para pelayan ? Semua perlu bukti dalam aksi nyata melayani jemaat Pancaran Kasih. Dengan kekuatan dari Roh Kudus kiranya janji Iman masing-masing Presbiter akan tetap menyala-nyala untuk pelayanan yang menjadi tanggung jawabnya.

Dan khusus buat diri saya kiranya Allah Bapa disurga memberikan kekuatan dengan Roh Kudus bagi setiap pelayanan yang akan saya jalani. Pelayanan 5 tahun kedepan untuk kali yang kedua ini kiranya dapat lebih berkualitas lagi. Saya berharap dapat mempertahankan dan meningkatkan bahwa saya akan senantiasa berbeda serta bertumbuh dalam kualitas iman hari lepas hari seperti yang disampaikan isi khotbah malam itu. Segala kelemahan dalam diri ini akan Tuhan kuatkan dengan Kuasa Roh Kudus. Saya juga berharap diberikan kesehatan dan kekuatan fisik mental agar pelayanan yang diberikan kepada jemaat dapat berlangsung baik dan sesuai harapan Tuhan dan jemaatnya. Terima Kasih Tuhan, saya siap menerima panggilan dan pengutusan ini.

Buat Jemaat mohon bantuan dan kerja sama dalam pelayanan agar nama Tuhan saja pada akhirnya yang akan di permuliakan.

Selamat Melayani buat para Diaken dan Penatua periode 2012-2017 kiranya kerajinan kita tidak pernah kendur dalam mengisi pelayanan kepada jemaat sepanjang periode kali ini.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.403 pengikut lainnya.